Agam, Prokabar – Danau elok warisan purba, Maninjau yang dulu kedalamannya 1,6 Km kini sisa 1.000 meter saja.
Keramba Jala Apung (KJA) yang semestinya 6.000 membengkak jadi 21.000. Maka, meranalah Maninjau.
Danau vulkanik tanpa ada sungai besar masuk ini, dangkal dan tak bisa dicegah.
Ikan KJA memasok hampir semua rumah makan di Sumbar dan Riau. Danau merana, warga tidak.
Kisah penyelamatan
Dalam satu dekade Danau Maninjau terus menjadi sorotan pemerintah pusat.
Bahkan masuk daftar satu dari 10 danau yang harus diselamatkan. Lalu, menjadi skala prioritas karena memiliki potensi yang luar biasa.
Kekayaan dan keindahannya, pernah menjadikannya salah satu danau terindah di dunia.
Baca Juga:
- Puluhan Ton Ikan KJA Kembali Mati Massal di Danau Maninjau
- Riwayat Obor Jelang Ramadhan
- Petani Maninjau Butuh Traktor dan Mesin Rontok, Intens Goro Bangun Akses Jalan
Berbagai upaya telah dilakukan sejumlah pihak berkepentingan. Sebut saja Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam.
Sayangnya, terlambat karena kebablasan dalam pengembangan budidaya ikan KJA di danau yang mereka dorong sendiri. Itu telah berjalan sejak 1990-an.
Pakan ikan menumpuk di dasar danau. Tahun demi tahun. Kini sudah setebal 600 meter. Tatkala musim tubo Maninjau tiba, ratusan ikan KJA mati dan mengapung.
Melihat kondisi semakin memburuk dengan terus terjadinya kematian massal ikan keramba dengan beragam spekulasi.
Dinas Lingkungan Hidup Agam pun ikut andil hingga terbentuknya Tim Satgas Save Danau Maninjau.
Intens setiap minggu bahkan setiap hari melakukan pembersihan di selingkar Danau Maninjau.
Namun, aksi itu pun belum membuahkan hasil, meski demikian cukup berdampak positif sejauh ini.
Terutama mengangkat bangkai KJA dan membersihkan eceng gondok atau semak belukar di area objek wisata.

Dinas Pariwisata Agam juga berperan. Berupaya menggerakan kelompok sadar wisata yang telah ada setiap nagari.
Ada pula Linggai Park, menjadi ikon baru pariwisata Agam.
Panggung pentas seni pertunjukan sekaligus sarana prasarana kunjungan ke Danau Maninjau.
Pengembangan terus digiatkan, namun tetap belum jua memuaskan.
Perjuangan Sadar Wisata
Perjuangan agar masyarakat sadar wisata, ramah senyum melayani masih jadi tantangan kedepannya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam juga ikut andil sesuai tugas dan fungsinya.
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Rumah Baca Inyiak Abdul Karim Amrullah, Rumah Baca Nur Sutan Iskandar, dan Rumah Tokoh Nasional Rasuna Said juga dibenahi sebagai sarana edukasi pelajar untuk bisa lebih meneladani Pahlawan Nasional itu.
Baca Juga Milenialisme.com
- Soeharto Bangun 999 Masjid dari Sedekah Umat Islam
- Lantunan Indah Para Gadis di Malam Pertama Ramadhan
- Ramadhan Datang Hati Senang
Setiap SD dan SMP wajib melakukan kunjungan ke Rumah yang terdaftar di Cagar Budaya. Kemudian melaporkan hasil kunjungan itu setiap semester ke Disdikbud Agam.
Jajaran Kodim 0304 Agam (TNI AD) dan Polres Agam juga pernah ikut andil dalam penyelamatan Danau Maninjau ini.
Namun kondisi ketergantungan masyarakat yang telah sangat tinggi, terutama dalam sektor perekonomian sangat sulit membendung dan mencegahnya.
Benturan pasti saja terjadi dan akan merugikan rakyat kecil jua nantinya.
Kontribusi LIPI
LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga sempat ikut berperan dalam Program Pemerintahan Danau Maninjau pada 2019 lalu.
Program itu sempat berkontribusi besar dengan sejumlah data yang munculc.
Selain budidaya ikan Rinuak, Bada Danau Maninjau, Cideh-cideh dan Gariang, mereka juga memberikan data sejumlah ikan endemik asli Danau Maninjau.
Jumlahnya sudah jauh merosot dengan keadaan saat ini. Dari 50 jenis, hanya tersisa 10 jenis ikan asli (endemik).
LIPI juga memberikan data kondisi air danau (kadar nutrisi) yang sehat untuk tumbuhan, namun tidak sehat untuk manusia dan hewan.
