Lubukbasung, Prokabar.com – Atap Rumbia dalam bahasa Minangkabau, “Atok Rumbio” merupakan salah satu hasil produksi masyarakat di Kecamatan Lubuk Basung dan Ampek Nagari. Merupakan atap rumah atau pondok sebagai teknologi dan pengetahuan tradisional.
Seiring zaman, semakin canggihnya kemajuan teknologi modern, namun atap khas masyarakat tempo dulu ini masih eksis di kalangan masyarakat kota maupun perkampungan. Selain kegunaan bangunan ikonik dan unik pengembangan destinasi wisata, juga berguna untuk pondok sawah, pondok produksi batu bata dan lainnya.
Tina, salah seorang pedagang sekaligus produsen atau pembuat “Atok Rumbio” di Ujuang Padang, Lubuak Basuang mengatakan, ia melanjutkan usaha orang tuannya dan sudah berlangsung lama. “Kami hanya melanjutkan usaha orang tua yang sudah berlangsung pilihan tahun. Selain usaha ini membantu ekonomi kami, juga peminatnya masih cukup banyak.” ujar Tina.
Saat ini, ia menjual “Atok Rumbio” untuk yang tersedia merupakan permintaan untuk produksi batu bata ke Pekanbaru dan sejumlah daerah Sumatera Barat. Karena proses pembuatannya tidak terlalu rumit dan cepat, pihaknya jual Atok Rumbio sehari-hari seribu rupiah ke penampung atau toke.
Tina juga juga menjual Atap Rumbia dengan permintaan khusus sesuai kebutuhan pelanggan. “Khusus untuk bangunan rumah dengan desain unik dan klasik, kami juga bisa sediakan. Dengan harga Rp2.500 sampai Rp10.000 rupiah. Tentunya dengan kualitas terbaik,” ujarnya.

Senada dengan Mardianis, pedagang sekaligus pembuat “Atap Rumbio”. Rata-rata masyarakat Ujuang Padang, Lubuk Basuang sampai ke daerah Ampek Nagari, Manggopoh dan Tanjung Mutiara, banyak mamproduksi atap tradisional ini. Selain sudah ada sejak tempo dulu, permintaan masih cukup banyak.
“Berkembangnya dunia pariwisata, berdampak positif pada produksi atap Tradisional ini. Permintaan hampir merata di Sumatera Barat hingga Provinsi Riau.” tutupnya. (rud)
















