Oleh Ibnu Ajuan Syaputra
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang
Jam menunjukkan pukul 15.00. Ibnu baru saja keluar dari kelas terakhirnya hari itu. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi pagi — tapi ia belum makan sama sekali. Sarapan? Tidak sempat. Warung belum buka saat ia terburu buru berangkat kuliah pukul 07.00.
Makan siang? Jadwal kuliah yang beruntun tidak menyisakan jeda. Maka ia pun berjalan ke warung terdekat, memesan nasi lauk seadanya, lalu malamnya kembali mengandalkan mie instan yang sudah menjadi “sahabat setia” di kamar kosnya.
Ini bukan cerita satu orang. Ini adalah cerita jutaan mahasiswa kos di seluruh Indonesia — termasuk di lingkungan UIN Imam Bonjol Padang. Mereka bukan tidak peduli dengan kesehatan. Mereka hanya terjebak dalam kondisi yang tidak banyak memberikan pilihan.
“Makan sekali sehari bukan karena diet. Itu karena memang tidak sempat dan tidak ada uangnya.” — Bondi, mahasiswa kos semester tiga
Sarapan? Kemewahan yang Tidak Terjangkau
Di rumah, sarapan adalah ritual pagi yang nyaris otomatis. Ada ibu yang sudah menyiapkan, ada meja makan yang dituju bersama keluarga. Tapi begitu pindah ke kos, ritual itu menguap begitu saja.
Latif, mahasiswa semester empat, bercerita terus terang: warung makan di sekitar kosnya belum buka pukul 07.00. Memasak sendiri? Ia tidak punya kompor, apalagi bahan masakan. “Jadi ya sudah, berangkat kuliah dengan perut kosong. Paling beli gorengan di jalan kalau ada yang jualan,” tuturnya.
Kondisi ini ternyata sangat umum. Pagi hari adalah waktu makan yang paling sering dikorbankan — bukan karena malas, tapi karena sarana dan waktu memang tidak mendukung. Dan ironisnya, sarapan adalah waktu makan yang paling penting untuk mengisi “bahan bakar” otak sebelum kuliah.
Mie Instan: Bukan Pilihan, Tapi Keterpaksaan
Mie instan sudah telanjur menjadi ikon kehidupan mahasiswa kos. Harganya sekitar tiga ribu rupiah, bisa matang dalam tiga menit, dan tersedia di warung terdekat kapan pun. Tapi di balik kepraktisannya, ada konsekuensi yang tidak kecil.
Bondi menyebut apa yang ia makan sehari-hari sebagai “trio andalan”: mie instan, nasi warteg, dan gorengan. Menu yang murah, mengenyangkan, tapi sangat jauh dari seimbang secara gizi. Tinggi karbohidrat, tinggi natrium, rendah protein, hampir tanpa serat, dan miskin vitamin.
Para ahli gizi sudah lama memperingatkan bahwa konsumsi mie instan secara berlebihan bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, hingga masalah jantung jangka panjang. Tapi bagi mahasiswa yang uang makannya hanya cukup untuk makan dua kali sehari — atau bahkan sekali — peringatan itu terasa seperti kemewahan yang tidak relevan dengan hidup mereka hari ini.
“Kalau tanggal tua, makan nasi sama kecap pun jadi. Yang penting tidak pingsan di kelas.” — pengalaman penulis
Empat Alasan Mengapa Ini Terus Terjadi
Banyak yang mengira mahasiswa kos makan sembarangan karena malas atau tidak peduli. Kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Ada empat faktor besar yang membuat pola makan mereka terus terpuruk:
Dompet yang tipis. Uang kiriman orang tua harus dibagi untuk sewa kos, ongkos, fotokopi, dan kebutuhan akademik lainnya. Sisa untuk makan sering kali sangat sedikit — bahkan Latif mengaku bahwa nasi warteg delapan ribu rupiah pun terasa berat di akhir bulan.
Jadwal kuliah yang padat tanpa ampun. Kelas bisa beruntun dari pagi hingga sore tanpa jeda yang cukup untuk makan dengan tenang. Saat jeda ada pun, waktunya seringkali tidak cukup untuk pergi ke warung, antri, makan, dan kembali tepat waktu.
Tidak ada yang mengajari makan sehat dengan anggaran minim. Kampus tidak menyediakan edukasi gizi praktis. Keluarga di kampung juga tidak membekali pengetahuan ini. Akibatnya, mahasiswa tidak tahu bahwa sebutir telur dan sepotong tempe goreng seharga dua ribuan bisa jadi sumber protein yang jauh lebih baik dari sebungkus mie instan.
