Oleh : Rafiatul Hasanah
Mahasiswa UIN Imam Bonjol
Yang menindas sering kali bukan agamanya, tetapi cara manusia memakainya.
Di banyak tempat, kehormatan keluarga sering diletakkan di tubuh perempuan. Cara berpakaian perempuan dianggap mencerminkan martabat keluarga. Cara perempuan berbicara dianggap menentukan moral lingkungan. Bahkan kesalahan laki-laki pun kadang tetap dibebankan kepada perempuan. Ketika terjadi pelecehan seksual, perempuan ditanya soal pakaian. Ketika rumah tangga hancur karena perselingkuhan, perempuan lain lebih sering dihina dibanding laki-laki yang jelas ikut melakukan kesalahan. Aneh sekali, masyarakat begitu keras mengawasi perempuan, tetapi begitu lunak terhadap laki-laki.
Ironisnya, ketimpangan itu sering dibungkus atas nama agama.
Ceramah tentang aurat perempuan jauh lebih ramai dibanding pembahasan tentang kekerasan seksual, korupsi, eksploitasi, atau penyalahgunaan kekuasaan. Seolah-olah dosa terbesar dalam masyarakat adalah tubuh perempuan yang terlihat, bukan ketidakadilan yang nyata terjadi setiap hari. Padahal Islam tidak pernah menyederhanakan moralitas hanya pada pakaian perempuan.
Masalahnya, agama sering dipahami sebatas simbol, bukan nilai.
Orang sibuk memperdebatkan hijab perempuan, tetapi diam terhadap laki-laki yang menghina, memanipulasi, atau menyakiti perempuan. Orang marah melihat perempuan pulang malam, tetapi tidak marah terhadap laki-laki yang membuat jalanan tidak aman bagi perempuan. Moral akhirnya menjadi sangat selektif. Tajam kepada perempuan, tumpul kepada laki-laki.
Kita hidup di masyarakat yang terlalu terobsesi mengontrol perempuan. Tubuh perempuan selalu dijadikan objek pengawasan sosial. Dari kecil perempuan diajarkan untuk duduk yang sopan, bicara yang lembut, jangan terlalu keras tertawa, jangan terlalu bebas berpendapat, jangan terlalu menonjol. Perempuan dipaksa membawa beban kehormatan kolektif, sementara laki-laki lebih sering diberi ruang untuk “memaklumi kesalahan.”
Kalau laki-laki marah, itu dianggap wibawa. Kalau perempuan marah, itu dianggap emosional. Kalau laki-laki ambisius, disebut visioner. Kalau perempuan ambisius, disebut terlalu mengejar dunia. Standar ganda ini begitu normal sampai banyak orang tidak sadar sedang hidup di dalam sistem yang tidak adil.
Sebagian masyarakat menggunakan ayat agama untuk mempertahankan ketimpangan tersebut tanpa memahami konteks dan tujuan utamanya. Ayat tentang kepemimpinan laki-laki dipakai untuk membenarkan dominasi mutlak, tetapi lupa bahwa Islam juga membebankan tanggung jawab besar kepada laki-laki untuk melindungi dan berlaku adil. Ayat tentang ketaatan istri sering dibahas, tetapi kewajiban suami menghormati dan memperlakukan perempuan dengan baik justru jarang dijadikan pusat diskusi.
Padahal jika melihat sejarah, Islam justru hadir melawan budaya patriarki Arab yang sangat brutal terhadap perempuan. Sebelum Islam datang, bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Perempuan tidak punya hak waris. Perempuan diperlakukan seperti barang yang bisa diwariskan. Islam datang membawa perubahan radikal pada masa itu. Perempuan diberi hak hidup, hak pendidikan, hak ekonomi, bahkan hak menyampaikan pendapat di ruang publik.
Tetapi berabad-abad kemudian, sebagian masyarakat justru kembali meminggirkan perempuan dengan cara yang lebih halus.
Perempuan boleh sekolah, tetapi tetap dianggap tidak terlalu penting dibanding laki-laki. Perempuan boleh bekerja, tetapi tetap dibebani seluruh pekerjaan domestik sendirian. Perempuan didorong sukses, tetapi ketika terlalu sukses dianggap mengancam laki-laki. Masyarakat ingin perempuan modern, tetapi tetap tunduk pada standar lama yang mengekang. Perempuan dipaksa berhasil dalam semua peran sekaligus tanpa diberi ruang untuk gagal.
