Jakarta, Prokabar – Totalitas pemain sinetron unggulan SCTV Wajah Cinta Yang Lain, tak hanya terlihat melalui akting yang menguras emosi, tetapi juga perjuangan di balik layar. Andri Mashadi dan Dinda Kirana bahkan harus menghadapi mabuk laut ketika menjalani syuting adegan dramatis di perairan Ancol, Jakarta.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses penggarapan episode ke-100 sinetron yang terus mencuri perhatian pemirsa.
Selama dua hari, dengan kondisi angin kencang dan ombak yang menantang, keduanya mengalami pusing dan mual selama proses syuting.
“Kami beneran mabuk laut. Waktu itu belum sarapan dan angin laut cukup besar. Kondisi sudah pusing dan mual, tapi adegan tetap harus dieksekusi,” kisah Dinda dalam sesi wawancara daring.

Agar tak berkelanjutan, mereka akhirnya meminum obat antimabuk perjalanan. Namun, upaya itu justru menghadirkan tantangan baru karena efek samping obat membuat keduanya mengantuk saat harus melanjutkan adegan.
Rasa kantuk yang berat bahkan membuat mereka kesulitan menjaga konsentrasi ketika berakting. Meski demikian, keduanya berusaha memberikan penampilan terbaik agar pengambilan gambar tidak perlu berulang kali dilakukan.
Pengalaman dari adegan inilah yang menuntut kondisi fisik sekaligus emosi itu pada akhirnya menjadi bagian penting dari perkembangan cerita yang disajikan kepada pemirsa.
Sementara itu, sinetron Wajah Cinta Yang Lain juga menghadirkan konflik yang semakin menegangkan setelah melewati 100 episode penayangan.
Penyamaran Ariana (Dinda Kirana) mulai terbongkar oleh Bima (Andri Mashadi). Bima yang ingin merebut kembali Asti, perempuan yang pernah menjadi istrinya, terus berupaya mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Bima punya keinginan kuat untuk mendapatkan kembali Asti. Namun, dalam perjalanannya, ada banyak konflik yang membuat situasinya semakin rumit. Ini yang membuat karakter Bima menarik untuk terus dieksplorasi,” tutur Andri.
Luka lama Ariana kembali terbuka, perjuangannya semakin rumit ketika harus menghadapi Tamara (Cut Tary), ibu kandung Pamela (Andi Annisa), yang berkaitan dengan berbagai tragedi dalam kehidupan Ariana.
Melalui karakter Bima, Andri menghadirkan sosok yang terjebak dalam keputusan-keputusan sulit. Dinda harus menampilkan kompleksitas emosi Ariana, perempuan yang berusaha menghadapi masa lalu sekaligus memperjuangkan kehidupannya.
Di sisi lain, karakter Tamara turut menjadi bagian penting dalam pusaran konflik. Kehadirannya memperkuat ketegangan antartokoh dan membuka ruang bagi terungkapnya berbagai rahasia yang selama ini tersimpan.

“Tamara memiliki sisi yang menarik karena tindakannya berkaitan dengan banyak peristiwa dalam cerita. Memerankan karakter seperti ini menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menunjukkan sisi karakter yang tidak selalu terlihat dari luar,” ujar Cut Tary.
Perkembangan cerita tersebut menjadi salah satu hal yang dibagikan para pemain dalam wawancara virtual bersama awak media, termasuk pengalaman mereka selama menjalani proses produksi. (Beb)
















