Tradisi Turun Mandi Bagi Masyarakat Minangkabau

Penulis -

Sabtu, 30 Maret 2019 - 20:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar, Prokabar – Bagi masyarakat Minangkabau, tradisi turun mandi masih dilestarikan hingga saat ini, dan tak terkecuali oleh keluarga besar Irdinansyah Tarmizi, Aristo Munandar dan Nelson Septiadi.

Pada Sabtu (30/3), di rumah dinas Bupati Indo Julito Batusangkar diselenggarakan tasyakuran Aqikah dan turun mandi anak dari Ade Riski Pratama dan Intan Febriana Syahdati, serta Berriandi Arwan dan Suci Yaumi Syahdatu.

Tradisi turun mandi merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan sebagai bentuk ucapan syukur atas lahirnya seorang anak kedunia.

Selain itu, tradisi turun mandi juga sebagai media untuk memberitahukan kepada masyarakat banyak jika telah lahir seorang bayi dari seorang pasangan suami istri.

Dulunya, dalam menjalankan prosesi turun mandi, masyarakat Minangkabau melaksanakannya di sungai atau di air “pincuran”.

Namun, seiring berkembangnya zaman, dan sulitnya mencari pincuran mandi, prosesi tersebut kini banyak dilaksanakan di rumah masing masing. Akan tetapi seluruh syarat yang mesti dipenuhi, kemudian diganti dengan syarat lain yang hampir meyerupai.

Meski demikian, prosesi yang dilaksanakan di rumah tersebut dinilai tidaklah menghilangkan sebuah nilai budaya yang tersembunyi dari prosesi yang dilaksanakan.

“Prosesi turun mandi tidaklah perlu mewah mewah, cukup sederhana saja. Apa yang diselenggarakan hari ini juga sebagai bentuk pelestarian budaya,” ucap Bupati Tanah Datar.

Prosesi turun mandi seyogyanya memiliki beberapa syarat seperti adanya batiah badulang atau beras yang digoreng, sigi kain buruak dan beberpa syarat lainnya. Setiap syarat juga memiliki makna, yang tak lain untuk kebaikan ibu dan sang anak kelak. Dalam prosesi turun mandi juga dilakukan pemotongan rambut sang anak.

“Tadi ada juga tradisi melangakahi api dalam belanga, yang bermakna agar rahim sang ibu tetap kuat, ” ujar Irdinansyah.

Dalam prosesi turun mandi, juga dilaksanakan arak arakan yang dilakukan pihak bako dengan menjunjung talam. Selain itu, biasanya pihak bako juha akan membawa berbagai macam bingkisan dan oleh oleh untuk sang bayi.(eym)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Konflik Adat Nagari Panampuang yang Melibatkan Nama Bupati Agam Benni Warlis
Resensi Buku : Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya 
Malewakan Gala Adat Datuak Bagindo Nan Kuniang, Dr. Rahyussalim Harap Jadi Jembatan Budaya Minang-Internasional
Malewakan Gala Sako Dr. dr. Rahyussalim Dt. Bagindo Nan Kuniang, Sejumlah Menteri Hingga Perwira Tinggi Bakal Hadir
Festival Sipak Rago 2025 Tarik Ribuan Warga di Sungai Bangek
Festival Nan Jombang Tgl3 Hadirkan Takbiran Meriah dari PUSAKOSAKTI MINANGKABAU
Geger Sepehi 1812: Kementerian HAM Dukung Penuh Repatriat Equity Claiming Aset Sri Sultan HB II
Ukir Sejarah, Tridaya Festival Libatkan Seluruh Pemuda Desa Borobudur Ciptakan Kerukunan
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Jejak Konflik Adat Nagari Panampuang yang Melibatkan Nama Bupati Agam Benni Warlis

Senin, 6 Juli 2026 - 11:48 WIB

Resensi Buku : Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya 

Minggu, 23 November 2025 - 05:32 WIB

Malewakan Gala Adat Datuak Bagindo Nan Kuniang, Dr. Rahyussalim Harap Jadi Jembatan Budaya Minang-Internasional

Jumat, 21 November 2025 - 07:34 WIB

Malewakan Gala Sako Dr. dr. Rahyussalim Dt. Bagindo Nan Kuniang, Sejumlah Menteri Hingga Perwira Tinggi Bakal Hadir

Sabtu, 12 Juli 2025 - 08:54 WIB

Festival Sipak Rago 2025 Tarik Ribuan Warga di Sungai Bangek

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB