Minang Corner

Kisah Penyamun Bukit Tambun Tulang

Padang, Prokabar – Makmur Hendrik memulai cerbung Giring-giring Perak begini;
“PEDATI yang berjalan paling depan tiba-tiba dihentikan. Dua-puluh pedati lainnya yang berjalan di belakang berhenti pula.

”Kenapa berhenti?” Seorang lelaki yang berjalan di sisi pedati yang kesepuluh bertanya pada teman di depannya.

”Entahlah. ” jawab yang ditanya. Pedati yang kesepuluh bertanya pada teman di depannya.
”Entahlah. ” jawab yang ditanya.”

Sebenarnya Bukit Tambun Tulang adalah cerita rakyat dari zaman lebih muda dan amat populer, sedikit di bawah Cindua Mato dari zaman lebih tua.

Tokohnya adalah seorang anak muda yang ibunya diculik oleh Harimau Tambun Tulang. Ia jatuh cinta pada wanita itu. Si anak lalu mencari ibunya kemana-mana. Menurut cerita silat Makmur Hendrik, si penculik, Harimau Tambun Tulang itu tak pernah diketahui. Wajahnya tak pernah terlihat.

Si anak yang oleh Makmur diberi nama Giring-giring Perak, karena di kakinya ada giring-giring, terus berkelana. Bertemulah dia dengan seorang guru silat yang amat sakti.
Setelah mahir bersilat ia minta izin mencari ibunya. Kemana-mana.

Sementara itu penyamunan terus berlangsung. Yang lewat mati atau kalau mau hidup, serahkan semua harta.

Pedati yang tadi hendak lewat adalah awal cerita bagi Giring-giring Perak. Pada saatnya ia bertemu satu lawan satu dengan Harimau Tambun Tulang yang selalu pakai topeng.

Ia berhasil membunuh dan topeng pun terbuka. Ternyata guru silatnya adalah si Harimau itu sendiri.

Kini nyaris tak ada yang tahu lagi nama Bukit Tambun Tulang. (nrs)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top