Ramadan 1440 H

Mengintip Khusyuknya I’ktikaf Di Masjid Tertua di Sumatera Barat

Padang, Prokabar — I’tikaf atau lebih dikenal masyarakat dengan berdiam diri di masjid sembari melakukan sejumlah amal ibadah lain dalam waktu tertentu.

I’ktikaf merupakan bagian ibadah yang kerap dilaksanakan masyarakat saat bulan suci Ramadan, terutama di sepuluh malam terakhir. Hal karena dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.

Di Padang sendiri, dalam beberapa tahun belakang ini sejumlah masjid mulai banyak yang mengundang masyarakat untuk melaksanakan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadan, bahkan sejumlah masjid besar juga turut menyediakan sahur seperti di Masjid Baiturahmah Padang, Masjid Jihad di kawasan Sudirman, Masjid Raya Sumatera Barat, Masjid Nurul Iman dan sejumlah masjid lainnya.

Sementara itu, kegiatan sedikit berbeda dapat kita jumpai jika melaksanakan i’ktikaf di Masjid Raya Ganting Sumatera Barat. Di Masjid tertua ini di Sumbar ini, pengurus menyiapkan sejumlah program keagamaan yang bisa dilaksanakan secara berjamaah saat masyarakat ikut serta i’ktikaf sehingga tidak hanya sekedar melakukan amal (ibadah) sendiri-sendiri.

Dari pengalaman Prokabar selama dua hari di Masjid tersebut, para jamaah mulai berdatangan mulai pukul 22.00 WIB. Dan biasanya ada yang melaksanakan sejumlah amalan seperti tadarus Alquran, zikir dan salat sunnat dan sebagian ada yang beristirahat.

Namun nanti saat pukul 00.00 atau setengah satu, para jamaah yang telah datang mengadakan mudzakarah atau duduk bersama membahas dan mempelajari tentang ilmu agama yang disampaikan oleh salah seorang ustaz.

Lalu usai mudzakarah pada pukul 02.00 WIB, para jamaah bersiap-siap dengan memperbaharui wudu’ untuk melaksanakan salat tahajud berjamaah yanh diselenggarakan sebanyak delapan rakaat yang dibagi per dua rakaat, dengan bacaan satu juz dalam sekali pelaksanaan salat.

“I’tikaf di Masjid Raya Ganting di mulai pada malam ke 20, sejumlah program kita siapkan seperti mudzakarah Aqidah Ahlussunah wal jama’ah dan Sifat 20. Lalu dilanjutkan salat tahajud berjamaah yang diimami Ustaz Hasyim Muhammad As Shiddiqi Al Hafidz,” ungkap Dedek Nuzul, pengurus Masjid Raya Ganting.

Usai tahajud dan beristirahat sejenak, kegiatan dilanjutkan dengan makan sahur bersama. Berbeda dengan masjid-masjid lain, di Masjid Raya Ganting para jamaah makan bersama menggunakan nampan sebagaimana sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Pengurus menyediakan makan sahur namun bagi jamaah yang ingin membawa makan sendiri juga diperbolehkan,” sambungnya.

Setelah sahur, para jamaah sebagian besar ada yang bercengkrama dan bermusyawarah menjelang menunggu masuknya waktu salat subuh. Sebagian besar jamaah baru kembali kerumah masing-masing usai kegiatan tausiyah (ceramah) subuh untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. (hdp)

Berani Komen Itu Baik

Loading...
To Top