Opini

Medsos dan Kisah dari Pontianak

Vinna Melwanti

Oleh : Vinna Melwanti

Wartawati Senior

Adalah Audrey anak SMP dikeroyok 12 anak SMA di Pontianak. Baik korban atau pelaku semua perempuan. Kasus bermula dari medsos, kini semua akun medsos kontennya membahas mereka.

Beredar informasi, bagian intim Audrey ditusuk. Ia kemudian dirawat di rumah sakit.

Tiga dari 12 anak SMA itu jadi tersangka. Selusin cewek ini dihajar habis-habisan di medsos. Satu persatu para influencer medsos menggalang solidaritas untuk Audrey, semua “rakyatnya” ikut. Meski terlibat kontra antara foto korban blur atau tidak, tapi aksi semangat positif ini harus diapresiasi, terlebih untuk meredam aksi bullying yang kian marak.
Presiden Jokowi pun ikut berkomentar dan bersikap.

Belakangan muncul informasi, tidak ada bagian intim A yang rusak. Info visum dokter kepolisian ini, membuat netizen menginjak rem. Kini netizen yang jutaan itu, berbalik, mengadili korban. Visum sudah dilakukan dua kali, hasilnya nihil. Sekarang orang tua korban, akan meminta dokter lain, agar melakukan visum ulang.

Nah jika hasilnya beda lagi, netizen akan terganga lagi. Mana yang benar? Ini pula yang jadi topik. Sedikit-sedikit viral. Inilah dunia medsos itu.

Negara Opini

Medsos adalah ayunan bertali lapuk. Salah ayun, putus dan Anda jadi korban. Melodi medsos itu bisa membuat netizen terkekeh-kekeh, namun jika tiba masalah hukum positif atau hukum sosial, Anda akan menderita sendirian. Teman tak ikut, keluarga mungkin iya.

Dua hal yang bisa dipelajari dari kasus Audrey dan 12 pelaku. Netizen mencatat: “Jangan berharap sepenuhnya pada pembelaan netijen. Karena kami, para netijen di negara berfollower, sekarang pasang badan, besok bisa serentak balik badan.

Bahwa akun medsos adalah curriculum vitae paling dipercaya dalam menilai kepribadian orang lain. Maka santunlah dalam bermedsos.

Bagaimana selanjutnya?? kita liatin aja sambil makan korengan.” kata Yanie Melko dalam akun FB nya.

Ya, Medsos adalah media tanpa redaktur. Dia punya HP, ditulis sendiri, diposting sendiri. Di medsos itu, “muncuang lapeh-lapeh saja” tanpa peduli akibatnya. Tetiba sekelompok orang bisa jadi kaum moralis dan yang lain jadi pesakitan.

Kasus Pontianak itu, telah berkembang jadi gurita, pers pun terbawa arus besarnya. Padahal klarifikasi fakta perlu. Di sanalah perlunya literasi medsos.

Literasi itu Penting

Medsos rumah tak berkunci, pimpong di atas bukit, kemana angin keras, ke sana arahnya. Seseorang diminta, sabar dan tabah membaca setiap postingan di medsos. Jika terjerembab, tak ada orang lain yang akan menolong, apalagi menemani dalam penjara.

Ada minimal dua hal yang masuk ke medsos. Pertama postingan tulisan, meme, video atau gambar sebagai kabar dusta alias hoaks. Kedua, satu peristiwa kemanusiaan, yang menyita perhatian khayalak, akan cepat menyulut emosi.

Untuk kedua hal itu perlu diperhatikan adalah. Pertama hukum besi jurnalistik yaitu 5 W+1 H. Apa itu, ajukanlah semua pertanyaan, jika informasi yang masuk bisa menjawabnya maka itu, benar. Bisa saja semua terjawab, tapi hanya berita karangan atau khayalan. Untuk mengujinya, mohon bersabar. Periksa dulu beberapa situs berita arus utama. Bertemu? Lihat kapan dipostingkan, pukul berapa, tanggal berapa dan tahun berapa. Jika semua jelas, harus dilihat pula, siapa yang bicara dan dimuat di media online mana.

Panjang kerjanya, ribet. Mana yang lebih ribet dari: mengurus kasus hukum akibat Anda ceroboh di medsos? Atau mana yang lebih susah, mengurus korban bully atau mengurus klarifikasi faktual, disipilin verifikasi? Tabayun?

Tabayun kepada sumber-sumber terpercaya dan jangan lekas “terharu” karena postingan kawan. Tahan diri, lihat situasi.

Susahnya, kalau tidak kita yang pertama, seakan-akan kita tidak hebat. Kalau tak hebat, memang kenapa? Kalau hebat dalam apa?

Maka dalam mengarungi dunia medsos itu, jempol jangan terlalu “bijak dan cipeh.” Di Sumbar sendiri sudah terjadi beberapa kasus, bahkan dijemput Densus 88 segala. Misalnya yang di Padang Panjang tempo hari. Bully membully kawan, adalah buruk, adalah jahat dan bisa merusak masa depan orang lain.

Itulah sebabnya, ingat-ingat UU ITE, ingat KUHP, pencemaran nama baik, ingat bahwa kita bisa lebih banyak salah ketimbang orang lain.

Pelajaran dari kasus medsos di Pontianak itu, bijaklah bermedsos, jangan asal posting saja dan jangan asal memihak saja.  Dengarkan nasihat guru, nasihat tokoh, imbauan pemerintah. Serta kuatkan lagi ilmu literasi kita semua. **

 

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top