Daerah

20 Hari Lawan Penyakit, Seorang Pejuang Demokrasi di Pasaman Meregang Nyawa

Pasaman, Prokabar — Seorang pejuang demokrasi meninggal dunia di Pasaman. Ialah Imran (46) salah satu petugas keamanan TPS. 20 hari ia berjuang melawan sakit yang diderita, pasca bertugas mengamankan TPS 7 Sukamulia Padang Gelugur, Kecamatan Padang Gelugur pada proses pencoblosan 17 April lalu. Namun, Imran kalah. Ia meninggal.

Imran menghembuskan nafas terakhirnya 6 Mei kemarin. Keluarga korban, melalui sang ponakan, Ilfandi (23) baru melaporkan, Kamis (9/5) ke KPU Pasaman.

Pada awak media, Ilfandi mengaku, sang paman jatuh sakit sehari pasca bertugas. Ia drop dan dibawalah berobat. Obat medis hingga tradisional dijalani, namun tak ada reaksi. Hingga akhirnya, nyawa korban tak tertolong.

Perihal hal ini, Komisioner KPU Pasaman Koordinator Divisi Parmas, Eria Candra mengatakan, data petugas KPPS yang sakit telah dilaporkan ke KPU Provinsi Sumatera Barat untuk diteruskan ke pusat. Sementara untuk pelaporan korban Imran bakal menyusul.

“Keluarga korban baru melaporkannya kemarin. Tentu, kita laporkan juga ke provinsi, mudah-mudahan, proses santunan untuk korban ini, dapat juga terealisasi,” kata Eria Candra.

Diakui Eria Candra, pemberian dana santunan ini menyusul surat Menteri Keuangan Sri Mulyani tertanggal 25 April 2019 dengan Nomor S-316/ MK.02/ 2019. Di dalamnya, menyetujui besaran uang santunan untuk diberikan kepada keluarga ataupun ahli waris petugas KPPS yang meninggal dunia.

Eria menambahkan, dalam uraiannya bahwa besaran santunan disetujui sebesar Rp36 juta bagi petugas meninggal dunia, Rp30 juta untuk mereka yang cacat permanen, luka berat Rp16,5 juta dan luka sedang Rp 8,25 juta.

Sementara mereka yang jatuh sakit, sesuai petunjuk teknis yang tengah disusun KPU, mereka akan dimasukkan dalam kategori luka sedang maupun luka berat. (Ola)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top