Daerah

Petani Maninjau Butuh Traktor dan Mesin Rontok, Intens Goro Bangun Akses Jalan

Dibaca : 914

Agam, Prokabar – Masyarakat Maninjau yang pernah hidup di Panji Kubu Gadang terus melakukan pengembangan dan peningkatan akses jalan dengan swadaya. Hampir tujuh bulan belakangan intensitas gotong royong membangun akses jalan terus meningkat, minimal 2 kali dalam sebulan.

“Kegiatan goro dua kali dalam sebulan telah berlangsung selama tujuh bulan ini. Dimulai sejak September 2020 lalu,” ungkap Syafrizal Efendi (Panggilan akrab Ben) selaku Ketua pelaksana pembangunan Kampung Tinggal tersebut, Minggu (21/3).

Sebelumnya, Kampung Panji Kubu Gadang sempat ditinggal penduduknya, pada 40 tahun lamanya. Diakibatkan bencana longsor serta tidak ada lagi air bersih di kampung haritage itu. Bencana besar itu berlangsung pada 1978 hingga 1980.

Daerah tersebut merupakan perkampungan yang cukup maju dahulunya. Terdapat dua unit sekolah tenun dan sekolah dasar kedua yang ada di Selingkar Danau Maninjau. Penduduk dan pelajar sangat ramai disana dulunya. Akibat bencana longsor dan hilangnya akses air bersih, memaksa penduduk mengungsi ke daerah tepian danau.

Setelah berdirinya Pondok Pesantren Prof. Dr. Hamka, sarana air bersih dan akses jalan kembali terbuka. Kondisi ini membuka peluang kembali hidupnya perkampungan tertinggal itu.

Dahulunya, perkampungan itu memiliki akses menuju Padang Galanggang, Kecamatan Matur. Dan terdapat beberapa perkampungan lagi jauh ke dalam perbukitan.

“Target kami adalah akses jalan dan sarana prasarana lainnya semakin memadai. Akses jalan sudah terbuka lebar disertai listrik penerangan. Tinggal melanjutkan pengecoran dari beberapa titik akses jalan ini,” terang Syafrizal.

Ia mengatakan akses jalan ini bahkan bisa menjadi akses alternatif pengganti Kelok 44 yang telah terbilang sudah tua dan tidak lagi memadai jalan utama. Sering longsor dan terban atau amblas. Kondisi ini hendaknya salah satu alasan strategis untuk pengalihan ekonomi masyarakat dari danau ke darat.

“Sejak akses jalan dan sarana air bersih dan penerangan memadai, lahan pertanian kami yang sempat rimba, kini telah dimanfaatkan kembali masyarakat. Sudah lebih 8 hektar perkebunan dan pesawahan dibuka masyarakat,” tuturnya.

Panji dan Kubu Gadang merupakan dua perkampungan yang memiliki sejarah dan potensi kehidupan yang menjanjikan. Mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi didukung adanya Pondok Pesantren Hamka yang juga ramai ditempati santriwan-santriwati reliqius.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top