Masjid Tuo Pariangan, Dari Pusat Kegiatan Masyarakat Sampai Objek Wisata

Penulis -

Sabtu, 26 Mei 2018 - 10:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar, Prokabar – Nagari Pariangan, kata tambo, adalah asal usul Minangkabau. Tersebutlah nagari ini dengan nagari tuo. Belakangan Nagari Pariangan kembali naik daun. Nagari ini dinobatkan sebagai desa terindah di dunia versi majalah travel ternama, Budget Travel.

Salah satu yang menjadi ikon nagari ini adalah sebuah masjid. Posisinya berada di jantung nagari. Hal pertama yang dilihat pengunjung pasti masjid ini. Masjid Ishlah, begitu masyarakat menamai masjid penuh sejarah ini.

Masjid Islah dulunya berada di depan makan datuak Tantejo Garhano. Dengan berbagai pertimbangan, kemudian masjid ini dipindahkan le luhak tanah data atau tempat masjid islah berdiri saat ini. Pertimbangan yang dimaksud, lokasi masjid islah saat ini memiliki sumber air panas yang dimungkinkan dapat dimanfaatkann oleh jamaah masjid untuk berwudhu dan mandi.

Dalimi Kasim Datuak Mangkudum, tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, Masjid Ishlah ini dibangun oleh Syekh Burhanudin, seorang tokoh agama sekaligus peyi’ar agama Islam di Ranah Minang. Pembangunan masjid inipun atas sepertujuan Tuanku nan Barampek, diantaranya Tuanku Kali Bandar, Tuanku Aji Manan, Tuanku Katik Basa, dan Tuanku Labai, serta dibantu oleh sejumlah pekerja yang dikomandoi oleh Datuak Garang.

“Masyarakat Pariangan dulunya telah memiliki tempat beribadah dan mengenal syara’. Setelah kedatangan syekh Burhanudin, baru masyarakat menamainya dengan masjid” cerita Datuak Mangkudum.

Masjid Islah memiliki corak atau arsitektur yang unik, mengadopsi arsitektur dongson ala dataran tinggi tibet. Hal ini bisa dilihat dari bentuk atap serta tiap sisinya yang memiliki banyak jendela. Masjid Ishlah memiliki ukuran 16 kali 24 meter, dengan empat buah pilar yang terbuat dari kayu Andaleh berukuran besar dan empat penyangga berukuran kecil. Setiap penyangga masjid memiliki makna tersendiri.

“Empat pilar penyangga tersebut melambangkan tuanku nan barampek. Seluruh tuanku tersebut merupakan ahli agama, Sementara 4 pilar yang kecil melambangkan ninik mamak 4 parik atau ninik mamak dipasukuan.” ujar Datuak Mangkudum

Jika dihitung dari jumlah keseluruhan tiang penyangga maka juga dapat dikategorikan terhadap jumlah suku dikenagarian Pariangan yang sebanyak 8 suku.

Masjid Ishlah juga memiliki gonjong yang berbentuk teratai dimana setiap gonjong memiliki ukiran. pada gonjong bagian atas terdapat ukiran cewang dilangik yang mengartikan meminta ampun dan memohon rahmat kepada Allah SWT. Sementara, pada ukiran gonjong bawah terdapat ukiran runduak ka bumi yang diartikan sujud kepada Allah SWT.

Sampai saat ini, masjid tuo Pariangan ini telah beberapa kali renovasi. Renovasi yang dilakukan,tanpa menghilangkan keaslian dari arsitektur masjid. (eym)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

#JadiLebihBaik di Ramadan: XL Axiata Gelar Program “Berbagi Kebaikan” di Sumatera
Para Pencari Tuhan Jilid 18 Hadirkan Tema ‘Dunia Sementara, Coy!’ yang Relevan dengan Isu Anak Muda
Tanah Haram Kami Rindu (3)
Tanah Haram Kami Rindu (2)
Tanah Haram Kami Rindu (1)
Deddy Mizwar Beri Pesan Moral Mendalam Lewat Sinetron “Lorong Waktu”
Cut Syifa Antusias Perankan Tokoh Utama di Sinetron Terbaru SCTV “Cinta Di Ujung Sajadah”
Main FTV Ramadan SCTV, Eza Gionino Alami Perjalanan Spiritual

Berita Terkait

Rabu, 19 Maret 2025 - 00:18 WIB

#JadiLebihBaik di Ramadan: XL Axiata Gelar Program “Berbagi Kebaikan” di Sumatera

Sabtu, 15 Maret 2025 - 23:44 WIB

Para Pencari Tuhan Jilid 18 Hadirkan Tema ‘Dunia Sementara, Coy!’ yang Relevan dengan Isu Anak Muda

Rabu, 12 Maret 2025 - 14:04 WIB

Tanah Haram Kami Rindu (3)

Selasa, 11 Maret 2025 - 06:17 WIB

Tanah Haram Kami Rindu (2)

Senin, 10 Maret 2025 - 15:06 WIB

Tanah Haram Kami Rindu (1)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB