Potret Kegagalan Pendidikan dalam Melahirkan Manusia Beradab

Penulis -

Selasa, 14 April 2026 - 21:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Fathiyah Ikhsani Siregar (Mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang )

 

Kasus yang melibatkan 16 mahasiswa Universitas Indonesia dalam dugaan kekerasan seksual di grup WhatsApp bukan sekadar aib institusi, ini adalah cermin retak dari wajah pendidikan kita hari ini. Di balik gedung megah dan reputasi akademik yang dibanggakan, ternyata masih tumbuh perilaku yang jauh dari nilai kemanusiaan.

Peristiwa ini menampar keras anggapan lama bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula moralnya. Nyatanya, kecerdasan tanpa nurani hanya melahirkan manusia yang canggih dalam berpikir, tetapi tumpul dalam rasa. Mereka tahu apa itu benar dan salah, tetapi memilih untuk melanggar batas kemanusiaan dengan sadar.

Yang lebih menyakitkan, bukan hanya tindakan para pelaku yang memicu kemarahan publik, tetapi juga sikap sebagian orang tua yang menolak anak-anak mereka dikenai sanksi. Bukannya mengajarkan tanggung jawab, mereka justru berdiri di barisan pembela kesalahan. Di titik ini, kita tidak hanya berbicara tentang kegagalan individu, tetapi juga kegagalan nilai yang ditanamkan sejak rumah.

Lebih memprihatinkan lagi, hingga kini belum terlihat langkah tegas yang benar-benar menunjukkan keberpihakan pada keadilan dari pihak kampus. Diamnya institusi dalam kasus seperti ini bukanlah netral, diam adalah sikap. Dan dalam banyak kasus, diam justru menjadi bentuk pembiaran.

Di negeri yang katanya telah merdeka, keadilan masih terasa seperti barang mahal. Sulit diakses, lambat ditegakkan, dan seringkali tidak berpihak pada korban. Korban kekerasan seksual bukan hanya menanggung luka batin, tetapi juga harus menghadapi keraguan, stigma, bahkan tekanan untuk bungkam. Mereka dipaksa kuat di tengah sistem yang tidak selalu berpihak.

Sementara itu, pelaku seringkali memiliki “tameng” dengan dasar status, prestasi, dan jaringan yang siap melindungi. Inilah wajah ketidakadilan yang paling nyata, ketika yang salah dilindungi, dan yang disakiti justru harus membuktikan dirinya layak dibela.

Kita tidak boleh lagi pura-pura tidak melihat. Kasus seperti ini bukan hanya tentang satu kampus, tetapi tentang bagaimana kita sebagai bangsa memandang harga diri manusia. Jika kekerasan seksual masih dianggap bisa dinegosiasikan, maka kita sedang berjalan mundur sebagai masyarakat beradab.

Sudah saatnya kampus dan pihak berwenang berhenti ragu. Tegakkan aturan, jatuhkan sanksi yang setimpal, dan pastikan proses berjalan transparan. Keadilan bukan hanya soal menghukum pelaku, tetapi juga tentang keberanian untuk berdiri di sisi yang benar.

Jangan biarkan kasus ini hilang ditelan waktu. Jangan biarkan pelaku kembali hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Dan yang terpenting, jangan biarkan korban merasa sendirian di negeri sendiri. Karena ketika suara korban terus diabaikan, sesungguhnya yang sedang kita bunuh perlahan adalah rasa kemanusiaan kita sendiri.

Dari perempuan yang menolak diam dan membela kaumnya.

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB