Ficky Tri Saputra
Siapa yang tak bergetar hatinya ketika mendengar seseorang menyebut dua kota suci, Makkah dan Madinah, kota yang paling dirindukan oleh umat muslim seantero dunia, kota yang damai, kota yang tidak pernah tidur orang yang bermukim disana.
Begitu juga penulis, mendapat kesempatan kembali beribadah di tanah suci, Bismillah…. panggilan ke tanah suci kami penuhi berangkat tanggal 7 Maret lalu bersama travel PT Daeng Zoel Harmain, terbang dari jakarta bersama 29 jemaah umroh lainya, benar-benar menjadi pengobat rindu bagi calon jemah.
Full Ramadhan dan ditambah 5 hari di bulan Sawal, akan menjadi ibadah terindah bagi 29 jemaah yang tergabung dalam travel PT Daeng Zoel Harmain.
Betapa tidak, sudah terbayang cacatan amal yang akan didapati apabila beribadah di 2 masjid yang paling diidam-idamkan umat muslim apabila sholat dibandingkan di tanah air.
Penguman demi pengumuman dari pihak bandara terkait penerbangan di terminal 3 terus bersautan. Tibalah giliran dari jemaah umbroh dengan menggunakan maskapai penerbangan Saudi Airline dengan nomor penerbangan SV 819 dipersilahkan naik ke pesawat.
Wajah rindu dan haru menyelimuti semua jemaah, karena banyangan dua kota suci yakni Makkah dan Madinah sudah nampak di pelupuk mata, berbagai rencana dan rangkaian ibadah yang telah disusun di rumah masing-masing siap mereka kerjakan.
Banyak drama dan perjuangan
Ujian dan halangan menjadi salah satu yang dihadapi oleh calon jemaah umroh dan pemilik travel, mulai dari dipimpong oleh conter bandara untuk melakukan chek in dimana puluhan koper jemaah juga harus dipindah berulang-ulang hingga sesuai dengan meja counter, dan yang paling dramatis adalah salah seorang calon jemaah lupa membawa paspornya disaat detik-detik pengurusan boarding pass oleh pihak maskapai.
Semua kaget, pihak travel panik, calon penumpang yang paspornya tertinggal sangat panik hingga, berbagai ide dan usulan diberikan calon jemaah, karena waktunya sangat pendek dan mustahil paspor yang tertinggal di Bangka Belitung bisa sampai ke Jakarta.
Ternyata disaat calon penumpang lain telah pasrah, namun Allah punya kuasa, disaat mendapatkan kabar bahwa paspornya yang lama terbawa, langsung menghubungi anakya dan berhasil sampai ke Jakarta, secara akal sehat tidak masuk akal karena waktu take off penerbangan dari pangkal pinang sudah sangat dekat, namun rahmat dan rahim tersebut diberikan Allah kepada si ibu hingga bisa berangkat ke tanah suci.
Berbuka di garbarata
Karena pesawat kami baru akan take off pukul 19.05, secara aturan satu jam semua penumpang sudah disuruh untuk bersiap untuk menaiki pesawat, karena waktunya yang mepet jelang sampai ke pintu pesawat, semua penumpang tertahan di garbarata dan terpaksa berbuka disana.
Lanjut ke cerita perjalanan berikutnya.
















