Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau

Penulis -

Kamis, 15 September 2022 - 16:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – Diawali seorang Sarjana Pelopor Penggerak Pembangunan Desa atau SPPPD dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Sumatra Barat pada tahun 1990-an, Yulinus sekaligus Sarjana Perikanan Universitas Bung Hatta (UBH) memulai usaha perikanan di Danau Maninjau.

Awalnya tidak sedikit orang mencemooh sampai menyindir sinis usaha Keramba Jaring Apung (KJA) saat itu.

Ada orang mengatakan, beliau berasal dari Nagari Koto Gadang Anam Koto, ada pula yang menyebutnya berasal dari Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Lepas dari persoalan itu, dari proses usaha perikanan yang dilakukan sempat mengalami banyak rintangan. Alhasil, Keramba Jaring Apung akhirnya membuahkan hasil setelah mendapat pengembangan penjualan ke Pasaman sampai ke Medan.

Baca Juga : Miswardi: KJA Sumber Kehidupan Masyarakat Danau Maninjau

Begitulah kisah itu dituturkan Azmid Nur atau lebih dikenal Pak Leman atau Pak Amik, warga Jorong Tanjung Sani, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam kepada Prokabar beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Ia mengatakan, ia bersama Yulinus berhasil mengembangkan usaha KJA bersama organisasi Islam Muhamaddiyah Ranting Tanjung Raya.

Usaha itu ikut dimodali Pak Gani warga Koto Gadang yang pada saat itu beliau berkerja di Pemda Padan.

Bibit ikan Danau Maninjau perdana yang berhasil dipasarkan ke Rao melalui Buyuang Tabek di Jorong Lansek Kodok, kemudian dibantu Pak Haji Ruslan.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Setelah ke Pasaman, Pak Amik dan tim menjajaki Kota Solok (Tanah Garam) Kiliran Jao, lanjut ke Koto Baru, hingga sampai ke Mauro Bungo. Di sini ia buat kolam ke Bangko ke Soro Langun bersama Haji Taufik.

“Di Rao, Pasaman Timur, ada kolam pamberok, kolam bibit kecil dibawa ke Maninjau, yang sortiran besar dibawa ke Padang Sidimpuan,” ungkapnya.

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB