Oleh Intan Oktaviarni
Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Selain itu, makanan pokok penduduk Indonesia adalah nasi dan seperti kita tahu nasi berasal dari beras dan beras berasal dari padi. Pertahunnya Indonesia memproduksi hingga puluhan juta ton beras. Berdasarkan survey KSA tahun 2021, luas panen padi mencapai kurang lebih 10,41 juta hektar.
Angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun 2020 sebanyak 245,47 ribu hektar. Selain itu, produksi padi pada tahun 2021 sebesar 54,42 juta ton GKG dan jika dikonversikan menjadi beras maka mencapai 31,36 juta ton, dapat dikatakan turun dibandingkan dengan produksi pada tahun 2020.
Perkembangan zaman yang sangat pesat tentunya memberikan dampak bagi kehidupan kita, terutama dalam bidang pekerjaan. Selain diperkantoran, pertanian juga memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut.
Terciptanya alat-alat berteknologi tinggi tentu memudahkan para petani dalam melakukan pekerjaannya. Tenaga yang digunakan pun tidak akan sebanyak menggunakan cara tradisional.
Indo Jarwo Transplanter merupakan alat yang direkomendasikan oleh LitBang Kementrian Pertanian untuk memberi jarak pas antar padi. Selain itu, ada juga alat yang digunakan untuk memanen padi, jadi para petani tidak perlu berjalan menyusuri sawah untuk memanen padi yang sudah siap panen.
Indo Combine Harvester merupakan alat yang dapat bekerja di lahan yang basah.
Namun, ternyata masih ada daerah yang berpegang teguh pada tradisi lama dan tetap mendahulukan adat yang telah ada secara turun-temurun. Bagaimana cara masyarakat tersebut mengolah lahannya masih dapat ditemukan pada beberapa naskah Sunda yang berkaitan tentang pertanian, seperti Sulanja, Dewi Sri, Nyi Pohaci, dan naskah-naskah mantra lainnya.
Hal ini diungkapkan Elis Suryani dkk dalam penelitiannya tentang “Pemuliaan Pangan Berbasis Naskah Mantra Pertanian, Kaitannya dengan Tradisi Masyarakat Kampung Naga dan Baduy”. Ternyata masyarakat Kampung Naga memiliki tradisi tersendiri dalam bercocok tanam, yaitu: tandur, Nyibéasan pare, Ngarujak kuer Reuneh, Nyawén, dan panen.
Padi yang ada di Kampung Naga sangat beragam, berdasarkan musim tanamnya.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, tata cara pengolahan lahan pertanian Kampung Naga masih terdapat dalam beberapa naskah Sunda. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang wajar karena pertanian memiliki kaitan dengan bagaimana cara agar pengolahan dan hasil panen dapat dikatakan bagus, dan ini semua tidak jauh dari mantra yang ada dalam naskah Mantra Pertanian.
Bahkan mereka tidak menggunakan traktor dalam mengolah lahan pertanian karena berpegang teguh pada tradisi dan adat istiadat. Walaupun produksi dari Kampung Naga masih menggunakan tradisi lokal dan adat istiadat setempat, tidak membuat hasil produksi mereka kalah dari yang menggunakan teknologi modern, bahkan dapat dikatakan mereka dapat bersaing satu sama lain.
Menggunakan cara tradisional maupun modern dalam bidang pertanian tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya tersendiri. Jika menggunakan cara lokal seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Naga tentu kita bisa menjaga lingkungan agar tetap asri dan terjaga dari polusi dan menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.
Namun, kekurangannya tentu akan mengahabiskan banyak tenaga dan tidak efisien waktu. Sementara jika menggunakan alat-alat modern, para petani dapat lebih menghemat waktu dan mengeluarkan sedikit tenaga dan pendapatan lebih banyak. Kekurangan dari menggunakan alat-alat modern adalah biaya yang lumayan besar untuk peralatan, adanya potensi kerusakan tanah, jika semua dilakukan oleh mesin, maka tidak membutuhkan banyak petani sehingga timbulnya pengangguran.(*)
















