Budaya

Di Negeri Ini, Bela Diri Silat Lestari

Agam, Prokabar — Silat atau Silek, seni beladiri milik masyarakat Minangkabau. Sebagai pertahanan diri dari ancaman fisik dari tindak kejahatan. Kearifan lokal yang sudah ada dari leluhur terdahulunya.

Di Kabupaten Agam, Silek sudah masuk dalam ekstrakulikuler sekolah seluruh tingkat. Hampir sebagian besar SD, SMP dan SMA ada pelatihan silat untuk pelajaranya. Sementara itu, di setiap nagari bahkan antara jorong, ada sasaran atau perguruan silat.

Dan saat ini, hampir setiap Pemerintahan Nagari menganggarkan sebagain Dana Desa untuk pelestarian kesenian beladiri silat. Tidak terkecuali yang dilakukan, Pemerintah Nagari Kampung Pinang, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Di akhir tahun 2018 ini dilaksanakan kejuaraan Pencak Silat Persaudaraan Satria Mandiri Muda yang kedua kalinya.

80 orang pendekar tingkat SMP dan SMA dari berbagai perguruan Se-kabupaten Agam berlaga di halaman Kantor Walinagari Kampung Pinang, bertujuan menjalin silahturahmi serta melestarikannya. Berharap generasi muda kembali menyerap nilai-nilai moral, etika dan patriot yang terkandung dalam falsafah silat tersebut.

Menurut Gusri Noval, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, saat mengikuti kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Agam memang fokus melestarikan silek sebagai kearifan lokal asli orang minang. Sesuai visi dan misi, terwujudnya Kabupaten Agam berkeadilan, inovatif, sejahtera, agamais dan beradat menuju Agam mandiri serta berprestasi madani.

“Kami dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menjalin kerjasama dengan Instansi OPD lainnya membentuk program terpadu, khususnya seni bela diri silat. Serta menjalin kerjasama dengan Pemerintahan Nagari agar dapat menganggarkan dana desa untuk penunjang semaraknya seni beladiri asli ranah minang ini,” ungkapnya.

Ia kembali mengatakan dari sisi pendidikan, di setiap sekolah, telah digiatkan silat masuk sekolah. Sebagain besar di sekolah Se-kabupaten Agam, sudah memiliki ekstrakulikuler silat. Sehingga memacu semangat generasi mencintai silat.

Selain memiliki nilai-nilai kebudayaan, dalam pendidikan non formal ini akan membentuk generasi yang sportif, beretika, santun dan rela berkorban. “Pada Desember ini, kami juga melaksanakan festival silat dan sudah berlangsung selama 4 hari, tingkat SD dan SMP. Dilaksanakan di 4 sub rayon seperti di Kamang Magek, Matua, Ampek Angkek dan Lubuk Basung dengan jumlah peserta 15 orang dari 16 kecamatan Se-kabupaten Agam,” terangnya.

Sementara itu, Walinagari Kampung Pinang, Roni menjelaskan kejuaraan Silat Laga ini sudah tahun kedua. Untuk tahun 2019, berencana menggelar silat tradisi dengan melibatkan seluruh ninik mamak dan pendekar yang ada di Kecamatan Lubuk Basung.

“Kita sangat paham, nilai-nilai pendidikan dalam silat terkandung falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Artinya, silat sangat berpegang teguh dalam nilai-nilai ajaran Islam dan Adat Istiadat Minangkabau,” pungkasnya. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top