Trending | News | Daerah | Covid-19

Peristiwa

Cerita Laris Manis Penjual Cendol Lubuk Basung, Di Masa Pandemik Covid-19

Dibaca : 195

Lubuk Basung, Prokabar — Zainimar (57), merupakan salah dari sekian banyak orang pembuat, sekaligus pedagang cendol pandan dan sagu di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Meski wabah Covid-19 melanda hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB diberlakukan pemerintah, tidak terlalu mempengaruhi usahan ibu paroh baya ini.

Beliau menempati sebuah rumah sederhana di Kampung Parik, Jorong III, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Agam. Beliau lebih akrap dikenal dan dipanggil Tek Niman.

Selasa malam, (28/4), ia sangat asyik membungkus cendol sagu dan pandan itu, untuk dijual esok hari. “Alhamdulillah cendol saya tetap laris,” ungkapnya, sambil melemparkan senyum bahagia.

Tek Niman berkata, tidak jauh berbeda tahun lalu, cendol yang dibuat dengan takaran bahan baku 10 Kilo tepung beras. Pada proses pembuatan, dibantu kedua anak perempuannya dengan masing-masing tugas yang telah diberikan.

Bahan baku berupa tepung beras, tepung sagu dan pandan, dicari sendiri. Sementara, Zetri anak pertama, bertugas membuat adonan. Sedangkan, si bungsu Fitri memasak dan mengaduk cendol hingga kental.

Pada proses pembungkusan untuk dijual ke pasar, dilakukan Zainimar sendiri. “Biasanya saya membungkus selesai sahur, tapi karena saat ini banyak waktu luang, saya kemas sekarang saja,” tututnya.

Satu bungkus cendol lanjutnya, dijual tiga ribu rupiah kepada pembeli. Jika dijual kepada pengecer, maka harga cukup dijual senilai dua ribu rupiah. Agar pedagang encer, mendapat untung seribu rupiah nantinya.

“Sesampai di pasar, pedagang pengecer akan mengambil sekitar 50 hingga 100 bungkus cendol. Untuk harga cukup dua ribu rupiah. Mereka menjual biasanya bekisar tiga ribu rupiah. Jika ada yang menawar 2 bungkus lima ribu rupiah, tetap dijual juga,” terang ibu Zainimar tersebut.

Untuk pemasaran juga dilakukan melalui promosi di media sosial. Para pelanggan bisa menjemput ke rumah bahkan bisa diantarkan ke alamat. Untuk pelanggan kebanyakan pedagang kuliner untuk berbuka puasa.

“Dalam sehari, saya bisa meraup omset berkisar lima ratus ribu hingga satu juta rupiah. Itu tergantung berapa banyak pesanan dan jumlah cendol yang diproduksi. Kualitas harus tetap dijaga. Dan alhamdulillah tetap laris. Biasanya, sebelum Zuhur cendol kami sudah habis terjual,” tutup perempuan tangguh asal Garagahan, Lubuk Basung tersebut. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top