Sejarah

KHITTAH LKAAM, 1966-1972 (4). Dibuat Oleh : Dr. Saafroedin BAHAR

Sampai sekarang saya yakin, bahwa home base yang paling penting bagi warga Minangkabau memang adalah nagari, yang dengan sedih saya saksikan pada saat itu bukan saja sebagian besar warganya telah patah semangat, tetapi juga secara ekonomis bergelimang dengan kemiskinan. Oleh karena itulah saya sangat menghargai kebijakan Panglima Ahmad Junus Mokoginta serta Panglima Poniman, agar nagari-nagari ini dibangun kembali, dengan mengaktifkan peranan ninik mamak pemangku adat, yang secara normatif mempunyai wewenang dalam penggunaan tanah ulayat, dan karena itu dalam bidang sosio-ekonomi.

Banyak yang dapat saya kerjakan sebagai sekretaris LKAAM, dibantu oleh Saudara Arief Azis, antara lain dengan menyiapkan rancangan keputusan-keputusan Mubes LKAAM, untuk memudahkan dan memperlancar pembahasan dalam sidang-sidang yang berlangsung kemudian. Selain itu saya juga memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang makna pepatah-petitih Minangkabau, serta mengenal dari dekat beberapa tokoh ninik mamak, yang karena keluasan dan kedalaman pengetahuannya saya pandang sebagai tokoh luar biasa. Tanpa mengecilkan peranan dari para tokoh ninik mamak pemangku adat lainnya, nama tiga orang tokoh dapat saya sebut di sini. Saya merasa amat berhutang budi kepada ketiga beliau.

Gagasan tentang organisasi LKAAM yang bersifat federatif saya terima dari S.J. Datuk Marajo, orang sekampung saya dari Padang Panjang, yang secara informal memberi saran kepada saya, sewaktu saya sedang ter-bengong-bengong menjelang Mubes bulan Maret 1966, tentang bagaimana caranya menyusun organisasi BKP NM yang nantinya menjadi LKAAM tersebut. Beliaulah yang pertama kalinya menyadarkan saya, bukan saja tentang bagaimana pentingnya nagari di Minangkabau, tetapi juga tentang psikologi orang Minangkabau yang tidak suka diperintah oleh siapa pun juga.

Melalui kontak pribadi yang intensif antara ketua umum dan sekretaris umum, pandangan Baharuddin Datuk Rangkayo Basa, ketua umum LKAAM kedua, sangat mempengaruhi wawasan saya, bukan hanya tentang kedalaman makna adat Minangkabau, tetapi juga tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan sangat cerdas dan indah, beliau menempatkan adat Minangkabau, yang sebelum itu mempunyai citra yang sangat konversatif bahkan reaksioner, ke dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikutnya, Idrus Hakimi Datuk Rajo Penghulu, mantan Walinagari Supayanh, Batusangkar, yang juga alumnus MTI Canduang yang tanpa bandingan mampu mengintegrasikan norma adat Minangkabau dengan nash Al Quran dan Hadist, menyuarakannya selama puluhan tahun di depan corong RRI Padang, serta mengarang dan menerbitkan demikian banyak buku, yang sekarang telah menjadi bagian dari rujukan tentang Minangkabau kontemporer. Beliau kemudian tumbuh menjadi penceramah masalah adat Minangkabau yang andal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga sampai ke Malaysia.
Pengalaman pribadi yang amat intensif dalam upaya membangun kembali nagari setelah keterpurukan berlarut itu merupakan modal yang amat kaya dalam tugas saya membangun Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekbergolkar), yang kemudian menjadi Golongan Karya (Golkar) ‘jilid satu’ di daerah Sumatera Barat, yang fokus kegiatannya juga terletak pada membangun kembali nagari-nagari. Dalam kegiatan ini saya mendukung penuh dan mendampingi kepemimpinan Gubernur Harun Zain, 1966-1976.

Dalam kurun transisi yang penting itu jugalah saya mengenal tokoh-tokoh ninik mamak daerah yang amat aktif dalam kegiatan LKAAM, seperti Datuk Sati nan Balapieh dan Ketua Umum LKAAM yang sekarang, Kamardi Rais Dt Panjang Simulie dari Payakumbuh; Datuk Tumbijo Dirajo dari Padang Panjang, dan Haji Zakaria Nur dari Padang Sibusuk. Memberikan dukungan secara diam-diam dari belakang, Oei Ho Tjeng, seorang veteran pejuang kemerdekaan R.I. dan rekan dari mantan Komandan Front Padang, Letnan Kolonel Kemal Mustafa. (Bersambung)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik

To Top