Minang Corner

Koreograger Ery Mefri Sebut Seni Sumatera Hendak “Dibunuh”

Padang, Prokabar

Koreografer kenamaan Indonesia, Ery Mefri menyebut sudah terasa sentra kesenian Indonesia tumbuh di Sumatera.

“Ini hebat dan mengguncang bagi pelaku seni di wilayah lain, terutama Jawa. Kita bicara dalam konteks ide-ide, kesempatan dan penghargaan internasional,” kata dia di Padang, Minggu (29/4).

Menurut dia, beberapa waktu belakangan telah terjadi upaya “membunuh” Sumatera, namun itu tidak berhasil.
“Sekarang dicoba lagi. Ini kekejaman kedua setelah iven Eropalia,”kata dia.

Awal tahun pada 4 Januari 2018, kata Ery ketika itu IDF meminta link video terbaru karya Nan Jombang Grup. Gunanya untuk referensi kuratorial di IDF 2018 ”

“Karya itu belum dibuka dan belum dilihat siapa-siapa. Bernilai menandai kita bernama manusia.
Belum terjamah semua indra dan kata-kata.
Itu diberikan tanpa praduga dan sangkaan apa-apa,” kata dia
Tapi setelah semua berjalan agak lama tanpa ada berita apa-apa dari yang meminta, tentu timbul pertanyaan kenapa.

“Sebagai jurator dan penyelenggara festival yg wawasannya tentu tak perlu diragukan lagi, mestinya sudah tahu banyak sedikitnya berbentuk apa karya seniman yang akan dilibatkan.”

Meminta dokumentasi karya terbaru seniman yang belum dipentaskan dan apa lagi sedang menjalani proses akhir, tentu punya maksud-maksud tertentu.

“Sepertinyan apakah untuk mengetahui peta kekuatan di luar kerajaan yang ada. Belajar sekaligus dijadikan pedoman untuk para calon dewa yang sedang digadang-gadangkan untuk jadi penguasa dan hakim pertunjukan di negeri ini atau mungkin juga karena punya rencana yang sangat tak dewasa. Saya tak tahu,” kata dia.
Dia curiga hasil karyanya akan dupreteli, padahal selama ini anak Padang dianggap tak ada apa-apanya.

Ia sudah melihat karya-karya tari berkualitas sudah muncul dari Padang dan ditunggu dunia. Ini yang hendak dihabisi.

Sejumlah orang memang tak ingin ada koreografer daerah maju dan diperhitungkan dunia. ” saya melihatnya begitu,” kata Ery.

“Dengan menghambat potensi yang ada dan duduk orang -orang di lingkaran yang berkuasa hingga mampu menghalangi munculnya kualitas yang diyakini akan membuat kalian kehilangan muka.”

Ery berharap ke depan jangan ada lagi upaya jegal menjegal. Yang harus ada diskusi terbuka membincang nilai sebuah karya. (rls)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top