Pasaman Barat, Prokabar — Petani sawit, terus menerus diuji kesabarannya oleh harga yang tidak menentu. Sebentar naik, lalu anjlok.
Di Pasaman Barat saja misalnya, menjelang lebaran, harga sawit membuat petani menjerit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hanya Rp600 sampai Rp700 per kilogram. Benar-benar hancur. Pusing tujuh keliling petani dibuatnya. Apalagi semua berbanding terbalik dengan harga kebutuan pokok hidup yang sangat tinggi.
“Masyarakat Pasaman Barat pada umumnya petani sawit. Kalau harga anjlok terus menerus, sudah bisa ditebak, roda perekonomian masyarakat ikut anjlok,” kata Riki, (35), salah seorang pemilik kebun sawit.
Parahnya diakui Riki, harga Rp700 per kilogram ini, belum bersih mendarat ke kantong petani. Dipotong lagi Rp200 per kilogramnya untuk upah panen.
“Belum lagi upah lansir kalau kebun kita jauh dari tempat muat. Inilah derita kami petani setiap hari mau lebaran,” kata Riki.
Tidak tertutup kemungkinan, kecurigaan selalu membayangi para petani bila menjual TBS menjelang lebaran. “Asal mau lebaran, pasti turun. Tidak dijual, kebutuhan meningkat, dijual entahlah, hanya tuhan yang tahu. Terkadang kami para petani merasa curiga apakah ada permainan para agen nakal, penampung atau pabrik pengolah TBS dalam hal ini, karena kejadian ini selalu terjadi pas menjelang lebaran,” lanjut Riki.
Ia mengatakan, sepanjang 2019 harga TBS kelapa sawit tidak kunjung membaik. Harga paling tinggi hanya Rp.1.100 per kilogram. “Naiknya lambat, namun anjoknya cepat dan ini terjadi dari tahun ke tahun,” tukas Riki.
Masyarakat berharap, pemerintah bisa menangani persoalan yang sudah menjadi lagu lama di tengah harga jual sawit di Pasaman Barat ini. (Ola)
















