Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said

Penulis -

Rabu, 21 September 2022 - 23:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maninjau, Prokabar – Tokoh ini seperti bersembunyi dalam lipatan sejarah, padahal dialah guru politik pertama Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Tokoh itu: Udin Rahmany.

Sosok ulama, guru dan pejuang asal Maninjau ini, menginspirasi Rasuna, perempuan pertama di Hindia Belanda yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda, 1932.

Udin Rahmany sosok yang nyaris misterius yang sering disebut-sebut banyak tokoh ranah Minang. Tapi, disayangakan, belum ada satu pun tulisan atau keterangan, kecuali namanya menjadi nama Jalan dari Jorong Pasar Maninjau menuju Jorong Bancah, Nagari Maninjau. Jika Anda membuka Danau Maninjau di google, maka sebagian jalan di tepi danau itu terbaca jelas nama tokoh ini.

Dorongan untuk memecahkan misterius itu semakin kuat setelah Bang Khairul Jasmi (Wartawan Senior), meminta mencari informasi tentang Udin Rahmany sampai dapat. “Pasalnya, tokoh pahlawan terlupakan ini merupakan guru Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Pahlawan Nasional Wanita bergelar Singa Betina dari Minangkabau,” ungkap Bang KJ.

Tidak lama kemudian, bertemulah dengan Bunda Hawari Oerdin Rahmany (66), anak kandung dari Udin Rahmany. Ia didampingi Bang Am Sutan Marajo, tetangga dekat Bunda Hawari di Panyinggahan, Jorong Kubu Baru, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Pertemuan spontanitas itu menjadi lentera penerang gelapnya cerita salah seorang pejuang kemerdekaan tersebut. Enam lembaran kertas yang telah tersusun rapi diberikan Bang Am Marajo, merupakan milik Bunda Hawari yang telah dititipkan sebelumnya.

Entah gerak hati atau takdir dipertemukan Illahi, untuk dapat mengungkap sejarah yang hampir hilang. Berharap, perjuangan para terdahulu itu tidak hilang ditelan waktu begitu saja.

Lembaran kertas itu berisi riwayat hidup yang ditulis langsung dengan mesin ketik. Tertulis tanggal pembuatan pada 31 Juli 1973.

Haji Udin Rahmany, lahir pada 5 Januari 1901 di Maninjau. Meninggal pada 12 Agustus 1982, dan dimakamkan di halaman rumahnya, Panyinggahan, Nagari Maninjau.
Sosok seorang guru agama dan pemimpin Thawalib School dan Diniyah School Maninjau (1919 -1933). Beliau merupakan guru pertama Hajjah Rangkayo Rasuna Said.

Perjuangannya selain melawan penjajah dengan dunia pendidikan, juga bergabung di kepengurusan organisasi Sumatra Tawalib Cabang Maninjau dan Pusat (1919 – 1928), hingga menjadi Partai Persatuan Muslim Indonesia (Permi) di Padang.

Tahun 1923 sampai 1925, menjadi Ketua Syarikat Rakyat Cabang Maninjau. Pada tahun 1928 sampai 1933, Haji Udin Rahmany sempat menjadi pemimpin Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) Cabang Maninjau.

Ditangkap Belanda
——————–

Nasib naas dialaminya pada saat Agustus 1933, ditangkap Pemerintah Penjajah Hindia Belanda dan dibui di Payakumbuh. Akhir tahun 1934, putusan pengadilan Belanda berusaha menjatuhi hukuman dengan tuduhan dianggap berbahaya menganut cita-cita merdeka dari Penjajahan Belanda, akhirnya dibuang ke Tanah Merah Boven Digul, Provinsi Papua Selatan sekarang.

Perjalanan dari Payakumbuh menuju Tanah Merah Boven Digul memakan waktu lebih kurang 1 tahun, dari 1934 sampai 1935. Menempuh jalan darat Sumatera menuju Selat Sunda hingga Surabaya, melintasi laut menuju Ambon hingga sampai di Tanah Merah Boven Digul.

Di sana dalam catatannya, ia menceritakan kisah hidup menjadi orang buangan besluit bersama ribuan orang penjuang perintis Kemerdekaan RI di sebuah Constarasi Camp oleh Pemerintah Belanda. Dan kisah perjalanan hidupnya diselimuti pertempuran antara tentara sekutu Australia melawan Jepang. Nasib baik dengan daya tahan dan daya juang, hingga akhirnya kembali ke Tanah Kelahiran Indonesia. Dan berlanjut ikut melawan Agresi Belanda Pertama dan Agresi Belanda Kedua (1948 – 1949).

Jika gurunya dibuang ke Tanah Merah, maka Rasuna Said dan Rasimah Ismail dikirim ke penjara perempuan di Malang. Dua gadis itu dilepas ribuan orang dengan lambaian yang mendebarkan dj Emma Haven. Guru san murid adalah musuh Belanda. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau
Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau
Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina
Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang
Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama
Sarungan, Cara Melawan Kompeni
Catatan Singkat Bencana Alam Di Danau Maninjau
Ketika Haji Rasul Bergumam Pelan, Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un

Berita Terkait

Rabu, 21 September 2022 - 23:07 WIB

Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said

Rabu, 21 September 2022 - 21:30 WIB

Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau

Kamis, 15 September 2022 - 16:15 WIB

Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau

Senin, 11 Oktober 2021 - 12:18 WIB

Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina

Sabtu, 9 Oktober 2021 - 19:12 WIB

Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB