Padang, Prokabar — Menyikapi permintaan pasar Eropa akan kopi bebas kontaminasi kimia, Nofi Chandra mulai mengembangkan kopi non-petstisida, dengan orientasi ekspor.
Produk tanpa kandungan petstisida memiliki prospek yang sangat menjanjikan dari sisi bisnis. Tidak hanya di pasar ekspor, tapi juga pasar dalam negeri maupun lokal.
Para penikmat kopi di sejumlah negara di kawasan Eropa kian selektif. Mereka mulai menolak kopi dari Indonesia yang dinilainya terkontaminasi zat kimia akibat petstisida.
“Saya kembangkan di Sungai Nanam, Lembah Gumanti, Kota Solok,” ujar mantan Anggota DPD RI 2014-2019 itu memalui telpon pada Prokabar di Solok, Rabu (11/12).
Importir kopi Jerman, Inggris dan Perancis membatalkan kontrak pembelian dengan beberapa koperasi yang menjadi eksportir Kopi Arabika Gayo.
Sebab berdasarkan penelitian laboratorium internasional, komoditas unggulan Dataran Tinggi Gayo (DTG) itu terkontaminasi kimia jenis glyphotsate dari obat semprot racun rumput.
Kondisi seperti itu menjadi ancaman serius bagi kopi Arabika Gayo. Lebih dari itu, telah menimbulkan kekhawatiran bagi produsen (petani) serta eksportir kopi.
Penolakkan importir di Benua Putih itu, lanjut dia, tentu bukan tanpa alasan. Selain faktor kesehatan, importir menilai kandungan petstisida ternyata juga berpengaruh pada kualitas kopi.
Sementara, daerah dataran tinggi di Sumbar memiliki potensi bagus untuk budidaya kopi. Apalagi, permintaan terhadap kopi dari Solok kini semakin tinggi.
“Bukan pada kopi saja, tapi semua tanaman harus sudah mulai berfikir tanpa memakai petstisida,” ujar pria yang juga pernah sebagai Ketua Dewan Masjid Kota Solok itu.
Budidaya kopi tanpa petstisida merupakan contoh bagi petani sekitar. Dengan harapan, mereka bisa memulai menanam kopi dengan lebih baik.
Kopi jenis Arabika Kate yang ia tanam di atas lahan seluas empat hektare itu kini memasuki usia 1-1,5 tahun. Sesuai target, satu tahun ke depan mulai memasuki masa panen.
Untuk ekspor, ulasnya, budidaya kopi tanpa petstisida harus berkembang secara baik terlebih dahulu. Setidaknya produksi bisa mencapai 120 ton per bulan.
Jika berjalan lancar, target produksi itu dapat tercapai selama lima tahun. Namun, ia sadar, perkembangannya masih lamban. Petani kini masih menunggu bukti.
“Masyarakat petani kita untuk bertahan hidup selama 2,5 tahun tanpa menghasilkan masih belum mampu,” sebut mantan Ketua KUKMI itu sambil menegaskan.
Menurutnya, kondisi seperti itu merupakan tantangan tersendiri bagi dirinya dan para pengampu kebijakan. Perlu langkah strategis memanfaatkan potensi dan peluang itu.
Pemerintah, mulai dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota harus mengupayakan lewat berbagai program seperti edukasi dan pola tanam yang baik pada petani.
Akan tetapi yang tak kalah penting adalah stimulan melalui kebijakan permodalan. Upaya itu beban biaya petani dalam memulai hingga masuknya masa panen.
“Ini bisa melalui pendekatanan Kredit Usaha Rakyat (KUR), misalnya. Saya optimis. Jika tergarap dengan baik, ini akan mendongkrak nilai ekspor Sumbar,” terangnya.
Berdasarkan catatan Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo), kopi asal Sumbar kian diminati pasar ekspor antara lain di Korea, Inggris dan Australia.
Namun, produksi masih terbatas. Pada 2018, luas kebun kopi di Ranah Minang di kisaran 700-1.000 Hektare, dengan produksi 700 Kg per Hektare.
Kementerian Pertanian dalam Outlook Kopi mencatat, kontribusi Sumbar dari 2013-2017 terhadap produksi kopi nasional 5,19 persen. Sedangkan ekspor Juli 2019 hanya 18 ton. (tds)
















