Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Pilkada Selesai, Mari Kita Kembali ke Parak!

Dibaca : 435

Oleh: Rizal Marajo
Wartawan Utama 

Hiruk pikuk dan kehebohan Pilkada 2020 sudah selesai. Tidak ada lagi spanduk dan baliho terpampang di sudut-sudut kampung. Beragam sticker dan poster sudah dilepas. Hanya kalender 2021 bergambar paslon yang masih tersangkut di dinding rumah. Kaos oblong yang dibagikan calon, satu dua masih nampak dipakai para petani ke sawah, atau pedagang di pasar.

Adu argumen saling menegakkan jagoan dalam perdebatan di WAG atau facebook sudah mulai sunyi. Sindir menyindir masih ada sedikit-sedikit, tapi volumenya sudah jauh turun. Yang keluar dari grup WA  juga banyak, apalagi yang jagoannya kalah. Ramai-ramai keluar grup, ibarat rombongan musafir yang bergerak meninggalkan padang sahara.

Debat yang biasanya panas di palanta lapau sudah mulai dingin. Biasanya berlapir-lapir ota soal paslon masing-masing yang didukung. Pantang kalah, termasuk mengedepankan hasil survey ini dan itu, tak peduli survey itu tak jelas ujung pangkalnya. Kadang berkata sudah seperti sepeda tak berlampu,  main hondoh saja.

Tak kalah ngototnya yang hanya sibuk memprediksi siapa yang akan duduk. Kalah pula prediksi pengamat politik level nasional dek nya. Giliran ditanya soal siapa paslon yang didukung, dia memilih bersikap “elegant” dan netral-netral saja, yang jelas suok kida diterima, tiap yang datang ditampin semuanya.

Kini topik mulai berubah, sibuk memperbincangkan Gubernur, Bupati atau Walikota  yang sudah terpilih. Yang “bijak” akan berkata, tak ada lagi nomor 1,2,3 atau 4. “Nan peralu kini baa awak basatu, sia nan manang itulah nan kito dukuang basamo-samo untuak kamajuan nagari kito,” ujarnya sembari malambuik kopi steng dan okok stang.

Yang lain menanggapi dengan manggut-manggut, mengangguk-angguk balam, cengengesan, atau senyum sekadar dikulum nan tersungging di sudut bibir. Beragam, mereka telah menyimpan memori selama 72 hari ikut hilir mudik kampanye. Entah itu jadi tukang lobi, tukang sorak, tukang serak, atau tukang hoyak.

Ya, gelanggang Pilkada rasa pandemi sudah usai. Calon yang duduk sudah terang benderang. siang nan bak hari, tarang nan bak bulan. Apak-apak yang yang terpilih sibuk menerima ucapan selamat, senyum bertebaran, silih berganti orang datang.

Termasuk yang sebelumnya tak nampak puncak hidungnya, tiba-tiba datang mengaku telah ikut berjuang maksimal. Khadam bahasanya, merdu lagunya, dan bersemangat otanya. Salesai  pula dikuliahinya pak gubernur atau pak Bupati terpilih, ampun kita dinya.

Apak-apak yang duduk, rehat dua bulan jelang pelantikan digunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat sejenak bersama keluarga. Kemesraan yang sempat tergerus lelah karena sibuk roadshow kesana kemari coba dibangun kembali dengan istri tercinta. Kehangatan dan tawa ceria dengan anak-anak tersayang yang sempat tersita, kini dinikmati lagi sepuas-puasnya.

Selain itu, tentu saja mempersiapkan diri untuk memakai pakaian dinas upacara Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah. Pakaian putih yang gagah perkasa, berwibawa, lengkap dengan “benggo” sebesar jengkol yang akan disematkan oleh orang yang melantik 17 Februari 2021 nanti.

Tentu tak perlu disebut bagaimana pula gerangan calon-calon yang terduduk. Ibarat buah rambai yang dilambutkan ke tanah, seumpama nasi bungkus lepas kajai pengebatnya, laksana kampir beras yang bocor,  baserak-serak.  Begitu pula harapan untuk mengendarai plat merah BA 1.  Terpaksa bersabar dulu lima tahun, itupun kalau masih punya nyali untuk maju lagi.

Dengan demikian selasailah semua proses panjang Pilkada yang melelahkan, mengharukan, dan mungkin juga telah membuat tensi sedikit naik ditengah-tengah masyarakat. Yang tersisa kini, mereka yang sebelumnya tersita waktu menolong paslon idola masing-masing, akan kembali ke kegiatan keseharian mereka yang sudah cukup lama ditinggalkan.

Yang petani akan kembali ke sawah atau parak masing-masing. Ada rumput dan ilalang yang mungkin sudah merimba. Ada benih yang belum sempat disemai atau ditanam. Yang tukang ojek akan kembali rutin duduk menunggu sewa di pangkalan masing-masing. Yang berkedai, akan kembali menata kedai yang agak terabaikan selama Pilkada.

Bersahaja, mereka tak terlalu berharap pamrih. Harapan mereka paling sederhana hanyalah berharap apak-apak yang sudah duduk itu ingat dan tak lupa pada janji-janji semasa kampanye. Syukur Alhamdulillah, kalau itu terwujud. Tapi juga tak terlalu dipermasalahkan jika mereka lupa, paling akan jadi catatan kalau apak itu mencalon lagi lima tahun yang akan datang.

Yang akan tetap hilir mudik dan sibuk adalah mereka yang memang sangat “menikmati” agenda-agenda politik seperti pra atau pasca Pilkada ini. Kalau sudah bicara politik entah yang akan disebut lagi, walau modal cuma air liur dan pengetahuan yang tak seberapa. Ijazah cuma SD, tapi politik pula yang dikincahnya.

Habis hari menghota di lapau dengan mereka yang sebaun, bentuk akan selesai olehnya negeri ini. Kopi yang tadinya hitam pekat, sudah pirang warnanya karena sering ditambah airnya.

Mari kita kembali ke parak masing-masing. Parak laweh sudah menanti dan parak ketek baitu jua.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top