Mensyukuri Udara Segar, Menjaga Alam, dan Merawat Empati Kemanusiaan

Penulis -

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh :  Sidi Novi Zulfikar

Ada kalanya kita lupa mensyukuri sesuatu yang sesungguhnya sangat berharga dalam kehidupan kita. Kita dapat bangun pada pagi hari, menghirup udara segar dengan bebas, memandang hijaunya pepohonan di perbukitan, menikmati sejuknya udara pegunungan, serta menyaksikan aliran sungai yang jernih. Semua itu seolah-olah menjadi hal yang biasa, padahal di baliknya terdapat anugerah alam yang sangat besar bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Bayangkan ketika kita masih bisa menghirup udara segar tanpa harus terganggu oleh asap dan kabut kebakaran lahan yang berasal dari daerah lain. Kita dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman, anak-anak dapat bermain di luar rumah, dan masyarakat dapat bekerja tanpa harus dihantui oleh udara yang tercemar. Bukankah semua itu patut kita syukuri?

Namun, rasa syukur terhadap alam tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Rasa syukur seharusnya tumbuh menjadi kesadaran untuk menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan yang telah memberikan begitu banyak manfaat bagi kehidupan kita.

Alam bukan sekadar hamparan tanah yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Alam merupakan ruang kehidupan yang menghubungkan manusia dengan sesamanya, dengan berbagai makhluk hidup lainnya, serta dengan seluruh unsur yang membentuk keseimbangan alam semesta.

Alam yang terawat adalah sumber kehidupan

Kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan manusia ketika lingkungan di sekitarnya masih terjaga dengan baik. Pepohonan tumbuh menghijau di perbukitan dan pegunungan. Hutan menjadi tempat hidup berbagai jenis satwa. Sungai mengalir membawa air yang jernih, sementara tanah mampu menyerap dan menyimpan air untuk memenuhi kebutuhan kehidupan.

Keadaan seperti ini bukan hanya memberikan keindahan bagi mata yang memandangnya, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi manusia. Pepohonan membantu menyerap karbon dioksida dan menyimpan karbon, vegetasi membantu menjaga tanah dari erosi, sedangkan hutan dan kawasan tangkapan air berperan penting dalam mengatur aliran air. Lingkungan yang sehat juga mendukung keberlangsungan kehidupan berbagai makhluk hidup.

Ketika alam terjaga, manusia turut merasakan manfaatnya. Udara menjadi lebih baik, sumber air dapat dipertahankan, dan lingkungan lebih mampu menghadapi berbagai tekanan alam. Karena itu, menjaga alam sesungguhnya bukan hanya tentang menyelamatkan pepohonan atau mempertahankan kejernihan sungai, melainkan juga menjaga kualitas kehidupan manusia itu sendiri.

Kewajaran berupa udara segar, air yang bersih, dan lingkungan yang nyaman akan lebih mungkin kita nikmati apabila manusia mampu memperlakukan alam secara bijaksana. Kita tidak bisa terus-menerus mengambil manfaat dari alam tanpa memikirkan bagaimana keberlangsungannya pada masa mendatang.

Di sinilah rasa syukur menemukan maknanya. Kita bersyukur bukan hanya karena masih dapat menikmati keindahan alam hari ini, tetapi juga karena memiliki kesempatan untuk menjaga agar keindahan dan manfaat tersebut tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Ketika keuntungan mengalahkan kesadaran kemanusiaan

Persoalan mulai muncul ketika manusia menempatkan keuntungan atau cuan sebagai tujuan utama, sementara dampak kerusakan lingkungan dianggap sebagai persoalan yang dapat diabaikan.

Kita dapat melihat bagaimana aktivitas pertambangan ilegal berpotensi merusak bentang alam, mengubah kondisi tanah, dan mencemari aliran air. Begitu pula pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat menimbulkan kebakaran meluas, menghasilkan asap, serta mengganggu kesehatan masyarakat. Penebangan pohon secara ilegal juga dapat mengurangi tutupan hutan dan meningkatkan risiko erosi serta gangguan terhadap tata air.

