Prokabar.com – Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan arus globalisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Di satu sisi, kemajuan tersebut memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan memperluas wawasan. Namun di sisi lain, perubahan yang begitu cepat juga memunculkan berbagai persoalan sosial, mulai dari menurunnya nilai-nilai moral, meningkatnya perilaku menyimpang, hingga persoalan kesehatan mental yang semakin banyak dialami oleh generasi muda.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk menghadirkan solusi yang mampu membentuk karakter sekaligus menjaga kesehatan mental peserta didik. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang berorientasi pada pendampingan, pencegahan, pengembangan potensi, serta penguatan karakter.
Saat diwawancarai ProKaba, Selasa (21/07/2026), Ketua Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam (PAI), Dr. Hidayani Syam, mengatakan bahwa keberadaan bimbingan dan konseling saat ini memiliki peran yang sangat strategis dalam menjawab berbagai persoalan moral dan kesehatan mental yang dihadapi masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga harus mampu membangun manusia yang memiliki kepribadian matang, berakhlak mulia, serta mampu mengelola emosi dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Fenomena krisis moral dan meningkatnya persoalan kesehatan mental merupakan tantangan nyata yang harus direspons secara bersama. Bimbingan dan konseling hadir bukan hanya untuk menyelesaikan masalah setelah terjadi, tetapi juga melakukan langkah-langkah preventif melalui pendampingan, pembinaan karakter, dan penguatan nilai-nilai kehidupan,” ujar Hidayani Syam.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, layanan bimbingan dan konseling memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan akhlak. Pendampingan yang diberikan kepada peserta didik tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual sehingga mereka memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Ketika nilai-nilai agama, pendidikan karakter, dan layanan bimbingan konseling berjalan secara terpadu, maka peserta didik akan memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Inilah fondasi penting untuk melahirkan generasi yang tangguh,” katanya.
Hidayani Syam juga menilai perkembangan teknologi digital harus disikapi secara bijaksana. Menurutnya, media sosial yang tidak digunakan secara tepat dapat mempengaruhi perilaku, pola pikir, bahkan kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, peran konselor, guru, dosen, serta orang tua menjadi semakin penting dalam memberikan pendampingan yang berkelanjutan.
“Konselor saat ini dituntut memiliki kompetensi yang lebih luas. Mereka harus mampu memahami perkembangan psikologi, sosial, teknologi, serta mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam setiap proses pendampingan. Pendekatan yang humanis dan religius akan menjadi kekuatan dalam membangun generasi yang berkarakter dan memiliki kesehatan mental yang baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap perguruan tinggi terus memperkuat pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga mampu melahirkan tenaga profesional yang siap menjawab kebutuhan masyarakat di era modern.
“Persoalan moral dan kesehatan mental tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang baik, kita optimistis dapat membangun generasi yang cerdas, berintegritas, berakhlak mulia, dan memiliki ketahanan mental dalam menghadapi perubahan zaman,” tutup Hidayani Syam.
















