Maninjau, Prokabar – Gulita pada malam yang mulai menanjak jadi temaram oleh obor anak-anak bujang di Maninjau.
Mereka riang, mewakili orang tua mereka. Obor di tangan mereka menyisakan asap hitam.
Api meliuk disapa angin. Kerlap-kerlip bagai kunang-kunang, muncul tenggalam di tepian danau purba itu.
Ratusan anak berbaju putih. Berbaris dua-dua. Berjalan seperti berirama.
Mereka sedang melanjutkan tradisi kampungnya. Obor di tangan, melangkah membelah malam.
Inilah tradisi tua, entah kapan dimulai. Yang pasti obor yang ratusan banyaknya itu, untuk gairah dan ritual jelang puasa.
Mulanya obor adalah alat penerangan ke surau. Tiap anak membawanya.
Sebelum ada listrik, obor selalu ada. Kadang disebut suluh.
Anak-anak mengaji masing-masing punya satu. Sebelum Ramadhan tiba, mereka lalu berkeliling kampung.
Lambat laun membawa obor jadi tradisi. Itulah yang terjadi di Maninjau, Sabtu (10/4) malam. (nrs)
















