Sijunjung, Prokabar — SMA Negeri 1 Tanjung Raya sangat beruntung mendapat ilmu pengetahuan, terkait pemanfaatan sumber daya alam di Muaro Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatra Barat. Pasalnya, kegiatan tersebut perdana dan pertamakali didapat dari kalangan pelajar.
10 orang murid beserta 4 orang guru pendamping berkesempatan masuk area dan diskusi tentang eksploitasi gas dan minyak Bumi, Jumat (19/7).
Kepala SMAN 1 Tanjung Raya, Burmal bersama Guru Pendamping, Surya Candra mengatakan hal tersebut berkat salah seorang alumni menfasilitasi mereka, sehingga dapat bekerjasama dengan SKK Migas Sumbagut (Sumatra Utara, Sumatra Barat, Aceh, dan Riau). “Kami sangat senang bisa mendapat pelajaran yang sangat baik terkait hasil alam ini. Dimulai sosialisasi, motivasi hingga ilmu pengetahuan yang langsung ke lapangan,” ujarnya.
Murid beserta Kepala Sekolah dan guru SMA Negeri 1 Tanjung Raya ini sangat senang atas perhatian khusus dari alumni bernama Taslim Yunus tersebut. Beliau adalah Pengawas Internal SKK Migas Nasional dari pemerintah pusat. Dampak pembelajaran dan ilmu pengetahuan tersebut diharapkan dapat memotivasi anak lebih giat belajar dan menjadi ilmuan pula nantinya.
“Ada dua hal terpenting yang didapat dari pembinaan, motivasi hingga ilmu pengetahuan ini. Pertama butuh waktu lama untuk mendapatkan migas ini, minimal 10 tahun itu pun baru tahap pemboran. Pemboran pun ada tiga tahap, pertama eksplorasi, kedua delineasi dan ketiga pemgembangan,” tuturnya.
Kedua, tidak mudah memproduksi.dan mendapatkan minyak dan gas ini. Dan anak-anak telah mengetahui proses mendapatkan gas dan minyak bumi ini sangat sulit dan butuh biaya besar. Membutuhkan ilmu pengetahuan yang hebat, luas dan mendalam, agar memastikan keberadaan minyak dan gas tersebut,” terangnya.
Hal tersebut mencambuk anak untuk tidak semena-mena membuang atau menyia-nyiakan gas dan minyak yang sudah ada. Sehingga dimanfaatkan dengan sehemat-hemat mungkin.
Sementara itu, Staf Humas SKK Migas Sumbagut, Arilda Septiana menjelaskan mendapatkan minyak dan gas ini tidaklah mudah. Butuh kajian geofisika dan geologi yang sangat mendalam.
“Untuk membuktikan itu, tidak semena-mena. Dibor langsung dapat, tidak. Tidak seperti itu. Harga untuk pemboran itu sangat mahal. Jadi tahap awal itu, pertama melakukan paralel atau pemetaan geologi. Kita liat, daerah sini ini apakah litologi atay bebatuannya? Kedua, adakah data-gata geofisika berupa sesmik. Dan daerah ini masih virgien area. Belum pernah melakukan kajian sesmik dan membutuhkan biaya mahal,” terang Arilda.
Kami berharap lanjutnya, proses pemboran dapat terus berlanjut hingga produksi migas dapat sesuai target. “Kita SKK Migas bekerjasama dengan PT. Rizki Bukit Barisan Energi bekerja sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 63 Tahun 2004. Terdapat beberapa lokasi Sumur Sinamar. Semoga tahapan pemboran sukses hingga memproduksi sesuai harapan nantinya,” pungkasnya. (rud)
















