Berpegang Pada Tradisi Lama, Kampung Naga Ekspor Beras Hingga Mancanegara

Penulis -

Selasa, 20 Desember 2022 - 22:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Intan Oktaviarni
    Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia                Fakultas Ilmu Budaya           Universitas Andalas

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Selain itu, makanan pokok penduduk Indonesia adalah nasi dan seperti kita tahu nasi berasal dari beras dan beras berasal dari padi. Pertahunnya Indonesia memproduksi hingga puluhan juta ton beras. Berdasarkan survey KSA tahun 2021, luas panen padi mencapai kurang lebih 10,41 juta hektar.

Angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun 2020 sebanyak 245,47 ribu hektar. Selain itu, produksi padi pada tahun 2021 sebesar 54,42 juta ton GKG dan jika dikonversikan menjadi beras maka mencapai 31,36 juta ton, dapat dikatakan turun dibandingkan dengan produksi pada tahun 2020.

Perkembangan zaman yang sangat pesat tentunya memberikan dampak bagi kehidupan kita, terutama dalam bidang pekerjaan. Selain diperkantoran, pertanian juga memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut.

Baca Juga :  1 Juni dan Utopia yang Tidak Pernah Bermukim

Terciptanya alat-alat berteknologi tinggi tentu memudahkan para petani dalam melakukan pekerjaannya. Tenaga yang digunakan pun tidak akan sebanyak menggunakan cara tradisional.

Indo Jarwo Transplanter merupakan alat yang direkomendasikan oleh LitBang Kementrian Pertanian untuk memberi jarak pas antar padi. Selain itu, ada juga alat yang digunakan untuk memanen padi, jadi para petani tidak perlu berjalan menyusuri sawah untuk memanen padi yang sudah siap panen.

Indo Combine Harvester merupakan alat yang dapat bekerja di lahan yang basah.

Namun, ternyata masih ada daerah yang berpegang teguh pada tradisi lama dan tetap mendahulukan adat yang telah ada secara turun-temurun. Bagaimana cara masyarakat tersebut mengolah lahannya masih dapat ditemukan pada beberapa naskah Sunda yang berkaitan tentang pertanian, seperti Sulanja, Dewi Sri, Nyi Pohaci, dan naskah-naskah mantra lainnya.

Baca Juga :  1 Juni dan Utopia yang Tidak Pernah Bermukim

Hal ini diungkapkan Elis Suryani dkk dalam penelitiannya tentang “Pemuliaan Pangan Berbasis Naskah Mantra Pertanian, Kaitannya dengan Tradisi Masyarakat Kampung Naga dan Baduy”. Ternyata masyarakat Kampung Naga memiliki tradisi tersendiri dalam bercocok tanam, yaitu: tandur, Nyibéasan pare, Ngarujak kuer Reuneh, Nyawén, dan panen.

Padi yang ada di Kampung Naga sangat beragam, berdasarkan musim tanamnya.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, tata cara pengolahan lahan pertanian Kampung Naga masih terdapat dalam beberapa naskah Sunda. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang wajar karena pertanian memiliki kaitan dengan bagaimana cara agar pengolahan dan hasil panen dapat dikatakan bagus, dan ini semua tidak jauh dari mantra yang ada dalam naskah Mantra Pertanian.

Bahkan mereka tidak menggunakan traktor dalam mengolah lahan pertanian karena berpegang teguh pada tradisi dan adat istiadat. Walaupun produksi dari Kampung Naga masih menggunakan tradisi lokal dan adat istiadat setempat, tidak membuat hasil produksi mereka kalah dari yang menggunakan teknologi modern, bahkan dapat dikatakan mereka dapat bersaing satu sama lain.

Baca Juga :  1 Juni dan Utopia yang Tidak Pernah Bermukim

Menggunakan cara tradisional maupun modern dalam bidang pertanian tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya tersendiri. Jika menggunakan cara lokal seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Naga tentu kita bisa menjaga lingkungan agar tetap asri dan terjaga dari polusi dan menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.

Namun, kekurangannya tentu akan mengahabiskan banyak tenaga dan tidak efisien waktu. Sementara jika menggunakan alat-alat modern, para petani dapat lebih menghemat waktu dan mengeluarkan sedikit tenaga dan pendapatan lebih banyak. Kekurangan dari menggunakan alat-alat modern adalah biaya yang lumayan besar untuk peralatan, adanya potensi kerusakan tanah, jika semua dilakukan oleh mesin, maka tidak membutuhkan banyak petani sehingga timbulnya pengangguran.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

1 Juni dan Utopia yang Tidak Pernah Bermukim
Agama yang Membebaskan atau Masyarakat yang Menindas?
Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Menguat di Awal 2026
PTS Terjepit, LLDIKTI Jangan Diam: Saat Jalur Mandiri Membesar, Keadilan Pendidikan Dipertanyakan
Potret Kegagalan Pendidikan dalam Melahirkan Manusia Beradab
3,37 Persen, Alarm yang Tidak Boleh Dianggap Biasa
Tahun 2026: Proyeksi Perbaikan Ruh(iyah) Ke-Minangkabuan Kita
Uang Harus Berputar di Daerah: Lima Prioritas Pemulihan Bencana Sumatera Barat
Tag :

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 10:47 WIB

1 Juni dan Utopia yang Tidak Pernah Bermukim

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:42 WIB

Agama yang Membebaskan atau Masyarakat yang Menindas?

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:23 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Menguat di Awal 2026

Kamis, 30 April 2026 - 10:53 WIB

PTS Terjepit, LLDIKTI Jangan Diam: Saat Jalur Mandiri Membesar, Keadilan Pendidikan Dipertanyakan

Selasa, 14 April 2026 - 21:35 WIB

Potret Kegagalan Pendidikan dalam Melahirkan Manusia Beradab

Berita Terbaru