Oleh: Rizal Marajo
Namanya Abdul Hafiz, belum genap 10 tahun. Usia yang seharusnya sangat menikmati hari-hari ceria masa anak-anak. Ibarat anak kucing, yang sedang lasak-lasaknya bermain dan bergelut dengan teman sebaya.
Tapi bocah ini hanya terbaring lemah, lumpuh tak berdaya. Entah penyakit apa yang diderita bocah yang sesungguhnya berwajah rupawan ini. Bahkan untuk sekedar mengangkat gelas air minumnya dia harus dibantu ibu dan dua saudarinya.
Apalagi untuk bergerak atau pindah tempat, Hafiz harus digendong ibunya. Misalnya bangun tidur atau ke kamar mandi. “Sejak kecil kondisinya memang sudah lemah, tapi sejak enam bulan terakhir dia memang tidak bisa apa-apa lagi.”ujar sang ibu, Deswita, kepada Prokabar, Selasa sore.
Bahkan Hafiz yang sebelumnya masih bisa sekolah, sekarang sedang kelas dua SD, karena kondisinya yang makin lemah, membuat kepala sekolah menyarankan Hafiz untuk istirahat saja dirumah dan tak usah sekolah dulu.
Perjuangan hidup sang ibu, perempuan 38 tahun itu memang mengundang rasa iba. Sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani. Ita begitu dia dipanggil, perempuan tirus itu tetap tegar jadi orang tua tunggal bagi tiga anaknya, karena suaminya meninggalkannya saat Hafiz berumur 4 tahun dan tak pernah pulang sampai sekarang.
Menurut Ita, sang suami yang diharapkan tempat bergantung, ternyata pergi untuk beristri lagi. Namun Ita tak hendak menyesali, yang dia pikirkan bagaimana anak-anaknya bisa makan, bersekolah, dan si bungsu Hafiz bisa sembuh dari penyakitnya.

Apa daya, dunia yang keras ini harus dihadang seorang diri. Dengan tubuh tipisnya itu, Ita pergi berkuli ke ladang orang.
Dari Jorong Haru, Nagari Bungo Tanjung, Kec.Batipuh, dia pergi berkuli tani ke Paninjauan, X Koto. Beruntung masih ada motor tua yang bisa didacaknya pergi bekerja dengan jarak sejauh itu. Dengan upah hanya Rp80 Ribu sehari, Ita menghidupi anak-anaknya.
“Tapi kalau kakak-kakak Hafiz sekolah, saya juga tidak bisa bekerja. Dengan siapa Hafiz ditinggalkan. Kakaknya sekolah tiga hari seminggu, tiga hari pula saya tak bisa bekerja.”lirih Ita, yang kini tinggal di rumah tua peninggalan neneknya yang terpencil di Nagari Bungo Tanjuang.
Kalau usaha Ita untuk mengobati Hafiz, memang sudah sebatas usahanya sebagai seorang ibu. Untuk pengobatan tradisional sudah tak terhitung tempat yang didatanginya.
Jika mendengar ada tempat yang bagus berobat, dengan segala cara dan upaya dia pergi. Tapi sang anak tetap belum ada tanda-tanda membaik. “Malah sekarang, punggungnya menjadi bungkuk, duduk pun tak bisa lagi dengan pantatnya, tapi pakai pinggul.”
Pernah pula Hafiz dibawa sekali ke RSUD Padang Panjang, tapi oleh pihak RS dirujuk ke RS M. Jamil Padang. Dia hanya terperangah, sang dokter mengatakan biaya sekali berobat ke RS M. Jamil sekurangnya Rp1,5 juta. Dengan apa akan dihadang uang sebanyak itu.
“Sejak itu saya tak pernah lagi membawa ke rumah sakit. Kartu KIS yang saya punya menurut dokter di RSUD Padang Panjang tidak bisa digunakan.”ujarnya lirih, dan sampai sekarang dia tak tahu apa sebenarnya jenis penyakit anaknya.
“Sekarang Hafiz saya bawa berobat ke Nagari Jaho, diberi obat berupa minyak dan sereh yang ditumbuk. Tapi belum ada perangsuran.”lanjutnya.
Ita, sekarang hanya bisa pasrah. Hanya bisa berharap dan berdoa, anak bujang satu-satunya yang diharapkan menjadi tumpuan keluarga di masa depan itu bisa sehat kembali. “Setidaknya untuk dirinya sendiri,”gumam Ita, menahan butiran bening di pelupuk matanya.
Semoga tergeraklah hati tuan-tuan untuk membantunya, semoga.
















