Agam, Prokabar — Miswardi, seorang penggiat aktif dan pelaku pariwisata di Kabupaten Agam, terutama di Objek Wisata Alam dan Penginapan Danau Maninjau mengutarakan curahan hatinya ke sejumlah pemerhati dan awak media di Kabupaten Agam, akhir pekan lalu (27/6). Ia membeberkan, rusaknya dunia pariwisata Danau Maninjau bukan disebabkan karena persoalan keramba jaring apung atau KJA.
“Sebenarnya itu alasan yang tidak tepat terjadinya penurunan kunjungan wisata ke Danau Maninjau. Banyak faktor sebenarnya yang lebih menonjol ketimbang usaha perikanan tersebut,” ungkapnya.
Pada tahun 1990-an itu, Keramba Jaring Apung sudah ada juga. Dan tidak pernah terjadi permasalahan sebenarnya. Selain faktor sosial budaya, memang peningkatan sumber daya manusia serta peningkatan sarana prasaranan juga menjadi faktor sesungguhnya.
“Alhamdulillah, kunjungan awal tahun 2020 lalu sudah terjadi peningkatan. Hanya saja karena pandemi Covid-19, sektor pariwisata di seluruh dunia berdampak. Jadi tidak hanya kita saja sekarang yang terdampak,” paparnya.
Sedangkan keramba jaring apung, saat ini menjadi sumber kehidupan masyarakat. Dan tidak bisa kita pungkiri, perputaran keuangan dan perekonomian yang berjalan saat ini, berkat KJA. “Kalau tidak ada KJA, mungkin merata seluruh masyarakat Selingkar Danau Maninjau mengalami kemiskinan dan kesengsaraan,” tuturnya.
“Hampir 80 persen masyarakat bisa memenuhi kebutuhan ekonominya berkat dari KJA,” terang Miswardi.
Ia melanjutkan sebagai pemandu turis asing, tamunya terutama dari Eropa sangat nyaman dan aman selama berkunjung ke Maninjau. Menikmati Danau Maninjau, perbukitan dan keindahan alam lainnya. “Saya setiap hari mandi di danau ini. Alhamdulillah, tidak ada gatal atau terganggu akibat pencemaran yang dimaksutkan banyak pihak itu. Dan itu tidaklah benar,” terangnya lagi.
Pada awal Januari hingga Maret 2020 lalu, kunjungan turis mulai naik lebih baik dari tahun sebelumnya. “Namun nasip dan keadaan tidak bisa berkehendak. Wabah Covid-19 kembali memperburuk dunia pariwisata kita. Dan kita harus kembali bangkit dan semangat, untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Danau Maninjau ini,” harapnya.
Untuk Kearifan Lokal, Tradisi, Kesenian dan Adat Istiadat sebenarnya menjadi unggulan dan pendorong kemajuan pariwisata. Termasuk wisata keramba jaring apung ini. Karena kita memiliki beragam keunikan. Termasuk kuliner Rinuak dan Bada. Hanya ada di Danau Maninjau.
Seluruh komponen masyarakar, Walinagari, Ninik Mamak dan Bundo Kanduang harus bersatu. Menyatukan persepsi dalam hal ini. “Mari kita menyusun rencana, membangkitkan perekonomian masyarakat Maninjau, kalau bisa seluruh masyarakat Kecamatan Tanjung Raya atau Salingka Danau Maninjau,” ajaknya. (rud)
















