Sumpah Pemuda Tak Cukup Hanya Diucapkan

Penulis -

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : 

Dr. Yuni Candra, S.E., M.MDosen FEB Universitas Tamansiswa Padang

 

Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda sebagai momen penting yang menyatukan bangsa. Memasuki peringatan ke-98, semangat persatuan yang diikrarkan pada 1928 perlu terus hidup dalam sikap, karya, dan tindakan nyata generasi muda.Anak muda hari ini hidup di tengah persaingan kerja, perkembangan teknologi, dan derasnya perdebatan di media sosial.

Mencintai Indonesia bukan hanya soal bangga menjadi bagian dari bangsa ini, tetapi juga berani berkarya, terus berjuang, dan peduli pada sesama.BPS (2026) merilis, Indonesia memiliki 66,83 juta pemuda pada tahun 2025. Sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, mereka adalah warga berusia 16–30 tahun. Jumlah yang besar ini dapat menjadi kekuatan bangsa jika didukung kesempatan untuk belajar, bekerja, dan berkarya.

Pertanyaannya, bagaimana patriotisme dan kegigihan dapat menjadi tindakan yang mendorong kemajuan bangsa? Bagaimana pula empati memperkuat persatuan sekaligus memastikan pembangunan tidak meninggalkan kelompok rentan?

Jawabannya menentukan apakah Sumpah Pemuda hidup dalam keseharian atau berhenti sebagai seremoni.Patriotisme dan Kegigihan dalam TindakanPatriotisme bukan sekadar mengikuti upacara atau mengibarkan bendera. Cinta tanah air terlihat ketika pemuda menggunakan pengetahuan dan kreativitas untuk menjawab kebutuhan masyarakat, mengembangkan usaha lokal, menjaga lingkungan, menciptakan lapangan kerja, serta memperjuangkan layanan publik yang lebih baik.

Baca Juga :  Sumpah Pemuda dan Pesan Pembangunan Jiwa

Keterampilan yang relevan dengan pekerjaan berhubungan erat dengan produktivitas tenaga kerja (Criscuolo, Gal, & Freund, 2024). Karena itu, pemuda perlu terus belajar, mengasah kemampuan, dan memanfaatkan pengetahuannya untuk berinovasi, membuka peluang usaha, serta memberi manfaat bagi masyarakat.

Kegigihan pemuda terlihat dari kemampuannya bertahan dan bangkit ketika menghadapi kegagalan usaha, pekerjaan yang sulit diperoleh, atau perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Sikap ini perlu didukung oleh keinginan dan kemauan untuk terus belajar, memperbaiki kesalahan, dan mencari cara baru agar tantangan dapat dihadapi dengan lebih baik. Meski demikian, kemajuan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemuda. Mereka membutuhkan pendidikan berkualitas, akses modal, dan peluang kerja yang layak. Karena itu, pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan perlu saling bekerja sama agar potensi serta gagasan pemuda dapat berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Empati sebagai Dasar Persatuan Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama, melainkan mampu untuk saling menghargai dan bekerja sama dalam perbedaan. Empati membantu pemuda memahami kesulitan pekerja informal, penyandang disabilitas, keluarga kurang mampu, dan masyarakat yang terbatas terhadap akses pendidikan.

Baca Juga :  Sumpah Pemuda dan Pesan Pembangunan Jiwa

Menurut Pettigrew dan Tropp, (2006) teori kontak antarkelompok, interaksi dan kerja sama antarkelompok dapat mengurangi prasangka serta memperkuat hubungan sosial. Karena itu, empati perlu ditumbuhkan agar pemuda mampu menghargai perbedaan dan membangun solidaritas.Di media sosial, empati ditunjukkan dengan memeriksa kebenaran informasi, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak melakukan perundungan.

Pemuda perlu menggunakan teknologi secara bijak agar ruang digital menjadi tempat berbagi pengetahuan, memperkuat persatuan, dan mencegah penyebaran berita bohong serta kebencian. Kepedulian membuat pemuda memahami bahwa pertumbuhan ekonomi belum tentu meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat secara merata.

Dengan mendengarkan kebutuhan warga, pemuda dapat ikut mendorong kebijakan yang lebih adil dan memastikan hasil pembangunan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.Mengubah Semangat Menjadi Gerakan Sekolah dan perguruan tinggi perlu menghubungkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui kegiatan menjaga lingkungan, mendampingi UMKM, dan meningkatkan literasi digital. Keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari nilai atau sertifikat, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan saling bekerja sama menyediakan pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, dan kesempatan magang bagi pemuda, terutama di daerah tertinggal dan kelompok rentan. Keberhasilan program diukur dari peningkatan keterampilan, peluang kerja, dan kemandirian ekonomi mereka.

Baca Juga :  Sumpah Pemuda dan Pesan Pembangunan Jiwa

Organisasi kepemudaan perlu memperkuat kerja sama lintas suku, agama, profesi, dan daerah melalui kegiatan sosial, pengembangan usaha lokal, serta dialog antarkelompok. Kegiatan tersebut dirancang berkelanjutan agar mampu mempererat persatuan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pemuda perlu bijak menggunakan media sosial dengan memastikan kebenaran informasi, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak mudah terpancing oleh provokasi yang dilakukan pihak lain. Sikap ini menjadikan teknologi lebih bermanfaat untuk menambah pengetahuan, bertukar pikiran, dan mempererat persatuan, bukan untuk memicu permusuhan.

Pemerintah daerah perlu memberi ruang bagi pemuda untuk menyampaikan gagasan dan ikut menyusun serta mengevaluasi kebijakan. Aspirasi mereka perlu didengar dan ditanggapi secara terbuka agar kebijakan yang dibuat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum bagi pemuda untuk menunjukkan cinta tanah air melalui tindakan nyata.

Dengan semangat patriotisme, kegigihan menghadapi tantangan, dan empati terhadap sesama, pemuda dapat berkontribusi membangun Indonesia yang lebih maju, bersatu, dan berkeadilan.

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumpah Pemuda dan Pesan Pembangunan Jiwa
Tanah Datar Kota Budaya : Sudah Saatnya Memperkuat Perlindungan Hukum Adat
Hutan Sumbar dalam Ekologi Politik: Keputusan di Hulu, Beban di Hilir
Saatnya Indonesia Membuat Teknologi Penetralisir Asap Kabut
Mensyukuri Udara Segar, Menjaga Alam, dan Merawat Empati Kemanusiaan
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Sumpah Pemuda Tak Cukup Hanya Diucapkan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:33 WIB

Tanah Datar Kota Budaya : Sudah Saatnya Memperkuat Perlindungan Hukum Adat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Hutan Sumbar dalam Ekologi Politik: Keputusan di Hulu, Beban di Hilir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:19 WIB

Saatnya Indonesia Membuat Teknologi Penetralisir Asap Kabut

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:10 WIB

Mensyukuri Udara Segar, Menjaga Alam, dan Merawat Empati Kemanusiaan

Berita Terbaru

Opini

Sumpah Pemuda Tak Cukup Hanya Diucapkan

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:26 WIB