Uncategorized

Menang Menanggung Kalah

Dibaca : 558

Penulis : Sulthan Indra, penulis sastra dan kritik sosial

 

Pesisir Selatan, Prokabar —‘Setiap umat muslim di seluruh dunia akan selalu merindui syair tauhid yang begitu syahdu ketika memasuki akhir Ramadan. Syair yang menyuarakan kemenangan. Syair menandakan fitrah manusiawi setelah selama putaran waktu satu tahun menggauli begitu banyak dosa, entah sengaja atau tidak dilakukan seseorang, baik kepada sesama manusia, lingkungan terlebih kepada Allah SWT.

Syair Illahiyah tersebut akan selalu menggetarkan relung hati setiap kali menggema. Menandakan kemenangan segera tiba, peperangan besar segera berakhir, ujian berat akan berhenti.

Nabi Muhammad SAW berkata kepada sahabat (hadits) ketika perang Badar selesai. Bahwasanya, peperangan paling besar akan segera tiba, yaitu perang melawan diri sendiri (hawa-nafsu) ketika akan memasuki Ramadan.

Masa pandemi Covid-19 ini, seluruh dunia menyatakan perang besar, tentu akan semakin sangat besar bertepatan dengan perang melawan nafsu selama Ramadan, segala upaya dilakukan oleh negara-negara yang terpapar bahkan negara yang belum terpapar pun siap siaga agar perang tidak meghampiri masyarakatnya.

Secara kebetulan, virus Corona yang telah banyak memakan korban di seluruh dunia bertepatan dengan Ramadhan tiba.

Serangan gencar dilancarkan pasukan Covid-19, sasarannya bukan saja militer tetapi masyarakat sipil yang tidak bersenjata. Tidak peduli balita atau lansia, semua digempur habis dengan menyusup ke tengah-tengah masyarakat.

Korban berjatuhan puluhan ribu jiwa. Tim medis yang sejatinya tidak boleh diperangi pun tidak luput dari gempuran mematikan serdadu Covid-19. Belum ada yang mampu benar-benar membunuh Covid-19. Dengan lincah, mereka berpindah dari satu jiwa ke jiwa lainnya.

Terlebih Indonesia yang telah melakukan strategi-strategi khusus untuk menghambat agar korban tidak semakin bertambah. Yah, meski strategi-strategi itu banyak kalangan menilai setengah-setengah atau ketidakpatuhan masyarakat untuk menghindari serangan Covid-19.

Khususnya di Indonesia, negara yang memiliki begitu banyak tradisi hampir di setiap daerah, juga tentunya tradisi Ramadan, menjelang Idul Fitri sampai pasca Idul Fitri.

Indonesia, Corona, Ramadan, mudik dan baju baru. Sepertinya layak serupa yang dikatakan Nabi SAW sebagai perang terhadap diri sendiri (hawa-nafsu). Bagaimana, tradisi-tradisi itu seperti membuka gerbang sebesar-besarnya kepada pasukan Covid-19 untuk leluasa menggempur jiwa yang sedang euforia tidak berdalil.

Halaman : 1 2 3

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top