Trending | News | Daerah | Covid-19

Uncategorized

Menang Menanggung Kalah

Dibaca : 403

Penulis : Sulthan Indra, penulis sastra dan kritik sosial

 

Pesisir Selatan, Prokabar —‘Setiap umat muslim di seluruh dunia akan selalu merindui syair tauhid yang begitu syahdu ketika memasuki akhir Ramadan. Syair yang menyuarakan kemenangan. Syair menandakan fitrah manusiawi setelah selama putaran waktu satu tahun menggauli begitu banyak dosa, entah sengaja atau tidak dilakukan seseorang, baik kepada sesama manusia, lingkungan terlebih kepada Allah SWT.

Syair Illahiyah tersebut akan selalu menggetarkan relung hati setiap kali menggema. Menandakan kemenangan segera tiba, peperangan besar segera berakhir, ujian berat akan berhenti.

Nabi Muhammad SAW berkata kepada sahabat (hadits) ketika perang Badar selesai. Bahwasanya, peperangan paling besar akan segera tiba, yaitu perang melawan diri sendiri (hawa-nafsu) ketika akan memasuki Ramadan.

Masa pandemi Covid-19 ini, seluruh dunia menyatakan perang besar, tentu akan semakin sangat besar bertepatan dengan perang melawan nafsu selama Ramadan, segala upaya dilakukan oleh negara-negara yang terpapar bahkan negara yang belum terpapar pun siap siaga agar perang tidak meghampiri masyarakatnya.

Secara kebetulan, virus Corona yang telah banyak memakan korban di seluruh dunia bertepatan dengan Ramadhan tiba.

Serangan gencar dilancarkan pasukan Covid-19, sasarannya bukan saja militer tetapi masyarakat sipil yang tidak bersenjata. Tidak peduli balita atau lansia, semua digempur habis dengan menyusup ke tengah-tengah masyarakat.

Korban berjatuhan puluhan ribu jiwa. Tim medis yang sejatinya tidak boleh diperangi pun tidak luput dari gempuran mematikan serdadu Covid-19. Belum ada yang mampu benar-benar membunuh Covid-19. Dengan lincah, mereka berpindah dari satu jiwa ke jiwa lainnya.

Terlebih Indonesia yang telah melakukan strategi-strategi khusus untuk menghambat agar korban tidak semakin bertambah. Yah, meski strategi-strategi itu banyak kalangan menilai setengah-setengah atau ketidakpatuhan masyarakat untuk menghindari serangan Covid-19.

Khususnya di Indonesia, negara yang memiliki begitu banyak tradisi hampir di setiap daerah, juga tentunya tradisi Ramadan, menjelang Idul Fitri sampai pasca Idul Fitri.

Indonesia, Corona, Ramadan, mudik dan baju baru. Sepertinya layak serupa yang dikatakan Nabi SAW sebagai perang terhadap diri sendiri (hawa-nafsu). Bagaimana, tradisi-tradisi itu seperti membuka gerbang sebesar-besarnya kepada pasukan Covid-19 untuk leluasa menggempur jiwa yang sedang euforia tidak berdalil.

Bagaimana huru-hara mudik yang tidak jelas dasarnya di tengah bencana dilakukan oleh masyarakat, meski himbauan di tengah bencana berkali-kali didwngungkan pemerintah, bagaimana belanja baju lebaran membombardir pasar-pasar tradisional hingga beberapa swalayan dengan dalih telah mengikuti protokol gugus tugas.

Tentu beberpa alasan masyarakat pun tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang ragu-ragu dalam berkeputusan termasuk juga ketidak jelasan turunnya bantuan ke masyarakat, sehingga menyebabkan kebosanan ‘antiklimaks’ yang tak dapat lagi dibendung. Sah saja menurut saya, ketika anjuran dengan menggunakan hastag Di Rumah Aja sudah tidak lagi manjur.

Bagi masyarakat umum, mengapa kita harus berkubur kelaparan di rumah. Ungkapan itu jamak kita dengar saat ini, karena masyarakat berharap bantuan datang namun tidak juga ada kejelasan dan kondisi itu bisa dikatakan semacam krisis kepercayaan kepada pemerintah.

Apakah memang benar, mudik yang semula dilarang kemudian dilonggarkan dengan beberapa syarat yang bisa disiasati. Apakah benar, ibadah di rumah namun dengan tiba-tiba beberapa ulama ‘memfatwakan’ masjid-masjid sudah bisa dibuka kembali hanya karena lebaran akan tiba sedangkan beberapa ulama lainnya kebingungan.

Apakah memang benar yang dimaksud ‘menang’ oleh Nabi SAW adalah dengan bahondoh-hondoh membeli baju lebaran, ketika masyarakat yang mendapatkan bantuan berfoya-foya memburu baju lebaran seperti tidak terjadi perang besar. Apakah benar, tradisi euforia adalah dalil kemenangan yang dimaksud agama?

Menurut hemat saya, pemerintah, tokoh agama (dalam hal ini ulama), tokoh masyarakat dari berbagai daerah harus duduk bersama kembali guna meninjau kebijakan yang baik untuk menjaga jiwa rakyat agar tidak ada lagi jatuhnya korban akibat serbuan serdadu Covid-19.

Jika memang rapat bersama anggota DPR-RI atau DPRD mengenai Covid-19 sering menimbulkan tarik-ulur kebijakan baiknya tidak usah saja bersama mereka, toh selama ini dari sekian banyak mereka yang duduk di dewan sangat jarang kita dapati turun langsung memberi bantuan kepada masyarakat (setidaknya di dapil mereka).

Baiknya cukup mengajak tokoh masyarakat saja, guna mencari apabyang diinginkan masyarakat dan apa pula yang diinginkan pemerintah, tokoh masyarakat tentu mamlu menyampaikan dengan bahasa dan narasi mereka sehingga masyarakat paham apa yang dilarang dan dianjurkan.

Karena, yang disebut tokoh masyarakat adalah mereka yang berbaur langsung (durasi sangat lama dan dekat) dengan masyarakat, bukan hanya sekali-sekali ketika ada keperluan saja.

Benarkah kita betul-betul telah menang dalam peperangan kali ini. Benarkah pemerintah sudah memenangi hati masyarakat. Benarkah fitrah akan tercapai ketika mudik telah dilakukan dan baju lebaran sudah dibeli.

Agaknya, dalam hal ini, sekali lagi pemerintah harus benar-benar duduk bersama ulama, membuka kembali kajian-kajian sebagai orang berilmu sebelum kemenangan yang menanggung kekalahan tiba. Bahwasanya, sebaik-baik strategi adalah dengan keilmuan yang berdasar. Bukan dengan meraba-raba demi terlihat bijak. Tentu, masyarakat juga sangat dituntut agar paham. Bahwasanya, perang ini benar-benar nyata meski senjata serdadu Covid-19 tidak tampak. Sama halnya dengan kemenangan Idul Fitri, terasa namun tidak nampak. Benarkah kita sudah mengalahkan nafsu? (***)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top