Agam, Prokabar – Diawali seorang Sarjana Pelopor Penggerak Pembangunan Desa atau SPPPD dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Sumatra Barat pada tahun 1990-an, Yulinus sekaligus Sarjana Perikanan Universitas Bung Hatta (UBH) memulai usaha perikanan di Danau Maninjau.
Awalnya tidak sedikit orang mencemooh sampai menyindir sinis usaha Keramba Jaring Apung (KJA) saat itu.
Ada orang mengatakan, beliau berasal dari Nagari Koto Gadang Anam Koto, ada pula yang menyebutnya berasal dari Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya.
Lepas dari persoalan itu, dari proses usaha perikanan yang dilakukan sempat mengalami banyak rintangan. Alhasil, Keramba Jaring Apung akhirnya membuahkan hasil setelah mendapat pengembangan penjualan ke Pasaman sampai ke Medan.
Baca Juga : Miswardi: KJA Sumber Kehidupan Masyarakat Danau Maninjau
Begitulah kisah itu dituturkan Azmid Nur atau lebih dikenal Pak Leman atau Pak Amik, warga Jorong Tanjung Sani, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam kepada Prokabar beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, ia bersama Yulinus berhasil mengembangkan usaha KJA bersama organisasi Islam Muhamaddiyah Ranting Tanjung Raya.
Usaha itu ikut dimodali Pak Gani warga Koto Gadang yang pada saat itu beliau berkerja di Pemda Padan.
Bibit ikan Danau Maninjau perdana yang berhasil dipasarkan ke Rao melalui Buyuang Tabek di Jorong Lansek Kodok, kemudian dibantu Pak Haji Ruslan.
Setelah ke Pasaman, Pak Amik dan tim menjajaki Kota Solok (Tanah Garam) Kiliran Jao, lanjut ke Koto Baru, hingga sampai ke Mauro Bungo. Di sini ia buat kolam ke Bangko ke Soro Langun bersama Haji Taufik.
“Di Rao, Pasaman Timur, ada kolam pamberok, kolam bibit kecil dibawa ke Maninjau, yang sortiran besar dibawa ke Padang Sidimpuan,” ungkapnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya
















