Opini

Ketika Haji Rasul Bergumam Pelan, Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un


Gempa Besar Padang Panjang 1926

Dibaca : 874

Penulis: Januardi, SS, Msi
(Kabid Litbang Bappeda Pemko Padang Panjang)

HAJI Rasul tercenung selepas menerima kabar barusan. Pandangannya menerawang, dadanya buncah, ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Innalillahiwainna ilaihi raji’un” gumamnya pelan.

Sebagai seorang ulama besar dengan ilmu yang dalam, Haji Rasul atau Inyiak Rasul sangat memahami situasi yang terjadi di Padang Panjang saat itu sebagai sebuah ketetapan Allah yang harus diterima dengan sabar. Namun sebagai manusia biasa, ayahanda Buya Hamka itu juga tak bisa menepis kekhawatirannya akan keselamatan keluarga dan orang-orang yang disayanginya di Padang Panjang.

Bagaimana kondisi keluarganya di Gatangan, apakah mereka selamat?, bagaimana dengan murid-muridnya di Jembatan Besi?, bagaimana keadaan penduduk Padang Panjang yang lain ? Pertanyaan itu silih berganti di kepalanya.

Perjalanan dari Medan kemarin pagi bersama beberapa teman dilalui dengan perasaan lapang dan gembira, Haji Rasul baru saja kembali dari Mesir setelah dianugrahi gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar.

Beliau pulang ke Padang Panjang dengan perasaan bangga dan berharap gelar itu akan memotivasi murid-muridnya di Thawalib. Tapi kabar pagi ini mengubah suasana hatinya seketika, seseorang mengabarkan pada beliau, kalau Padang Panjang dilanda gempa besar sehari sebelumnya.

Ditelusurinya kabar itu melalui surat kabar yang beredar di Sibolga pagi itu. Benar ternyata, Padang Panjang, kota yang telah didiaminya belasan tahun belakang ini, tempat dia membesarkan Surau Jembatan Besi hingga menjadi Sumatra Thawalib dan Muhammadiyah baru saja diguncang gempa dahsyat. Dari informasi yang diterima banyak penduduk yang tewas tertimbun puing, bangunan banyak yang roboh, jalan-jalan terbelah.

*******

28 Juli 1926 adalah salah satu hari paling kelam dalam sejarah Padang Panjang. Pagi itu sekitar jam 10.25 Wib, ketika masyarakat sibuk beraktifitas di hari Senin, hari ‘balainya’ Padang Panjang, Gemuruh gempa utama (main shock) berkekuatan 7,6 SR mengguncang kota berudara sejuk itu.

Gerakan menghentak vertikal terjadi secara tiba-tiba mengaduk-aduk perut bumi Padang Panjang dan terjadi cukup lama, demikian harian Sin Po menggambarkan kondisi saat itu. Gempa susulan (after shock) dengan goncangan yang lebih dahsyat terjadi beberapa jam kemudian sekitar jam 13.15 Wib, dengan kekuatan 7,8 SR.

Halaman : 1 2 3 4 5

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top