KHITTAH LKAAM, 1966-1972 (1)

Penulis -

Kamis, 7 Juni 2018 - 04:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Saafroedin BAHAR

Seluruhnya terasa bagi saya bagaikan terjadi kemarin sore. Awal tahun 1966 sebagai kapten berusia 29 tahun saya baru saja mengalami mutasi dari Korem 031 Riau Daratan di Pekanbaru ke Kodam III/17 Agustus di Padang. Saya menemukan daerah Sumatera Barat pasca gagalnya kudeta 1 Oktober 1965 di Jakarta itu bagaikan mengalami euforia – kegembiraan luar biasa — karena telah terbebas dari tekanan Pemuda Rakyat (PR) dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang membonceng pada Kodam III/17 Agustus untuk menguasai daerah perdesaan. Beberapa orang perwira teras Kodam III/17 Agustus, termasuk beberapa orang komandan korem dan komandan kodim, kemudian ternyata adalah memang pengikut PKI. Saya mengetahuinya kemudian sewaktu bertugas sebagai hakim perwira.

Dalam suasana euforia itu, yang kemudian menjadi bagian dari Orde Baru ‘jilid satu’, seperti juga terjadi di daerah-daerah lainnya, massa rakyat yang dipelopori oleh para pelajar dan mahasiswa, telah melakukan demonstrasi menghujat tokoh-tokoh Orde Lama, baik sipil maupun militer, yang kemudian secara diam-diam meninggalkan daerah Sumatera Barat, yang memungkinkan dibangunnya kembali daerah yang sudah porak poranda dalam hampir segala bidang ini.

Memang, selama hampir satu windu, 1958-1965, semua hal yang berbau Minangkabau dan Islam telah dicurigai oleh jajaran Kodam III/17 Agustus karena keterlibatannya dalam mendukung pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, PRRI, yang di-‘proklamasi’kan di Bukittinggi bulan Januari 1958. Walaupun secara militer, PRRI ini telah dikalahkan pada tahun 1961, namun dampak kekalahan tersebut ke dalam jiwa orang Minangkabau berlarut-larut dalam tahun-tahun sesudahnya.

Dalam kurun yang mencengkam ini, kaum adat ditekan, para da’I dan alim ulama diinteli, istana Pagaruyung dibakar. Seluruh daerah perdesaan, tempat diam sebagian besar warga Minangkabau, telah kehilangan gairah. Anak-anak yang lahir dalam kurun ini diberi nama-nama Jawa, agar mereka bisa bertahan hidup di masa depan dalam suasana yang sangat memusuhi etnik Minangkabau itu. (Bersambung)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said
Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau
Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau
Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina
Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang
Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama
Sarungan, Cara Melawan Kompeni
Catatan Singkat Bencana Alam Di Danau Maninjau

Berita Terkait

Rabu, 21 September 2022 - 23:07 WIB

Udin Rahmany, Guru Agama dan Politik Hajjah Rasuna Said

Rabu, 21 September 2022 - 21:30 WIB

Kisah Pidato Presiden Soekarno di Bawah Pohon Beringin SGB Maninjau

Kamis, 15 September 2022 - 16:15 WIB

Sejarah Singkat KJA Danau Maninjau

Senin, 11 Oktober 2021 - 12:18 WIB

Mengenal Sosok Raja Bagindo Ali, Ulama Minangkabau Penyebar Agama Islam di Filipina

Sabtu, 9 Oktober 2021 - 19:12 WIB

Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Berjasa dari Tanah Minang

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB