Peranan Sosial Sumando Di Minangkabau

Penulis -

Senin, 16 Juli 2018 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia dengan Sistem Kekerabaran Matrilineal terbesar di Dunia. Mereka dengan budaya serta adat Istiadatnya melebur dengan Islam sebagai landasan pondasi untuk mengatur masyarakat berkehidupan dan berkeadilan sosial.

Hal tersebut dengan harapan kemanusian yang adil dan beradap serta persatuan dan kesatuan dapat terwujudkan diantara sesama Manusia.

Mereka mengatur strata sosial sesuai paham matrilineal yakni garis keturunan dan kesukuan kepada Ibu (pihak wanita). Di suatu kaum, Ibu menjadi Bundo Kanduang, Limpapeh Rumah Gadang. Idealnya, harta pusaka di Ranah Minang adalah milik kaum hawa tersebut.

Berbeda dengan peranan laki-laki. Bila di Rumah Gadang atau rumah kaum orang Tuanya, ia menjadi sosok Ninik Mamak (Paman) dari anak-anak saudara perempuannya. Dia adalah pelindung, penjaga, pembimbing dan pengayom anak kemenakan keluarga saparuik (keluarga satu ibu). Ia juga berkewajiban memelihara dan bahkan menambah harta pusaka milik kaumnya tersebut.

Bila laki-laki itu sudah menikah, maka seringkali ia hidup dan tinggal di rumah istri (rumah mertuanya). Di Ranah Minang disebut ia di panggil Sumando.

Sumando memiliki banyak kategori dan bentuk di Minangkabau. Tergambarkan berupa sifat yang dimiliki saat beradaptasi di keluarga istrinya. Seperti Sumando Kacang Miang, Sumando Lapiak Buruak (tikar buruk), Sumando Langau Hijau (Lalat Hijau) dan Samando Ninik Mamak.

Samando Kacang Miang merupakan sumando berprilaku buruk membuat rusuh, kacau dan sering mefitnah atau adu domba. Salah satu prilaku terburuk dalam pergaulan sosial masyarakat. Dan prilaku ini sangat dihindari dan dijauhkan dalam setiap manusia.

Samando Lapiak Buruak adalah laki-laki yang tinggal dirumahnya berprilaku gemar tidur dan berkurung dalam kamarnya saja. Sumando ini sangat enggan berkomunikasi dan bersosialisasi di tengah masyarakat.

Sumando Langau Hijau merupakan seorang minantu atau sumando yang sangat memiliki kepribadian kotor. Sangat kurang menjaga kebersihan dirinya maupun lingkungannya. Sehingga rentan berpenyakit baik dirinya sendiri maupun orang sekitarnya.

Sumando Ninik Mamak, inilah laki-laki sosok suami atau minantu ideal yang diharapkan setiap orang di Ranah Minang. Yaitu sumando yang memiliki sifat teladan, alim (taat beribadah) dan mampu menjaga rasa dan periksa (raso jo pareso) di keluarga istrinya, maupun dilingkungan tempat ia tinggal.

Sumando ini lebih banyak menjalin silahturahmi maupun beradaptasi, serta memberikan kontribusi positif kepada keluarga dan masyarakatnya. Selalu hadir di setiap kegiatan sosial masyarakat, baik kabar baik seperti acara pernikahan maupun kematian.

Contohnya saja di Nagari Maninjau, sumando sangat berperan aktif dari setiap kegiatan permasyarakatan. Saat kegiatan pernikahan di keluarga istrinya, ia berperan sebagai menyambut dan melayani tamu, mulai dari tamu datang, makan hingga kegiatan selesai.

Faisal Sutan Sinaro salah seorang samando suku Guci, di Jorong Bancah, Nagari Maninjau menyebutkan pada tradisi mandoa (berdoa) usai nikah di rumah mempelai laki-laki bertugas menyambut tamu, meminta orang masuk ke dalam rumah tuan rumah serta meminta orang atau makan dan bertambuh.

“Seorang sumando sangat penting perannya di tengah-tengah masyarakat. Peranannya tersebut seperti menyambut kedatangan dan meminta tamu untuk makan dan minum. Bila ia memiliki kemampuan akademisi serta seorang Ninik Mamak pula dikaumnya, ia akan menjadi suri tauladan, pemberi motivator bahkan pemberi solusi ditengah masyarakat,” ungkap Faisal.

Hingga saat ini lanjutnya, peranan sumando di Maninjau masih terus berlangsung dan berharap akan terus dipertahankan oleh seluruh komponen masyarakat. Ada juga sumando yang minim beradaptasi, kebanyakan disebabkan memiliki pekerjaan di luar daerah. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Konflik Adat Nagari Panampuang yang Melibatkan Nama Bupati Agam Benni Warlis
Resensi Buku : Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya 
Malewakan Gala Adat Datuak Bagindo Nan Kuniang, Dr. Rahyussalim Harap Jadi Jembatan Budaya Minang-Internasional
Malewakan Gala Sako Dr. dr. Rahyussalim Dt. Bagindo Nan Kuniang, Sejumlah Menteri Hingga Perwira Tinggi Bakal Hadir
Festival Sipak Rago 2025 Tarik Ribuan Warga di Sungai Bangek
Festival Nan Jombang Tgl3 Hadirkan Takbiran Meriah dari PUSAKOSAKTI MINANGKABAU
Geger Sepehi 1812: Kementerian HAM Dukung Penuh Repatriat Equity Claiming Aset Sri Sultan HB II
Ukir Sejarah, Tridaya Festival Libatkan Seluruh Pemuda Desa Borobudur Ciptakan Kerukunan

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Jejak Konflik Adat Nagari Panampuang yang Melibatkan Nama Bupati Agam Benni Warlis

Senin, 6 Juli 2026 - 11:48 WIB

Resensi Buku : Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya 

Minggu, 23 November 2025 - 05:32 WIB

Malewakan Gala Adat Datuak Bagindo Nan Kuniang, Dr. Rahyussalim Harap Jadi Jembatan Budaya Minang-Internasional

Jumat, 21 November 2025 - 07:34 WIB

Malewakan Gala Sako Dr. dr. Rahyussalim Dt. Bagindo Nan Kuniang, Sejumlah Menteri Hingga Perwira Tinggi Bakal Hadir

Sabtu, 12 Juli 2025 - 08:54 WIB

Festival Sipak Rago 2025 Tarik Ribuan Warga di Sungai Bangek

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB