Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Gempa Besar Padang Panjang 1926: Ketika Haji Rasul Bergumam Pelan, Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un

Dibaca : 535

Penulis: Januardi, SS, Msi
(Kabid Litbang Bappeda Pemko Padang Panjang)

HAJI Rasul tercenung selepas menerima kabar barusan. Pandangannya menerawang, dadanya buncah, ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Innalillahiwainna ilaihi raji’un” gumamnya pelan.

Sebagai seorang ulama besar dengan ilmu yang dalam, Haji Rasul atau Inyiak Rasul sangat memahami situasi yang terjadi di Padang Panjang saat itu sebagai sebuah ketetapan Allah yang harus diterima dengan sabar. Namun sebagai manusia biasa, ayahanda Buya Hamka itu juga tak bisa menepis kekhawatirannya akan keselamatan keluarga dan orang-orang yang disayanginya di Padang Panjang.

Bagaimana kondisi keluarganya di Gatangan, apakah mereka selamat?, bagaimana dengan murid-muridnya di Jembatan Besi?, bagaimana keadaan penduduk Padang Panjang yang lain ? Pertanyaan itu silih berganti di kepalanya.

Perjalanan dari Medan kemarin pagi bersama beberapa teman dilalui dengan perasaan lapang dan gembira, Haji Rasul baru saja kembali dari Mesir setelah dianugrahi gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar.

Beliau pulang ke Padang Panjang dengan perasaan bangga dan berharap gelar itu akan memotivasi murid-muridnya di Thawalib. Tapi kabar pagi ini mengubah suasana hatinya seketika, seseorang mengabarkan pada beliau, kalau Padang Panjang dilanda gempa besar sehari sebelumnya.

Ditelusurinya kabar itu melalui surat kabar yang beredar di Sibolga pagi itu. Benar ternyata, Padang Panjang, kota yang telah didiaminya belasan tahun belakang ini, tempat dia membesarkan Surau Jembatan Besi hingga menjadi Sumatra Thawalib dan Muhammadiyah baru saja diguncang gempa dahsyat. Dari informasi yang diterima banyak penduduk yang tewas tertimbun puing, bangunan banyak yang roboh, jalan-jalan terbelah.

*******

28 Juli 1926 adalah salah satu hari paling kelam dalam sejarah Padang Panjang. Pagi itu sekitar jam 10.25 Wib, ketika masyarakat sibuk beraktifitas di hari Senin, hari ‘balainya’ Padang Panjang, Gemuruh gempa utama (main shock) berkekuatan 7,6 SR mengguncang kota berudara sejuk itu.

Gerakan menghentak vertikal terjadi secara tiba-tiba mengaduk-aduk perut bumi Padang Panjang dan terjadi cukup lama, demikian harian Sin Po menggambarkan kondisi saat itu. Gempa susulan (after shock) dengan goncangan yang lebih dahsyat terjadi beberapa jam kemudian sekitar jam 13.15 Wib, dengan kekuatan 7,8 SR.

Hari itu Padang Panjang terkoyak dan luluh lantak, remuk redam di segala penjuru. Gempa itu tak hanya terjadi di Padang Panjang, tapi juga dirasakan dan menimbulkan kerusakan di Agam, Lubuk Alung, Batipuh X Koto, Solok bahkan Alahan Panjang.

Nun jauh, 14 Km di timur Padang Panjang, tepatnya di Sumpu tepian Danau Singkarak, seorang bocah 13 tahun, seumuran anak kelas 1 SMP mengambarkan suasana gempa saat itu.
“Saat sedang bermain dengan teman-teman sekira jam 10 pagi, terdengar bahana gemuruh dan deruman dahsyatnya,

Dan pada detik itu juga tanah seluruhnja goyang, goncang hebat sekali. surau, rumah-rumah kampung, pohon-pohonan dan batang-batang kelapa bergegar-gegar, berayun-ayun menakutkan. “Kami terhuyung-huyung, tak kuat berdiri. Badan kami gemetar sekudjurnya, keringat dingin meresap keluar, bibir puca tak berdarah, napas tertahan-tahan dan tak beraturan,”

Tak berapa lama setelah gempa pertama, datang lagi gempa kedua. “Tiba-tiba berguncang lagi, begitu berulang-ulang, kadang besar kadang kecil, kehilangan akal, kami semua berlari…,”

Begitulah Muhammad Radjab melukiskan suasana gempa besar 94 tahun silam. yang dituangkannya dikemudian hari di sela-sela tugasnya sebagai seorang jurnalis di Kantor Berita Antara, dalam memoarnya yang berjudul “Semasa Kecil di Kampung 1913 -1928” yang diterbitkan oleh PN Balai Pustaka tahun 1974.

Dengan daya khayalnya yang tinggi layaknya remaja ‘jolong gadang’, Radjab bersama teman-temannya mengira goncangan hebat itu akibat komet yang jatuh di Amerika dan goncangannya terasa sampai ke Sumpu. Tapi beberapa hari kemudian bocah itu baru paham ketika mengetahui kabar Padang Panjang telah hancur oleh gempa besar.

**********

Gempa besar tahun 1926 adalah salah satu peristiwa bencana alam dahsyat yang dialami Padang Panjang, peristiwa yang tak akan bisa dilepaskan dari sejarah Padang Panjang dan juga mungkin salah satu peristiwa yang akan selalu lekat dalam ingatan dari generasi ke generasi berikutnya.

Posisi Kota Padang Panjang memang berada persis di punggung naga geologi raksasa yang bernama Patahan Semangko (Semangko Fault) atau disebut juga Sesar Sumatera. Patahan sangat aktif di daratan yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua, membentang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, dari Teluk Semangka di Selat Sunda sampai ke wilayah Aceh di utara melintasi Liwa, Padang Panjang, Tarutung dan Aceh.

Penelitian di kemudian hari menyatakan bahwa gempa 28 Juni 1926 dengan epicentrum di Padang Panjang itu terjadi karena aktifitas Patahan Semangko tersebut, tepatnya pada segmen Sesar Sianok yang dikatakan bergerak 14 mm per tahun.

Peristiwa dahsyat 94 tahun silam itu menimbulkan kerusakan hebat diseluruh penjuru kota, ratusan rumah hancur terutama yang berstruktur beton, termasuk rumah Asisten Resident juga mengalami rusak berat.

Digambarkan jalan-jalan terbelah, Sebagian jembatan terputus, rel kereta api melengkung tak beraturan, stasiun kereta api dan pasar porak poranda. Ratusan rumah penduduk, gedung penjara, sekolah-sekolah rubuh. Bahkan Gedung Sekolah Sumatera Thawalib dan Diniyah pun tak luput dari kerusakan yang membuat aktifitas belajar mengajar di kedua lembaga pendidikan itu terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.
Konon di Pasar Usang air membusar dari perut bumi disela-sela rengkahan tanah. Gempa besar itu juga menimbulkan gelombang tsunami di danau Singkarak, catatan menunjukan terjadi penurunan dasar danau sekian meter di bagian selatan, yang memicu tsunami dengan perkiraan kecepatan 120 Km per jam ke arah tepian utara dan menghancurkan rumah-rumah dan menimbulkan banyak korban penduduk di area tersebut.

Koran Dagblad Radio dan Soeara Koto Gedang terbitan 7 Juli 1926 memprediksi jumlah korban jiwa mencapai hampir 1000 orang di seantero Sumatera Barat, mengingat parahnya kerusakan dan banyak penduduk yang tertimbun di bawah puing bangunan. Sedangkan bangunan yang rusak diperkirakan mencapai 2.383. Data resmi untuk korban di Padang Panjang sendiri dilaporkan sebanyak 354 penduduk tewas.

Resident Sumatra Barat saat itu, merasa perlu berkunjung dan menginap di Padang Panjang untuk mengecek kondisi lapangan dan menyaksikan betapa parahnya kerusakan yang terjadi. Bahkan Whitlaw pun ikut merasakan gempa susulan demi susulan selama di Padang Panjang karena getaran gempa berlangsung selama beberapa hari.

Sang Resident atau setara Gubernur saat ini segera berkirim kabar ke Gubernur Jendral di Buitenzorg (Bogor) tentang kondisi kerusakan di Padang Panjang. Pemerintah Kolonial Belanda baru dapat mengerahkan bantuan mulai tanggal 3 Juli 1926 dengan mengerahkan kekuatan militer untuk memasok bantuan dan penanganan darurat di daerah terdampak.

Kendala terbesar saat itu adalah menjangkau daerah pedalaman karena transportasi darat yang nyaris lumpuh karena kerusakan pada badan jalan dan rel kereta api. Kedahsyatan gempa di senin kelabu itupun tersiar keluar negeri yang memicu turunnya bantuan dari pihak-pihak luar yang disalurkan melalui Resident di Padang.

Laiknya setiap tragedi, manusia sering mengaitkan bencana yang terjadi dengan ulah dan perangai manusia. Muhammad Radjab menulis bahwa ayahnya mengatakan dunia akan kiamat,
“Dia menasehati orang-orang kampungnya di Nagari Sumpur, yang sedang meringkuk di surau agar bertawakal,” tulis Radjab

Radjab mengingat, orang-orang kampungnya ketakutan, langsung mengumandangkan takbir atau seruan minta pengampunan kepada Tuhan, Surau penuh sesak oleh orang yang akan melaksanakan sholat berjamaah.

Di Padang Panjang sendiri berkembang pemikiran masyarakat bahwa gempa besar itu terjadi karena Tuhan murka dengan maraknya konflik saat itu. Kaum tua dengan kaum muda reformis, apalagi dengan kemunculan dan berkembangnya kelompok komunis pada awal 1920 yang digagas Datuk Batuah yang notabene salah satu murid Haji Rasul yang berwatak radikal.

Kelompok merah yang terkenal dengan pemikiran revolusioner itu mewarnai atmosfir pergerakan saat itu. Walaupun paham komunis mereka pakai sebagai alat perjuangan melawan penjajah, tetapi kelompok ini juga berkonflik dengan Muhammadyah yang baru berkembang dan dengan Haji Rasul sendiri yang notabene adalah guru mereka.

Mungkin betul juga apa yang diduga penduduk Padang Panjang saat itu, kalau Tuhan marah melihat komunis tumbuh di Negeri Serambi Mekah, marah ketika murid melawan pada guru-gurunya, marah melihat anak muda berdebat bersitegang urat leher dengan orang tua, marah pada pribumi yang menjilat pada penjajah Belanda, marah melihat hedonisme pejabat kolonial dari hasil menjajah pribumi.

*********

Haji Rasul termangu di depan puing rumahnya di Gatangan, apa yang dikhawatirkannya sepanjang perjalanan akhirnya terbukti. Rumah tempat beliau bernaung bersama keluarga hancur begitupun Sekolah Sumatra Thawalib yang dirintisnya bersama Abdullah Ahmad juga mengalami kerusakan berat.

Gelar kehormatan Doktor Honoris Causa yang baru diterimanya tempo hari dari Universitas Al Azhar tak mampu mengobati kegundahannya atas musibah yang terjadi dan ratusan orang yang tewas. Tetapi untung tak ada satupun keluarganya yang meninggal karena musibah itu. Untuk keamanan keluarganya, Haji Rasul menyuruh mereka pulang ke Maninjau sementara waktu.

Di tempat lain, tak jauh dari Gatangan, Diniyah School juga berduka. Mereka baru saja membangun gedung baru secara bergotong royong, karena daya tampung asrama tak lagi mencukupi dengan banyaknya murid di sana. Tapi apa daya, gempa telah meluluhlantakan gedung baru dan gedung lama yang mereka bangun dengan susah payah itu.

Bahkan salah satu murid Diniyah dari Agam tewas tertimpa bangunan. Melihat parahnya kondisi saat itu, Rahmah El Yunusiah, Sang Kartini Minangkabau itu memerintahkan seluruh muridnya untuk pulang ke rumah dan kampung masing-masing.

Hal yang sama juga diikuti juga oleh murid-murid Thawalib, bahkan para perantau yang bermukim di Padang Panjang pun banyak yang keluar dari Padang Panjang. Aliran manusia keluar dari Padang Panjang saat itu digambarkan Rahmah seperti rombongan kafilah di Padang Sahara.

(Dari berbagai sumber)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top