Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Kisah Nenek Penjual Pical Di Kios Pasar Maninjau.

Dibaca : 293

Maninjau, Prokabar — Hidup adalah kisah perjuangan untuk bertahan dan melaluinya dengan baik. Begitu pula yang dilalui nenek Erna (70), penjual pical di Los Pasar Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumbar ini.

Sejak puluhan tahun lalu, ia setia berprofesi pedagang pical. Meski sudah memiliki 6 orang anak dan 9 orang cucu. Proses fase kehidupannya tidak banyak berubah, kecuali dengan perjuangan dan keikhlasan.

“Amak jualan setiap hari kecuali selasa, karano hari Balai. Di hari biasa lebih nyaman, saingan tidak terlalu banyak,” kata nenek itu.

Hasil jual beli kurang dari Rp100 ribu perhari. Meski demikian, itu sudah mencukupi memenuhi kebutuhan dirinya seorang diri. Setidaknya dapat mengisi kekosongan hari dan melewati kehidupan yang terlalu pahit dirasakan.

“Amak sekarang tinggal sama anak perempuan satu-satunya dan minantu. Mereka hanya mampu hidup dan mencukupi kehidupan mereka saja. Jadi amak juga harus berjuang pula sendiri, agar tidak terlalu bergantung pada mereka,” ungkapnya lagi.

Ia sering merasa sedih dan terhiba hati. Anak banyak, namun susah diperantauan. “Amak hanya butuh bantuan modal dan lebih pingin mandiri,” tuturnya.

Tinggal berdekatan dengan Kios Pasar Maninjau, memberi kemudahan untuk berjualan. “Pical amak berbeda dengan milik orang. Bahan rempah seperti cakua, bawang putih dan kuah sup, menjadi ciri khas tersendiri. Bumbu ini dapat dari orang tua nenek dulunya,” tutup Mak Erna. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top