Nasional

Inilah Prediksi BMKG Terkait Musim Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengemukakan, secara umum Puncak Musim Kemarau 2019 diprediksi akan terjadi pada Agustus – September 2019.

“Kewaspadaan dan antisipasi dini juga diperlukan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya, yaitu di wilayah NTT, NTB, Bali, Jawa bagian selatan dan utara, sebagian Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Merauke,” ungkap Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat, perlu mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal, yaitu di sebagian wilayah NTT, NTB, Jawa Timur bagian timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Riau serta Kalimantan Timur dan Selatan.

Lebih lanjut BMKG menjelaskan, datangnya musim kemarau 2019 berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi angin Timuran (Monsun Australia).

BMKG merinci, peralihan peredaran angin monsun itu akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada Maret 2019, lalu wilayah Bali dan Jawa pada April 2019, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2019, dan akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada Juni hingga Agustus 2019.

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 79 ZOM (23.1 persen) diprediksi akan mengawali musim kemarau pada April 2019, yaitu di sebagian wilayah Nusa Tenggara, Bali dan Jawa.

Wilayah-wilayah yang memasuki musim kemarau pada Mei sebanyak 99 ZOM (28.9 persen) meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera dan sebagian Sulawesi. Sementara itu 96 ZOM (28.1 persen) di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua akan masuk awal musim kemaraunya pada Juni 2019.

Jika dibandingkan rerata klimatologis Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), kondisi Musim Kemarau 2019 diperkirakan NORMAL atau SAMA dengan rerata klimatologisnya pada 214 ZOM (62.6 persen), 82 ZOM (24 persen) akan mengalami kondisi kemarau BAWAH NORMAL (curah hujan musim kemarau lebih rendah dari rerata klimatologis) dan 46 ZOM (13.4 persen) akan mengalami kondisi ATAS NORMAL (lebih tinggi dari curah hujan reratanya).

Oleh karena itu, BMKG menghimbau kepada Institusi terkait, Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat untuk waspada dan bersiap terhadap kemungkinan dampak musim kemarau, terutama wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta ketersediaan air bersih. (*/hdp)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top