Semua itu memperlihatkan bahwa tindakan manusia terhadap alam tidak pernah berdiri sendiri. Ada rangkaian akibat yang dapat menjalar dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ketika hutan dibakar, asapnya tidak selalu berhenti di wilayah tempat kebakaran terjadi. Angin dapat membawa asap melintasi batas daerah, sehingga masyarakat yang tidak melakukan pembakaran pun ikut merasakan dampaknya. Mereka yang berada jauh dari sumber kebakaran dapat kehilangan kenyamanan menghirup udara segar, bahkan menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Demikian pula ketika hutan ditebang tanpa memperhatikan kelestariannya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Kerusakan kawasan hulu dapat memengaruhi aliran air, meningkatkan ancaman erosi, dan memperbesar risiko bencana dalam kondisi tertentu.

Lalu, siapa yang sesungguhnya memperoleh keuntungan dan siapa yang harus menanggung kerugiannya?

Pertanyaan ini patut kita renungkan bersama. Jangan sampai keuntungan hanya dinikmati oleh segelintir orang, sedangkan dampak kerusakan harus ditanggung oleh masyarakat luas. Jangan pula kita membiarkan kepentingan ekonomi jangka pendek mengorbankan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi yang akan datang.

Mencari keuntungan melalui kegiatan ekonomi pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Manusia membutuhkan pekerjaan, usaha, dan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi, kegiatan ekonomi seharusnya dijalankan dengan memperhatikan hukum, tanggung jawab sosial, serta kelestarian lingkungan. Keuntungan yang diperoleh dengan mengabaikan keselamatan orang lain dan merusak sumber kehidupan perlu dipertanyakan kembali nilai kemanusiaannya.

Empati kemanusiaan harus melampaui batas wilayah

Menurut saya, persoalan lingkungan pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis, ekonomi, atau penegakan hukum. Lebih jauh dari itu, persoalan lingkungan juga berkaitan dengan kesadaran dan empati kemanusiaan.

Mengapa demikian? Karena ketika seseorang benar-benar mampu merasakan penderitaan orang lain, ia akan berpikir berulang kali sebelum melakukan tindakan yang berpotensi mencelakakan sesamanya.

Seseorang yang memiliki empati akan membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang tua yang khawatir terhadap kesehatan anaknya akibat asap kebakaran. Ia akan memikirkan bagaimana perasaan masyarakat yang kehilangan sumber air bersih akibat pencemaran. Ia juga akan mencoba memahami kesulitan petani yang lahan dan sumber penghidupannya terdampak kerusakan lingkungan.

Empati membuat manusia tidak hanya melihat keuntungan dari sudut pandang dirinya sendiri. Ia juga belajar melihat akibat dari tindakannya melalui kehidupan orang lain.

Jika kesadaran semacam ini tumbuh dalam diri setiap manusia, menjaga alam tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang membebani. Sebaliknya, menjaga alam akan menjadi bagian dari tanggung jawab moral dalam menjalani kehidupan bersama.

Kita tidak harus menunggu menjadi korban bencana untuk memahami penderitaan orang lain. Kita tidak harus menunggu udara di sekitar tempat tinggal kita dipenuhi asap untuk menyadari betapa berharganya udara bersih. Kita juga tidak harus menunggu sungai kehilangan kejernihannya untuk mulai memahami pentingnya menjaga sumber air.

Kesadaran itu seharusnya muncul sebelum kerusakan terjadi.

Sebab, empati kemanusiaan yang sesungguhnya tidak berhenti pada rasa kasihan ketika melihat orang lain menderita. Empati harus mampu mendorong lahirnya tindakan nyata agar penderitaan yang dapat dicegah tidak terjadi.

Manusia dan alam semesta adalah bagian dari keterhubungan kehidupan

Dalam pandangan saya, manusia tidak dapat memisahkan dirinya dari alam semesta. Kita hidup karena adanya udara yang dihirup, air yang diminum, tanah yang menghasilkan pangan, dan lingkungan yang menopang kehidupan. Semua itu memperlihatkan bahwa manusia berada dalam suatu keterhubungan yang tidak dapat diabaikan.

Karena itu, kesadaran menjaga alam sesungguhnya merupakan kesadaran untuk menjaga hubungan kehidupan itu sendiri.

Ketika seseorang menebang pohon tanpa memperhatikan kelestarian hutan, ia bukan hanya menghilangkan keberadaan sebatang pohon. Ia juga berpotensi mengganggu habitat makhluk hidup, mengurangi kemampuan lingkungan menyimpan karbon, dan memengaruhi kondisi tanah serta air.

Ketika seseorang membakar lahan demi membuka kawasan baru tanpa memperhitungkan risikonya, ia bukan hanya menghasilkan asap di suatu tempat. Ia dapat menciptakan persoalan yang harus ditanggung oleh banyak orang, termasuk mereka yang tidak pernah memberikan persetujuan terhadap tindakan tersebut.

Begitu pula ketika aktivitas pertambangan dilakukan secara ilegal tanpa memperhatikan dampaknya, keuntungan yang diperoleh tidak dapat dipisahkan dari risiko kerusakan lingkungan yang mungkin ditinggalkannya.

Semua ini mengajarkan kepada kita bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi yang melampaui kepentingan pribadinya.

Oleh sebab itu, manusia yang memiliki kesadaran terhadap keterhubungan kehidupan akan lebih berhati-hati dalam memanfaatkan alam. Ia memahami bahwa bumi bukan hanya tempat untuk mengambil sumber daya, melainkan ruang bersama yang harus dirawat agar tetap mampu menopang kehidupan.

Kesadaran ini juga mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan alam tidak cukup dibangun melalui aturan dan larangan. Hukum memang diperlukan untuk mencegah pelanggaran dan memberikan sanksi kepada pihak yang merusak lingkungan. Namun, hukum perlu berjalan bersama pendidikan, keteladanan, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral.

Ketika kesadaran tumbuh dari dalam diri manusia, upaya menjaga lingkungan akan memiliki fondasi yang lebih kuat.

Mensyukuri alam berarti ikut menjaga masa depan

Pada akhirnya, kita kembali kepada diri manusia itu sendiri. Apakah kita akan memperlakukan alam hanya sebagai sumber keuntungan, ataukah kita akan melihatnya sebagai amanah kehidupan yang harus dijaga bersama?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tercermin dalam tindakan sehari-hari. Mulai dari tidak membakar sampah dan lahan sembarangan, menanam serta merawat pohon, menjaga kebersihan sungai, menggunakan sumber daya secara bijaksana, hingga berani menolak praktik perusakan lingkungan. Pada tingkat yang lebih luas, diperlukan pula pengawasan terhadap kegiatan pertambangan, perlindungan hutan, penegakan hukum, dan pengelolaan lingkungan yang berpihak pada keselamatan masyarakat.

Kita juga perlu membangun kesadaran bahwa menjaga alam bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau kelompok pemerhati lingkungan. Tanggung jawab tersebut melekat pada setiap manusia, baik sebagai individu, anggota masyarakat, pelaku usaha, maupun pemegang kebijakan.

Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya udara segar setelah asap kebakaran memenuhi langit. Jangan sampai kita baru merindukan hijaunya perbukitan setelah pepohonannya hilang. Jangan pula kita baru memahami pentingnya air bersih setelah sungai tercemar dan sumber air mengalami kerusakan.

Sebelum semua itu terjadi, masih ada kesempatan bagi kita untuk menjaga dan memperbaikinya.

Mensyukuri alam berarti menyadari bahwa kehidupan yang nyaman bukan hanya hasil dari apa yang kita miliki, melainkan juga hasil dari lingkungan yang masih mampu memberikan kehidupan kepada kita. Udara segar, pepohonan yang menghijau, sungai yang jernih, dan tanah yang subur adalah bagian dari kekayaan bersama yang nilainya tidak dapat diukur hanya dengan uang.

Pada akhirnya, manusia yang benar-benar memiliki empati kemanusiaan akan berpikir sebelum merusak, mempertimbangkan sebelum mengambil, dan bertanggung jawab sebelum memperoleh keuntungan. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak seharusnya dibangun di atas penderitaan orang lain, dan kemajuan tidak seharusnya dicapai dengan menghancurkan alam yang menopang kehidupan.

Mari kita rawat alam dengan kesadaran, kita jaga sesama manusia dengan empati, dan kita syukuri setiap udara segar yang masih dapat kita hirup hari ini.

Sebab, ketika manusia mampu menjaga keterhubungannya dengan sesama manusia dan alam semesta, di situlah rasa syukur menemukan wujudnya dalam tindakan nyata. Bukan hanya untuk kehidupan kita sekarang, tetapi juga untuk masa depan generasi yang akan datang.

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:10 WIB

Mensyukuri Udara Segar, Menjaga Alam, dan Merawat Empati Kemanusiaan

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Berita Terbaru