Kondisi air dipengaruhi cuaca atau angin yang menerpa perbukitan di Selingkar Danau Maninjau. Termasuk curah panas cahaya matahari dan curah hujan.
LIPI juga telah mengukur kedalaman dasar Danau Maninjau yang diperkirakan sedalam 1600 meter.
Akibat penggunaan pakan ikan pelet yang tersisa di dasar, menumpuk dan sudah mencapai 600 meter. Sehingga mengakibatkan terjadi pendangkalan yang hanya tersisa sekitar 1000 meter.
Data itu juga sempat dipaparkan Menteri PPN/Bapenas, Suharso Manoarfa saat melakukan kunjungan kerja ke Linggai Park, salah satu destinasi wisata unggulan Danau Maninjau Kabupaten Agam.
Melihat langsung kondisi air danau beserta aktivitas nelayan yang terpantau dari tepi Linggai Park.

Kapasitas Keramba Jaring Apung (KJA) di danau hanya 6000 ribu, malah sudah over kapasitas mencapai 17 ribu hingga 21 ribu unit KJA.
Hal ini perlu pembenahan agar kerusakan tidak semakin parah bahkan musnah nantinya.
Suharso cukup memahami bahwa saat ini KJA menjadi tumpuan harapan masyarakat sebagian besar masyarakat Selingkar Danau Maninjau.
Sehingga tidak ada istilah untuk menghapus atau musnahkan petani KJA.
Berdamai dengan Alam
Ia malah menganjurkan petani menukar pakan ikan untuk tetap berdamai dengan alam dan tidak merusaknya dengan pakan ikan anorganik.
Pendangkalan yang berlangsung akibat pakan ikan sempat memunculkan solusi pengerukan dengan alat canggih. Namun butuh biaya besar dan dampak pencemaran pula nantinya.
Terutama saat pengerukan hingga pengalihan limbah pakan ikan tersebut.
Menggunakan pakan ikan organik atau ramah lingkungan salah satu solusi cerdas tanpa harus mengganggu mata pencarian dan perekonomian masyarakat dengan KJA.
Jika menggunakan pakan ikan menggunakan zat kimia, maka kelayakan konsumsinya menjadi pertanyaan pula.
Di sisi lain, Menteri PPN/Bapenas juga menekankan pentingnya regulasi lanjutan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebelumnya oleh Pemerintah Kabupaten Agam.
Harus segera menyusun ulang untuk mengatur pengelolaan dan pemanfaatan Danau Maninjau yang lebih mementingkan keselamatan dalam jangka panjang.
Memelihara kelestarian hingga anak cucu juga tetap dapat menikmati, tanpa mengabaikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat saat ini.
Keseimbangan harus tetap terjaga dan terpelihara. Sehingga membawa kesejahteraan secara merata, bukan malah hanya untuk sepihak dan sekelompok orang semata.
Kosep Pariwisata
Begitu hal dengan Bupati Agam, Andri Warman. Danau Maninjau salah satu target utama program kerjanya.
Bersama Wakil Bupati, Irwan Fikri sekaligus putra daerah Danau Maninjau memiliki visi dan misi pemanfaatan Danau Maninjau tanpa mengabaikan kelestarian dan keberlangsungan hidup secara berkelanjutan.
Konsep pariwisata masuk pada semua sektor kehidupan lainnya jadi pilot project ke depan.
Agrowisata, Ekowisata, Wisata Bahari, Wisata Alam dan Adventure, Wisata Budaya, Sejarah, Reliqius yang menekannkan Edukasi pada masyarakat beserta wisatawan itu sendiri.
Berencana membangun jembatan gantung sebagai daya tarik wisatawan menikmati keindahan Danau Maninjau, dengan sensasi yang berbeda.
Tahap demi tahapan telah dilakukan dan dalam waktu tahun ke depan, implementasi target akan diwujudkan.
Semoga terwujud dengan tetap menjaga keseimbangan nantinya.
Tidak kalah penting, edukasi, pemberdayaan, sosialisasi hingga melibatkan peran seluruh lapisan masyarakat.
Walinagari, Ninik Mamak, Alim Ulama, Bundo Kanduang, Bamus, Organisasi Kepemudaan, Pihak Sekolah Formal dan Non Formal, Pemilik Lahan, Pengurus Masjid, Pengurus Pasar, Kelompok Tani dan sebagainya juga harus dimainkan.
Jangan sampai semua komponen masyarakat tidak mendapatkan tempat berperan sehingga merasa asing dan diasingkan. Membuat gejolak horizontal dan vertikal nantinya. (rud)
















