Padang, Prokabar – Rumah pelaku sekaligus korban pencabulan anak di salah satu RW di Kelurahan Mata Air Kecamatan Padang Selatan masih digembok warga. Ultimatum rukun tetangga berikut warga, agar penghuni rumah mengosongkan tempat tinggal mereka dan mengangkut pakaian serta perkakas dan perabot rumah tangga, belum diindahkan keluarga.
Ketua RT beserta warga, sebelumnya sepakat, untuk menggembok rumah pelaku sekaligus korban pencabulan di kawasan Mata Air Padang Selatan, demi menghindarkan sesuatu yang tidak diinginkan seperti pencurian, hingga amuk massa. Sejauh ini, suasana di salah satu rt dan rw di Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan ini cukup kondusif. Hanya warga memang telah bersepakat agar seluruh keluarga pelaku sekaligus korban pencabulan untuk mengosongkan rumah, dan mengangkut seluruh barang, agar pindah dari lingkungan mereka. Namun hingga batas waktu hari minggu (21/11), belum juga tampak keluarga pelaku untuk mengosongkan rumah mereka. Demikian juga hingga senin (22/11) sore.
BACA JUGA : Tawuran Antarpelajar Memakan Korban, Polisi Amankan Tiga Orang Terduga Pelaku Pembunuhan
“Kami bersyukur, dua anak korban pencabulan, sudah ditempatkan di tempat yang aman, dan kami berharap seluruh pelaku, dapat diberikan hukuman yang setimpal,”
“Namun kesepakatan warga, seluruh penghuni rumah, harus mengosongkan barang-barang, agar suasana di lingkungan tempat tinggal kami tetap kondusif. Namun hingga senin (22/11) sore ini, belum terlihat tanda-tanda penghuni rumah, akan mengosongkan rumah. Kalau mereka punya itikad baik, tentu sudah melapor ke ketua RT, dan meminta membuka gembok yang kami pasang, untuk kemudian membungkus seluruh pakaian dan perabot rumah mereka,” sebut Syamsir, Ketua RT setempat.
Guru Mengaji Akui Ada Perubahan Perilaku Korban
Sementara itu, Neldawati, salah satu guru mengaji di TPQ tempat tinggal korban, akui, ada perubahan perilaku korban, baik Nj atau pun Nr, sejak dua-tiga bulan terakhir. Sang kakak yang berusia sembilan tahun, kerap meminta izin, untuk ke kamar kecil, dan diikuti oleh sang adik. Keduanya juga kerap bermenung dan tidak fokus, sehingga kerap mengulang apa yang telah diajarkan.
Sembari terisak, Neldawati, mengaku sedikit menyesal, tidak menanyakan kepada anak didiknya, kalau kedua murid TPQ memiliki masalah di keluarga yang mereka sembunyikan. Kedepan ustadzah tersebut berencana melakukan interaksi lebih kepada anak anak muridnya di TPQ, agar antisipasi dini dapat dilakukan.
“Kalau saya tahu memang ada masalah di keluarga, tentu saya seharusnya dapat mengantisipasi sejak dini, karena memang kedua murid saya tersebut, berubah perilakunya serta sering melamun,” sebut sang Ustadzah sambil menangis.(adh)
















