Fadli Zon : Penyelesaian Krisis Rohingya, Prasyarat terciptanya Masyarakat ASEAN Berkelanjutan

Penulis -

Senin, 26 Agustus 2019 - 20:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangkok, Prokabar — Komitmen AIPA sebagai forum tertinggi parlemen ASEAN terhadap penyelesaian krisis Rohingya, adalah prasyarat terciptanya Masyarakat ASEAN Berkelanjutan. Itulah salah satu poin yang disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon saat berpidato sebagai Ketua Delegasi Parlemen Indonesia dalam 40th General Assembly of ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), Senin (26/8), di Bangkok, Thailand.

Sidang AIPA tahun ini mengambil tema “Advancing Parliamentary Partnership for Sustainable Community.” Delegasi parlemen Indonesia memandang perlindungan kemanusiaan dan perdamaian, adalah isu sentral yang tak bisa dilepaskan dari agenda Sustainable Community.

Dirinya mengatakan Asia Tenggara saat ini terus berkembang sebagai kawasan yang menjadi mesin pendorong ekonomi global. “Meskipun demikian, ASEAN harus memastikan bahwa pembangunan yang sedang berlangsung ditopang fondasi yang kokoh. Belum tuntasnya krisis Rohingya di Myanmar, sebagai contoh, menandakan ASEAN belum bebas dari problem cukup mendasar. Masalah-masalah seperti ini perlu perhatian dan tak bisa diabaikan oleh forum parlemen seperti AIPA.” ungkapnya

Lebih lanjut ia menambahkan, menciptakan Sustainable Community akan mustahil bisa dibangun jika AIPA lemah dalam memperhatikan permasalahan kemanusiaan yang masih terjadi di kawasannya sendiri.

“Paradigma pembangunan masyarakat berkelanjutan juga tak bisa dipandang semata-mata melalui pendekatan ekonomi. Paradigma tersebut telah menuntut kita untuk memikirkan kepentingan generasi mendatang secara serius dari berbagai pendekatan. Termasuk pendekatan kemanusiaan yang menjamin keberlangsungan hidup jutaan masyarakat Rohingya yang masih tinggal di wilayah pengungsian. Dalam kerangka itu, respon AIPA sebagai forum parlemen tertinggi ASEAN terhadap krisis Rohingya, menjadi urgen untuk diperdebatkan.” sambungnya.

Untuk itu delegasi parlemen Indonesia mendesak agar AIPA berani memperhatikan krisis Rohignya secara serius. “Itu sebabnya, selama tiga tahun berturut-turut sejak 2017 hingga 2019, delegasi DPR RI terus mengusulkan resolusi Rohingya agar diadopsi menjadi resolusi resmi AIPA. Delegasi parlemen Indonesia bersikap bahwa tuntasnya krisis Rohingya menjadi prasyarat terciptanya Sustainable Community di ASEAN.” ujarnya.

Namun karena proses pengambilan keputusan di AIPA menganut sistem konsensus, yakni ketika ada satu negara yang tidak sepakat maka tak tercapailah kesepakatan, akhirnya resolusi terkait isu Rohingya selalu kandas di forum AIPA. “Dalam dua sidang AIPA terakhir ditambah dengan sidang AIPA tahun ini, Myanmar telah menggunakan dalih konsensus ini untuk menolak proposal resolusi kemanusiaan yang diajukan Indonesia. Ironisnya, sebagian besar delegasi AIPA juga memilih untuk bersandar pada mekanisme konsensus tersebut.” ungkapnya.

Dalam sidang AIPA kali ini delegasi DPR RI juga mengajukan draf resolusi penting lainnya, yaitu mengenai amandemen Statuta AIPA. Jika mekanisme pengambilan keputusan AIPA tak segera diubah, akibatnya akan ada banyak isu penting dan genting yang kerap diabaikan AIPA, hanya karena salah satu negara anggotanya keberatan, atau tidak menganggap penting persoalan tersebut.

Kasus Rohingya adalah contoh konkretnya. Dan kami delegasi parlemen Indonesia, tidak ingin hal semacam ini berulang. “Itu sebabnya kami mendorong agar AIPA mereformasi diri melalui amandemen statuta.” jelasnya

“Sekali lagi, delegasi parlemen Indonesia memandang ketegasan ini penting disampaikan di pertemuan tertinggi AIPA, agar AIPA tak sekedar menjadi forum seremoni dan basa-basi belaka.” tutupnya. (rel/hdp)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konflik Iran-Israel Memanas: Serangan Rudal dan Drone Tewaskan 24 Orang
Gawat! 300 Ribu Hektare Sawah Hilang, Alex Indra Lukman Desak Negara Dukung Riset Pertanian Lokal!
Langkah Kaki Anak Bangsa Menuju Panggung Dunia: Camp Broadway Indonesia Tampil di Carnegie Hall
Delapan Kepala Daerah Puas Ikut Rising Fellowship, Ini Kata Fadly Amran
New York, Kota Dunia yang tak Pernah Tidur
Fakta Gempa Dahsyat Turki dan Suriah: Ribuan tewas, dan Sudah Diperingatkan Peneliti Belanda
Ini tragedi Kemanusiaan, Duka di Kanjuruhan adalah Duka Dunia
Banjir di Korea Selatan, Begini Nasib Para WNI

Berita Terkait

Selasa, 17 Juni 2025 - 19:26 WIB

Konflik Iran-Israel Memanas: Serangan Rudal dan Drone Tewaskan 24 Orang

Jumat, 23 Mei 2025 - 20:27 WIB

Gawat! 300 Ribu Hektare Sawah Hilang, Alex Indra Lukman Desak Negara Dukung Riset Pertanian Lokal!

Sabtu, 19 April 2025 - 20:56 WIB

Langkah Kaki Anak Bangsa Menuju Panggung Dunia: Camp Broadway Indonesia Tampil di Carnegie Hall

Jumat, 10 Maret 2023 - 22:43 WIB

Delapan Kepala Daerah Puas Ikut Rising Fellowship, Ini Kata Fadly Amran

Minggu, 12 Februari 2023 - 18:04 WIB

New York, Kota Dunia yang tak Pernah Tidur

Berita Terbaru

Peninjauan ke kawasan Pasar Tanah Kongsi.

Daerah

Tanah Kongsi Bersolek Jadi Pusat Kuliner Heritage

Sabtu, 30 Mei 2026 - 19:56 WIB

Bola

Ini Starting Line Up PSP Melawan Mataram Utama

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:00 WIB