Hilangnya ‘penjaga’ di rumah. Di keluarga, pola makan terbentuk karena ada orang tua yang mengatur. Di kos, tidak ada siapa-siapa. Mahasiswa harus mengatur dirinya sendiri, di tengah segudang tekanan baru yang juga belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Ketika Tubuh Mulai Protes
Tubuh manusia punya caranya sendiri untuk memberi tahu bahwa sesuatu tidak beres. Dan tubuh mahasiswa kos pun mulai berbicara — hanya saja suaranya sering diabaikan karena terlalu sibuk mengejar deadline tugas.
Latif mengalami maag yang kambuh hampir setiap minggu. Bondi kehilangan delapan kilogram berat badan hanya dalam satu semester pertama — bukan karena diet, tapi karena kekurangan asupan. Ibnu sendiri pernah hampir pingsan saat sedang presentasi di depan kelas. “Kepala mendadak berputar, pandangan gelap sebentar. Untungnya tidak jadi jatuh,” kenangnya.
Tapi dampaknya tidak berhenti di tubuh. Otak yang kekurangan gizi tidak bisa bekerja optimal. Konsentrasi buyar, daya ingat melemah, dan yang lebih mengkhawatirkan — suasana hati ikut terganggu. Gula darah yang naik turun drastis akibat pola makan berantakan bisa memicu mudah marah, cemas, bahkan gejala depresi ringan. Mahasiswa yang seharusnya dalam kondisi terbaik untuk belajar justru berjuang melawan rasa lelah yang tidak pernah benar-benar hilang.
Otak membutuhkan bahan bakar yang stabil. Mie instan dan teh manis tidak bisa menjadi satu-satunya sumber energi untuk menghadapi UTS, tugas kelompok, dan semua tekanan kuliah sekaligus.
Jadi, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Mudah sekali menyalahkan mahasiswanya — “kurang disiplin”, “tidak bisa atur keuangan”, “tidak peduli kesehatan”. Tapi kalau kita jujur, permasalahan ini jauh lebih besar dari sekadar pilihan individu.
Kampus punya peran yang belum optimal dijalankan. Tidak ada kantin bersubsidi yang benar benar terjangkau. Tidak ada program edukasi gizi yang konkret dan relevan dengan kondisi mahasiswa kos. Tidak ada skema beasiswa yang secara eksplisit memperhitungkan kebutuhan pangan. Sementara itu, mahasiswa yang sudah kelelahan mengurus kuliah dan organisasi diminta untuk juga menjadi ahli gizi, ahli memasak, dan ahli manajemen keuangan sekaligus.
Bukan berarti mahasiswa tidak perlu berbenah diri. Ada langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan:
Masak bareng teman satu kos — berbagi bahan dan biaya bisa memangkas pengeluaran makan hingga separuhnya
Stok telur, tempe, dan tahu di kamar — murah, bergizi, dan bisa diolah sederhana tanpa dapur canggih
Tetapkan jam makan minimal dua kali sehari, sekonsisten mungkin, sebagai ‘jadwal wajib’ seperti jadwal kuliah
Kurangi mie instan sebagai makanan utama — jadikan ia camilan darurat, bukan menu harian
Tapi perubahan individu tidak akan cukup tanpa perubahan sistemik. Kampus yang serius memperhatikan mahasiswanya perlu mulai bertanya: apakah mahasiswa kami makan dengan cukup hari ini?
Penutup: Masalah Sepele yang Tidak Sepele
Pola makan mahasiswa kos mungkin terdengar seperti isu kecil di tengah banyaknya persoalan kampus dan negara yang lebih “besar”. Tapi isu ini menyentuh sesuatu yang sangat fundamental: bagaimana bisa seorang mahasiswa belajar dengan baik, berpikir jernih, dan tumbuh optimal, jika perutnya saja tidak terisi dengan layak?
Latif, Bondi, Ibnu — dan ribuan mahasiswa kos lainnya — bukan sedang meminta kemewahan. Mereka hanya butuh akses terhadap makanan yang cukup dan bergizi untuk menjalani harinya. Itu bukan permintaan yang berlebihan. Itu kebutuhan dasar manusia.
Dan sudah saatnya kita — kampus, keluarga, dan masyarakat — berhenti menganggap mie instan sebagai “ciri khas mahasiswa yang lucu” dan mulai melihatnya sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
















