Ficky Tri Saputra
Pukul 10.00 waktu Saudi kami sampai di kota Madinah al Munawarah, kota yang dirindukan. Kota Madinah mendapatkan sebutan Madinah Al Munawwarah yang memiliki arti ‘kota yang bercahaya atau kota yang bersinar’.
Selain itu, Kota Madinah juga dianggap memancarkan karismanya tersendiri. Sebab, kota ini memiliki masyarakat yang terbuka, toleran serta berperadaban.
Masyarakat Kota Madinah adalah orang-orang yang mengutamakan persaudaraan daripada konflik serta kekerasan. Karena itulah, pluralitas adalah karakter yang menonjol di kota Nabi ini.
Dari literasi yang pernah penulis baca pada zaman jahiliah, orang mengenal Madinah dengan sebutan Yastrib. Kemudian, Rasulullah SAW menggantinya dan mengimbau semua kaum Muslim untuk tidak menyebutkan nama Yastrib dan menggantinya dengan menyebut kota Madinah sampai saat ini.
Kota madinah berhawa sejuk, hal ini dikarenakan Kota Madinah dikelilingi beberapa bukit. Terdapat bukit Wadi Al Aqiq dan bukit E’ir di sebelah selatan, Jabal Uhud, Wadi Qanat, dan Jabal Tsur di sebelah utara, serta bukit Silaa’ di sebelah barat laut.
Pejabat Madinah memberikan larangan kepada non-Muslim masuk Lapangan Nabawi di pusat kota. Karena di sini Masjid Nabawi berada dan daerah ini disebut tanah haram.
Kembali ke jemaah yang tergabung kedalam travel daeng Zoel Harmain, setelah perjalanan lebih kurang 5 jam dari bandara King Abdul Aziz Jeddah, kini 29 orang jemaah sampai di kota Madinah.
Satu per satu jemaah turun dari bus, koper dan tas masing milik jemaah diturunkan driver. Qadarullah satu koper milik jemaah tertinggal sebelum naik ke bis, dan ini tentu bagian dari ujian yang diberikan Allah kepada jemaah.
Jarak hotel dengan Masjid Nabawi sangat dekat
Makareem Hotel, pilihan dari Daeng Zoel Harmain sebagai tempat menginap bagi kami selama 5 hari kedepan, berjarak 20 meter dari pintu 330 Masjid Nabawi. Hal ini tentu sebuah kemudahan bagi jemaah, karena baru saja keluar dari pintu hotel bisa langsung sampai ke pintu masjid.
Hal ini sangat menyenangkan bagi penulis dan 28 orang jemaah lainnya, tanpa harus berjalan jauh untuk sampai ke masjid, dan tidak itu saja, resiko tersesat bagi jemaah yang sudah tua juga bisa diminimalisir.
Selain lebih membuat jemaah cepat sampai ke pintu masjid tentu intesitas untuk beribadah ke dalam masjid juga akan semakin banyak.
Pembagian kamar hotel selesai masing-masing jemaah langsung menuju kamar mereka, tak lama berselang, suara azan dari muazim di dalam masjid terdengar lantang, bagi jemaah yang baru pertama kali melaksanakan umroh, nampak binar-binar dimatanya, doa yang mereka langitkan setiap waktu sholat kini tercapai.
Masjid yang mereka impikan dimana amalan satu kali sholat menjadi 1000 pahala apabila dibandingkan dengan sholat di masjid lainnya.
Karena jemaah datangnya pas azan, alhasil tidak bisa lagi masuk ke dalam masjid, karena kebiasaan di Madinah, 1 jam sebelum masuk waktu sholat, jemaah sudah berduyun-duyun memasuki masjid, sehingga jemaah harus merelakan sholat pertamanya di masjid Nabawi di pelataran luar.
Bersambung ke kisah perjalanan selanjutnya..
