Sementara laki-laki juga sebenarnya menjadi korban sistem patriarki yang sama. Mereka dipaksa menjadi mesin tanpa emosi. Sejak kecil laki-laki diajarkan bahwa menangis itu memalukan. Mereka harus kuat, harus mapan, harus tahan tekanan, bahkan ketika mentalnya hancur. Banyak laki-laki akhirnya tumbuh tanpa kemampuan mengelola emosi karena kerentanan dianggap kelemahan. Patriarki menciptakan laki-laki yang takut terlihat manusiawi dan perempuan yang takut terlihat bebas. Namun masyarakat lebih sibuk mempertahankan tradisi dibanding mempertanyakan apakah tradisi itu masih manusiawi atau tidak.
Media sosial memperparah situasi ini dengan sangat brutal.
Perempuan dipaksa memenuhi standar kecantikan yang nyaris mustahil. Tubuh harus langsing tetapi tetap berisi. Kulit harus putih. Wajah harus mulus. Bahkan ibadah perempuan pun kadang diukur dari penampilannya. Di sisi lain, laki-laki dipaksa mencapai standar maskulinitas yang melelahkan. Harus kaya sebelum umur tertentu. Harus dominan. Harus sukses cepat. Harus selalu percaya diri.
Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah karena ketidakadilan sering diwariskan sejak kecil dan dianggap sesuatu yang normal. Anak perempuan diajarkan menjaga nama baik keluarga, sementara anak laki-laki lebih sering diajarkan menjaga harga diri. Perempuan dibiasakan merasa takut terhadap penilaian sosial, sedangkan laki-laki dibiasakan takut dianggap lemah.
Manusia akhirnya hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memenuhi ekspektasi sosial yang tidak pernah selesai. Yang paling berbahaya, generasi muda tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai manusia bisa diukur dari penampilan dan validasi digital. Mereka belajar lebih takut dihakimi manusia dibanding kehilangan dirinya sendiri. Mereka belajar bahwa menjadi “baik” lebih penting daripada menjadi jujur terhadap kondisi mentalnya sendiri.
Masalah terbesar hari ini bukan perempuan terlalu bebas atau laki-laki terlalu dominan. Masalah terbesar hari ini adalah masyarakat gagal memahami bahwa agama tidak pernah diturunkan untuk mempertahankan penindasan. Dalam situasi seperti ini, agama seharusnya hadir sebagai ruang aman. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak anak muda merasa agama hanya hadir untuk menghakimi tubuh, pilihan hidup, dan kesalahan mereka. Mereka mendengar terlalu banyak larangan, tetapi terlalu sedikit kasih sayang. Mereka melihat terlalu banyak kontrol, tetapi terlalu sedikit empati.
Padahal inti Islam bukan ketakutan, melainkan keadilan dan kemanusiaan. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk hidup dalam ketakutan terhadap penilaian sesama manusia. Islam mengajarkan kemuliaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Namun nilai-nilai itu sering tenggelam karena masyarakat lebih sibuk mempertahankan gengsi moral dibanding membangun empati sosial. Akibatnya, agama yang seharusnya menjadi tempat manusia pulang justru terasa menekan bagi sebagian orang yang terus-menerus dihakimi tanpa dipahami.
Kita terlalu sering menganggap budaya sebagai wahyu.
Banyak orang lebih nyaman mempertahankan tafsir lama karena menguntungkan posisi sosial tertentu. Kritik terhadap budaya patriarki dianggap serangan terhadap agama, padahal yang dikritik sering kali hanyalah cara manusia memakai agama untuk mempertahankan kekuasaan.
Hari ini, perempuan masih harus menjelaskan kenapa mereka ingin didengar. Laki-laki masih harus menyembunyikan emosinya agar dianggap kuat. Semua orang hidup di bawah tekanan standar sosial yang dibuat manusia sendiri. Pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan menjadi perempuan atau laki-laki, tetapi hidup di tengah masyarakat yang lebih sibuk menghakimi daripada memahami.
Ironi terbesar dari semua ini adalah: masyarakat begitu sibuk menjaga citra moral di depan publik, tetapi gagal membangun keadilan di kehidupan nyata.
















