
Prokabar.com _ Yayasan Zona Cakrawala Solok terus mematangkan rangkaian persiapan menuju perhelatan teater kontemporer bertajuk “Revitalisasi Kaba Ke Pertunjukan Kontemporer”. Pementasan yang didanai melalui Hibah Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI ini dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026 di situs budaya Rumah Gadang Hj. Siti Rasyidah, Kota Solok. Istimewanya, panggung budaya tersebut nantinya tidak hanya menyajikan pementasan utama “Peron Lusuh”, melainkan juga menghadirkan rangkaian panggung spektakuler yakni pertunjukan teater “Wangian Lain” dan teater monolog “Akulah Takdir, Sabai”.
Karya “Peron Lusuh” sendiri disadur dari “Kaba Angku Kapalo Sikalang” karya Darwis Sutan Sinaro dengan mengusung misi “Revitalisasi Bakaba, merupakan transformasi seni tradisional menuju pertunjukan kontemporer yang berkelanjutan di Kota Solok”.
Mengambil tempat di Rumah Gadang, pertunjukan ini menerapkan pendekatan “site specific theater” yang mengawinkan arsitektur vernakular dengan kebutuhan panggung kontemporer yang minimalis dan ekspresif. Penggunaan properti multi fungsi serta penataan level panggung yang dinamis sengaja dirancang agar batas antara aktor dan penonton melebur secara alami dalam rangkaian cerita.
Karakter pertunjukan ini berakar kuat pada dialektika antara “Bakaba” sebagai tradisi tutur lisan dan “Silek” sebagai ekspresi tubuh Minangkabau. Nilai moral serta memori kolektif dalam Bakaba diberi tubuh baru melalui gerakan silek yang memegang teguh filosofi. Melalui ini, eksplorasi gerak panggung tidak hanya menuntut ketangkasan fisik, tetapi juga kedalaman batin dan kepekaan rasa para aktor pemainnya.
Guna menghidupkan ruang dramaturgi tersebut, para aktor kini menjalani latihan keaktoran dan olah tubuh secara intensif. Ketua Yayasan Zona Cakrawala Solok sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Dr. Zona Rida Rahayu, menyampaikan bahwa proses ini penting untuk membentuk kesiapan fisik, mental, dan emosi aktor di atas panggung.
“Latihan ini bukan sekadar menghafal dialog atau koreografi, melainkan proses imersif untuk menguasai rasa. Aktor dilatih menghidupkan intuisi dan emosi teater agar energi cerita tersampaikan secara utuh kepada penonton” ujar Zona, yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY) Solok.
Penguatan karakter tersebut disempurnakan melalui penguasaan estetika Silek. Rahmadiyan, koreografer pertunjukan alumnus Sastra Universitas Andalas, menjelaskan bahwa Silek diolah menjadi bahasa gerak yang estetik dan berkarakter tanpa menghilangkan nilai spiritualnya. Sementara itu, aktor utama Wassalim menambahkan bahwa latihan yang berlangsung di Solok ini memfokuskan pada presisi teknik, tempo permainan, serta penataan blocking untuk menjaga kenyamanan visual penonton. Proses olah gerak dan keaktoran ini turut melibatkan jajaran aktor muda seperti Handre, Adam Malik, Dimas Afra Keyhan, Marsanda, dan Puput Sumbari.
Keseluruhan persiapan aktor di atas panggung diselaraskan dengan tata kelola panggung yang presisi. Tim produksi merancang lighting plot kontemporer yang memadukan spotlight, warm wash dan accent lighting guna mempertegas dramatisasi suasana sekaligus menonjolkan tekstur arsitektur Rumah Gadang. Sisi musik dan suara dikemas melalui kombinasi clip-on wireless mic, mikrofon, dan iringan musik tradisi. Rangkaian pra produksi ini nantinya ditutup dengan tahap pasca produksi berupa pengolahan dokumentasi multi kamera menjadi arsip audiovisual pertunjukan serta video dokumenter proses kreatif.
Rangkaian teater dan monolog ini diharapkan menjadi pemantik pemajuan kebudayaan yang berdampak luas. Bagi masyarakat Kota Solok, pementasan ini hadir sebagai ruang rekreasi edukatif yang merekatkan kembali publik dengan akar sejarahnya.
Bagi generasi muda, perhelatan ini menjadi pembuktian bahwa seni tradisi seperti Bakaba dan Silek sangat adaptif dan relevan jika dikemas secara kontemporer, sekaligus menjadi kontribusi nyata bagi keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan di Kota Solok.
















