Prokabar.com – Di balik setiap gelar akademik, ada kisah perjuangan yang tidak semua orang tahu.
Begituu pula dengan perjalanan Silfia Hanani, sosok yang dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Sosilogi di UIN Bukittinggi.
Bagi sebagian orang, pengukuhan ini hanyalah seremoni biassa.
Jika menelusuru langkahnya, gelar tersebut adalah simbol ketekunan, keberanian, dan dedikasi seorang perempuan dalam dunia yang masih sering dikuasai laki-laki.
Silfia Hanani tidak lahir dari panggung akademik.
Ia memulai karier di dunia jurnalistik sebagai seorang wartawati, sebuah pengalaman yang mengajarkan arti ketajaman berpikir, disiplin waktu, dan kepekaan sosial.
Dari balik mesin tik dan deadline yang ketat, ia belajar bahwa setiap kata dapat mengubah cara orang melihat dunia.
Pelajaran ini kelak menjadi modal ketika ia menapaki jalan akademik yang penuh tantangan.
Silfia Hanani menghabiskan masa mudanya di Ranah Minang, tanah yang sarat nilai adat dan agama.
Sebagai jurnalis, ua banyak bersentuhan dengan realitas sosial nan kompleks.
Berita yang ditulis bukan hanya sekadar laporan, tetapi cermin dari masyarakat yang dinamis.
Di balik kesibukan liputan, Silfia Hanani menyadari sesuatu bahwa dunia membutuhkan lebih dari sekadar berita, dunia butuh solusi ilmiah untuk problem sosial.
“Jurnalistik mengajarkan saya melihat masalah, tapi akademik memberi saya ruang untuk menawarkan jawaban,” kata Silfia Hanani.
Pilihan untuk kembali ke bangku kuliah bukan keputusan mudah.
Ia meninggalkan zona nyaman sebagai wartawati dan menantang dirinya meraih jejang pendidikan tinggi.
Dari S1 hingga doktor, Silfia Hanani konsisten mengkaji sosiologi dengan fokus pada isu sosial-keagamaan, gender, dann transformasi budaya Minangkabau.
Pemikir Moderasi
Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, Silfia memosisikan dirinya sebagai penjaga nilai moderasi.
Dalam opininya di sebuah media kenamaan Sumbar, ia menulis tentang Mengembalikan Kemoderatan Berpikir Orang Minang.
Tulisan itu adalah refleksi kegelisahan akademisnya terhadap fenomena sosial yang kian mengeras.
Menurut Silfia, masyarakat Minangkabau memiliki tradisi berpikir moderat yang menjadi warisan berharga.
Namun, modernisasi yang data tanpa filter bisa mengikis kearifann tersebut.
“Kita tdak boleh kehilangan identitas. Moderasi bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang menyatukan,” tulisnya.
Ini bukan sekadar retorika.
Sebagai akademisi, Silfia merancang berbagai program di kampus untuk mengarusutamakan moderasi beragama dalam kurikulum dan kehidupan mahasiswa.
Ia percaya bahwa generasi muda harus memahami nilai keseimbangan, baik dalam relasi agama, budaya, maupun penggunaan teknologi.
Silfia Hanani juga melihat ancaman fragmentasi sosial akibat polarisasi di media digital.
Dalam wawanncaranya di salah sattu media, dia menegaskan pentingnya Pancasila sebagai perekat bangsa.
Baginya, nilai dasar negara ini tidak boleh hanya berhenti di buku pelajaran, tetapi harus diterjemahkan ke ruang digital yang kini mengendalikan pola pikir masyarakat.
“Era digital tidak boleh memecah kita. Pancasila harus hadir, bukan hanya di buku tetapi dalam algoritma yang membentuk percakapan publik,” ujar Silfia.
Pernyataan ini menunjukkan keberanian intelektualnya mengaitkan ilmu sosial dengan isu teknologi.
Ia menolak pandangan bahwa sosiologi adalah ilmu statis.
Sebaliknya, ia melihat sosiologi sebagai alat adaptif yang mampu menjembatani ketimpangan antara nilai dan inovasi.
Antara Tantangan dan Kesempatan
Menjadi perempuan dalam dunia akademik bukan perkara mudah.
Capaian Silfia Hanai sebagai Guru besar sekaligus Rektor UIN Bukittinggi adalah lompatan besar.
“Perempuan bisa berada di ruang publik, memberi kontribusi ilmiah, dan tetap memegang nilai,” tegas Silfia.
Pesan ini relevan bagi banyak perempuan muda yang ragu melanjutkan pendidikan tinggi karena tekanan sosial dan budaya.
Silfia adalah bukti bahwa identitas perempuan tidak menjadi penghalang untuk menggapai prestasi.
Di tengah gempuran budaya instan, perjalanan Silfia adalah oase.
Ia membuktikan bahwa kesuksesan lahir dari ketekunan, bukan jalan pintas.
Dari wartawan yang berkejaran dengan deadline, ia bertransformasi menjadi akademisi yang melahirkan gagasan besar.
Silfia sering mengatakan bahwa Guru Besar bukan puncak karier, tetapi awal tanggung jawab baru.
Baginya, gelar ini adalah mandat untuk menjaga ilmu tetap relevan dan berpihak pada kemaslahatan sosial.
“Guru Besar adalah amanah. Tugas kita bukan sekadar menulis jurnal, tetapi hadir di tengah masyarakat dengan solusi nyata,” ucapnya dalam satu sesi akademik.
Pengukuhan Silfia Hanani sebagai Guru Besar Bidang Sosiologi bukanlah sekadar seremoni.
Ini adalah simbol kebangkitan peran perempuan dalam dunia akademik, pengakuan terhadap dedikasi ilmiah, dan bukti bahwa keberanian untuk berubah bisa mengantarkan seseorang ke puncak prestasi.
Dalam setiap gagasannya, Silfia mengirim pesan kuat bahwa moderasi, kesetaraan, dan keilmuan adalah jalan untuk menciptakan masyarakat yang beradab di tengah dunia yang terus berubah.
Dari redaksi media hingga ruang senat universitas, ia terus menulis cerita, bukan lagi di kertas koran, tetapi di lembar sejarah pendidikan Indonesia.
















