Jakarta, Prokabar – Pidato Presiden Joko Widodo saat melepas atlet-atlet Indonesia yang bertarung di SEA Games 2019 di Filipina, masih jadi perbincangan hangat dan ditanggapi beragam. Jokowi menegaskan dalam pidatonya, Indonesia tahun ini harus masuk dua besar perolehan medali.
Sesmenpora Gatot S Dewabroto misalnya. Ia menilai pernyataan Jokowi itu sebagai sesuatu yang wajar, meski dia sendiri tak menampik peringkat dua adalah target berat. “Sah-sah saja, namanya juga kepala negara. Jokowi sedang menunjukkan karakternya sebagai pemimpin yang bisa melecut para atlet.” bela Gatot.
Tapi pandangan Presiden itu tersebut dikritik Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI), Djoko Pekik Irianto. Ia menilai sikap Jokowi menyinggung target atlet menjelang keberangkatan adalah cara klise yang seharusnya tidak terus menerus dilanggengkan kepala negara.
Saat melepas kontingen SEA Games Kuala Lumpur 2017 lalu, Jokowi bersikap sama: menyinggung soal target, begitu pula saat melepas kontingen Indonesia dua tahun sebelumnya. Susilo Bambang Yudhoyono, presiden sebelum Jokowi pun kerap bersikap sama: menyinggung target saat melepas para atlet.
“Target itu harusnya dicanangkan jauh-jauh hari. Harusnya penekanannya sudah sejak dua tahun lalu, begitu SEA Games 2017 selesai. Bukan mepet-mepet,” ujar Djoko.
Menjelang keberangkatan, “negara seharusnya lebih fokus secepat mungkin menuntaskan hambatan-hambatan teknis di lokasi [SEA Games], apalagi sekarang di Filipina sedang ribet banyak masalah yang dialami atlet,” kata dia.
Tak cuma itu, sikap pemimpin negara yang kebiasaan menekankan ulang target sebelum keberangkatan justru bisa membuat atlet merasa terbebani. “Itu yang semua orang khawatirkan,” kata Djoko.
Tak Realistis dan Tak Sinergis Kekhawatiran ucapan Jokowi justru membebani wajar, sebab jika dihitung secara matematis menempati peringkat dua adalah misi yang terlalu berat.
Menurut hitung-hitungan APKORI berdasarkan rekam jejak beberapa edisi terakhir, untuk masuk ke posisi dua besar rata-rata kontingen harus bisa meraih 12 persen dari medali emas yang dilombakan.
Artinya, di Filipina Indonesia perlu setidak-tidaknya meraup 85 medali emas. Sebagai catatan, di tiga edisi SEA Games sebelumnya, Indonesia masing-masing cuma meraup 64, 47, dan 38 medali emas. “Kejutan satu dua medali emas bisa saja terjadi, namun kalau kejutan lebih dari 10 emas itu jarang sekali terjadi. Karena semua cabor itu sebenarnya bisa diukur, pelatih sudah bisa memperkirakan posisi atletnya. Makanya, kita kan tahu Kemenpora pasti juga punya target yang realistis,” ujar Djoko, dilangsir.tirto.id.
Kemenpora sendiri, sejak pertengahan November lalu telah merilis bahwa target mereka cuma 45 medali emas dan berada di peringkat empat. “Yang penting kita harus lebih baik dari sebelumnya [peringkat di SEA Games 2017],” kata Menpora Zainudin Amali.
Artinya, tuntutan Jokowi (85 medali) bertolak belakang dengan apa yang dicanangkan Menpora Zainudin Amali. Jika patokan yang dipakai Jokowi adalah Asian Games, APKORI pun menilai target itu melenceng dari konteks. Sebab di Asian Games 2018 Indonesia berstatus tuan rumah, sehingga punya keuntungan mendapat banyak cabor lumbung emas.
Sementara di Filipina, situasinya lain. Banyak cabor yang jadi lumbung emas Indonesia di Asian Games tidak akan dilombakan. Apalagi persiapan banyak cabor di Indonesia dirasa mepet.
“PB dan Kemenpora hanya berani target 45 emas saja, saya rasa itu pertanda bahwa mereka sendiri tahu persiapan [SEA Games] tidak maksimal,” tegas Djoko.(*)
















