Tanjung Raya, Prokabar — Islam sebagai agama terkuat dan mutlak diamalkan Suku Bangsa Minangkabau. Sejak dulu, pengamalannya sangat kental hingga ke seluruh pelosok negeri penganut sistem kekerabatan Matriakat ini.
Dulunya, Islam dengan alirannya, didomimasii Tarikat Syatariah dan Tarikat Naqsabandiyah. Islam semakin berkembang sejak Syekh Burhanuddin kembali menyiarkan Islam, setelah belajar banyak dari guru besarnya di Aceh, Syekh Abdur Rauf As-Singkili.
Sejak itu, penyiaran Islam di Ranah Minang terus berkembang pesat. Hal tersebut juga berkembang pesat di Selingkar Danau Maninjau berpusat di Nagari Sungai Batang dulunya. Berkembang sampai ke Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Salah satu bukti kuat perkembangan tarikat Naqsabandiyah di sana adalah, masih berdiri kokohnya Surau Gadang dengan corak arsitektur beratap menjulang tinggi dan bertingkat-tingkat. Memiliki tonggak besar dibagian tengah (tongga macu), disertai 8 tonggak pendampingnya.
Semua bangunan terbuat dan berlantai kayu andalas. Di halaman surau tuo ini selalu ada kolam ikan dan tempat berwuduk. Bangunan tersebut sangat dirawat masyarakat setempat. Sangat langka masih ada surau tua dengan tongga macu yang utuh.
Menurut Haji Lukman Khatib Pamuncak (83), salah satu tokoh agama setempat, Surau Gadang dibangun pada 1800-an oleh Syekh Abdullah. Kemudian dilanjutkan muridnya Haji Hasanuddin. Kedua ulama tersebutlah yang menyiarkan Islam di Koto Baru, Jorong Mudiak, Nagari Duo Koto tersebut.
Ia melanjutkan kayu surau diambil dari hutan daerah Taban, 1 km dari Surau Gadang. “Sulit kita logikakan, membawa tongga macu yang sangat besar itu dibawa melalui tenaga manusia. Apalagi ditambah 8 tonggak pendampingnya yang juga lumayan panjang dan besar,” terangnya.
Konon menurut orang tua-tua dulu lanjutnya, untuk mendirikan tonggak macu yang besar dan tinggi sekitar 10 meter itu dengan zikir. “Orang tua-tua dulu banyak yang kiramat dan sangat dekat dengan Sang Pencipta. Sehingga doa mereka sangat mabrur dan cepat diridhoi Illahi,” ungkap Lukman.
Sementara itu, kegiatan keagamaan setiap malam melaksanakan pengajian, salawat dulang, zikir, dan belajar membaca hingga hafalan Al-Quran. “Dulu di saat zaman pergejolakan, ada tentara yang memanfaatkan surau sebagai tempat persembunyian. Karena sempat berbuat tidak sesuai ajaran Islam, tiba-tiba Ular besar datang dari atas tonggak macu. Seluruh tentara tersebut langsung berhamburan keluar surau,” tuturnya.
Setiap pasukuan seperti Suku Piliang, Caniago, Koto, Guci dan lainnya memiliki surau kecil. Dan masing-masing miliki Kadi, Khatib, Imam dan Bilal. Dan setiap pasukuan mendapat giliran untuk menjadi Imam, Khatib dan Bilal khusus di hari Jum’at (Sholat Jum’at). Dan hal ini melatih masyarakat untuk siap dan taat beragama.
Namun sejak masjid baru telah berdiri, peranan Imam, Khatib dan Bilal di setiap pasukuan, mulai dilakukan regenerasi. “Peranan Imam, Khatib dan Bilal sudah mulai digantikan anak-anak dan remaja. Bertujuan generasi penerus memiliki bekal dan ilmu agama yang lebih baik,” ujar Haji Khatib Pamuncak tersebut.
Tidak hanya itu, di depan halaman surau, terdapat kolam ikan, pemandian dan tempat wuduk. “Mau hujan atau kemarau, air selalu lancar dan tidak pernah keruh. Konon air tersebut berasal dari Bonjol Pasaman,” katanya.
Sementara itu, Walinagari Duo Koto, Joni Safri menambahkan, Surau Gadang merupakan peninggalan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Salah satu bukti sejarah dengan peradapan Islam tempo dulu.
“Surau ini belum terdaftar sebagai situs cagar budaya. Dan kami berencana akan mendaftarkanya ke Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Agam serta Balai Cagar Budaya di Batu Sangkar. Untuk pelestarian, kami Pemerintah Nagari dan masyarakat akan terus menjaga dan merawatnya,” pungkas Walinagari Duo Koto tersebut. (rud)
















