Di sana lanjutnya, Pak Benua sebagai toke bibit menawarkan ikan besar. Setelah pembibitan di Padang Sidimpuan, kolamnya berada di Simpang Silandit dan Batu Nadua. Di sini penyedia kolam baru bersama Pak Forkas.
“Pemasaran mitra kerja berlanjut beredar ke Sipirok ke Gunung Tua, Pinang Sori arah Sibolga. Ini pemasaran perdana ikan Maninjau ke luar Provinsi Sumbar. Dari Gunung Tua berlanjut ke Langgar Payung ke Kota Pinang. Dengan nama toke Pak Bibah. Berkembang ke Rantau Perapat dengan dua orang toke sampai ke Kota Medan. Di sini ditampung oleh Kolam Pancing pemilik Thomas keturunan Tionghoa Medan,” jelasnya.
Azmid Nur sendiri mengaku, ia lah perintis yang perdana melakukan usaha dan menjual ikan secara perorangan ikan KJA. Pemasaran menembus ke Medan mencapai 10 truk perhari.
Baca Juga : Pelaku Pariwisata : KJA Tidak Menghalangi Kunjungan Turis Mancanegara
Melalui organisasi Muhammadiyah Cabang Tanjung Raya, di ketuai Pak Teja pada tahun 1987 bersama sekretarisnya Pak Amizal. Akan tetapi saat itu hanya bertahan dan berjalan tiga kali panen atau selama 1 tahun.
Seiring itu usaha perikanan dan pemasaran ikan KJA diikuti Naro di Sigiran dan Jon Pertiwi di Tanjung Alai. Surplai pakan ikan pertama bernama Sinta dengan agen tunggal Nusantara asal Thailand selaku DO atau agen utama yang pabrik di Jakarta.
“Kisah paling menantang atau paling berat diteror di jalan dengan tembakan senjata api dan dilempar batu di Pasar Tapus pulang dari Rao. Kondisi ini terpaksa meminta damping dari polisi setempat dari Polsek Panti selama dua tahun,” terangnya.
Azmid Nur Lahir di Batalion 131 Payakumbuh, Selasa 4 April 1951. Istrinya Nurkiam dan dikaruniai enam orang anak dan 18 orang cucu. (rud)
Halaman : 1 2
















