Artikel

Derita Abdul Hafiz yang Lumpuh dan Berhenti Sekolah; Ayah Pergi, Ibu Cuma Buruh Tani

Dibaca : 3.2K

Oleh: Rizal Marajo

Namanya Abdul Hafiz, belum genap 10 tahun. Usia yang seharusnya sangat menikmati hari-hari ceria masa anak-anak. Ibarat anak kucing, yang sedang lasak-lasaknya bermain dan bergelut dengan teman sebaya.

Tapi bocah ini hanya terbaring lemah, lumpuh tak berdaya. Entah penyakit apa yang diderita bocah yang sesungguhnya berwajah rupawan ini. Bahkan untuk sekedar mengangkat gelas air minumnya dia harus dibantu ibu dan dua saudarinya.

Apalagi untuk bergerak atau pindah tempat, Hafiz harus digendong ibunya. Misalnya bangun tidur atau ke kamar mandi. “Sejak kecil kondisinya memang sudah lemah, tapi sejak enam bulan terakhir dia memang tidak bisa apa-apa lagi.”ujar sang ibu, Deswita, kepada Prokabar, Selasa sore.

Bahkan Hafiz yang sebelumnya masih bisa sekolah, sekarang sedang kelas dua SD, karena kondisinya yang makin lemah, membuat kepala sekolah menyarankan Hafiz untuk istirahat saja dirumah dan tak usah sekolah dulu.

Perjuangan hidup sang ibu, perempuan 38 tahun itu memang mengundang rasa iba. Sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani. Ita begitu dia dipanggil, perempuan tirus itu tetap tegar jadi orang tua tunggal bagi tiga anaknya, karena suaminya meninggalkannya saat Hafiz berumur 4 tahun dan tak pernah pulang sampai sekarang.

Menurut Ita, sang suami yang diharapkan tempat bergantung, ternyata pergi untuk beristri lagi. Namun Ita tak hendak menyesali, yang dia pikirkan bagaimana anak-anaknya bisa makan, bersekolah, dan si bungsu Hafiz bisa sembuh dari penyakitnya.

Abdul Hafiz, dia benar-benar rupawan, penyakit pun tak sanggup merampas, keelokan wajahnya.. (foto:ist)

Apa daya, dunia yang keras ini harus dihadang seorang diri. Dengan tubuh tipisnya itu, Ita pergi berkuli ke ladang orang.

Dari Jorong Haru, Nagari Bungo Tanjung, Kec.Batipuh, dia pergi berkuli tani ke Paninjauan, X Koto. Beruntung masih ada motor tua yang bisa didacaknya pergi bekerja dengan jarak sejauh itu. Dengan upah hanya Rp80 Ribu sehari, Ita menghidupi anak-anaknya.

“Tapi kalau kakak-kakak Hafiz sekolah, saya juga tidak bisa bekerja. Dengan siapa Hafiz ditinggalkan. Kakaknya sekolah tiga hari seminggu, tiga hari pula saya tak bisa bekerja.”lirih Ita, yang kini tinggal di rumah tua peninggalan neneknya yang terpencil di Nagari Bungo Tanjuang.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top