Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Hati Hati, Kesenjangan Ekonomi Pasca Pandemi Bisa Picu Munculnya Teroris Baru

Dibaca : 305

Pangkal Pinang, Prokabar – Pandemi Covid 19 tidak hanya soal penyebaran virus semata, tapi punya dampak lebih luas, termasuk menjamurnya soal terorisme. Kondisi ini terjadi akibat pertumbuhan ekononi melamban, sehingga menimbulkan orang miskin baru, dan kesenjangan sosial.

Menurut Ketua FKPT Babel, Sri Wahyuni, Kemiskinan dan kesenjangan sosial bisa menjadi salah satu faktor pemicu tindakan radikalisme.

“Untuk itu diperlukan kampanye kewirausahaan di tiap daerah dalam upaya menekan angka kemiskinan dan pengangguran sehingga kesejahteraan meningkat dan tidak terjadi lagi kecemburuan sosial di tengah masyarakat,” katanya.

Sri Wahyuni mengungkapkan hal tersebut dalam webinar IMPROVE Indonesia bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kep. Babel Kamis (9/7) lalu.

Direktur Eksekutif IMPROVE Indonesia, Novendra Hidayat menyebut tumpang tindih kebijakan penangan covid 19 juga bisa menjadi salah satu faktor memperlambat penanganan covid 19.

“Jika ini terlambat ditangani negara, maka radikalisme ada di depan mata, untuk itu diperlukan langkah-langkah kolaboratifdan sinergis dari seluruh pihak dalam mengantisipasi isu radikalisme kemudian Deradikalisasi perlu diteguhkan kembali hingga ke level dearah,” Kata Novendra Hidayat.

Pengamat Politik dan militer dari IAIN Bukittinggi, Hardi Putra Wirman menyoroti New terorism dalam perkembangannya telah masuk gelombang ke-4, secara umum memiliki motif ideologi/agama tertentu yang lebih menglobal. Rekruitmennya tidak terbatas berasal dari penjuru dunia, bahkan seringkali menggunakan media sosial bahkan telah menggunakan berbagai senjata lethal maupun nuklir, kimia dan biologi.

“Persoalan radikalisme, terorisme merupakan persolan yang kompleks, multidimensi, maka penanganannya harus komprehensif melibatkan banyak pihak dalam upaya, monitoring, evaluasi, pencegahan dan penghancuran, tidak boleh ego sektoral,” kata Hardi.

Hal senada juga disampaikan oleh Ikhsan Yosarie, peneliti HAM dan Sektor Keamanan SETARA Institute. Radikalisme adalah ancaman nyata saat pandemi ini.

“Sehingga, riset-riset dibidang kesehatan perlu didukung dan dimodernkan guna menciptakan obat atau penangkal guna mencegah penyebaran ancaman wabah penyakit, serangan biologi, dan serangan kimia,” paparnya.

Lebih lanjut, Ikhsan menjelaskan dalam perspektif ancaman, penanganan pandemi Covid-19 justru memperlihatkan negara masih gagap dalam menghadapi ancaman nonkonvensional seperti wabah penyakit ini.

“Indikatornya terlihat dari sejumlah persoalan pokok, seperti jumlah korban –baik positif terpapar atau pun meninggal- yang terus meningkat, kelangkaan dan kenaikan harga kebutuhan dasar seperti handsanitazer, masker, dan alat kelengkapan tenaga medis. Serta pengarusutamaan kebijakan ekonomi diatas kesehatan masyarakat,” lanjut Ikhsan.

Dialog yang dimoderatori oleh Moh Rafli Abbas, Project Manager Institute of ASEAN Studies UKI Jakarta juga menghadirkan narasumber sosiolog Iskandar Zulkarnaen dan pegiat literasi Muhammad Tahir. (rls)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top