Budaya

Peranan Sosial Sumando Di Minangkabau

Agam, Prokabar – Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia dengan Sistem Kekerabaran Matrilineal terbesar di Dunia. Mereka dengan budaya serta adat Istiadatnya melebur dengan Islam sebagai landasan pondasi untuk mengatur masyarakat berkehidupan dan berkeadilan sosial.

Hal tersebut dengan harapan kemanusian yang adil dan beradap serta persatuan dan kesatuan dapat terwujudkan diantara sesama Manusia.

Mereka mengatur strata sosial sesuai paham matrilineal yakni garis keturunan dan kesukuan kepada Ibu (pihak wanita). Di suatu kaum, Ibu menjadi Bundo Kanduang, Limpapeh Rumah Gadang. Idealnya, harta pusaka di Ranah Minang adalah milik kaum hawa tersebut.

Berbeda dengan peranan laki-laki. Bila di Rumah Gadang atau rumah kaum orang Tuanya, ia menjadi sosok Ninik Mamak (Paman) dari anak-anak saudara perempuannya. Dia adalah pelindung, penjaga, pembimbing dan pengayom anak kemenakan keluarga saparuik (keluarga satu ibu). Ia juga berkewajiban memelihara dan bahkan menambah harta pusaka milik kaumnya tersebut.

Bila laki-laki itu sudah menikah, maka seringkali ia hidup dan tinggal di rumah istri (rumah mertuanya). Di Ranah Minang disebut ia di panggil Sumando.

Sumando memiliki banyak kategori dan bentuk di Minangkabau. Tergambarkan berupa sifat yang dimiliki saat beradaptasi di keluarga istrinya. Seperti Sumando Kacang Miang, Sumando Lapiak Buruak (tikar buruk), Sumando Langau Hijau (Lalat Hijau) dan Samando Ninik Mamak.

Samando Kacang Miang merupakan sumando berprilaku buruk membuat rusuh, kacau dan sering mefitnah atau adu domba. Salah satu prilaku terburuk dalam pergaulan sosial masyarakat. Dan prilaku ini sangat dihindari dan dijauhkan dalam setiap manusia.

Samando Lapiak Buruak adalah laki-laki yang tinggal dirumahnya berprilaku gemar tidur dan berkurung dalam kamarnya saja. Sumando ini sangat enggan berkomunikasi dan bersosialisasi di tengah masyarakat.

Sumando Langau Hijau merupakan seorang minantu atau sumando yang sangat memiliki kepribadian kotor. Sangat kurang menjaga kebersihan dirinya maupun lingkungannya. Sehingga rentan berpenyakit baik dirinya sendiri maupun orang sekitarnya.

Sumando Ninik Mamak, inilah laki-laki sosok suami atau minantu ideal yang diharapkan setiap orang di Ranah Minang. Yaitu sumando yang memiliki sifat teladan, alim (taat beribadah) dan mampu menjaga rasa dan periksa (raso jo pareso) di keluarga istrinya, maupun dilingkungan tempat ia tinggal.

Sumando ini lebih banyak menjalin silahturahmi maupun beradaptasi, serta memberikan kontribusi positif kepada keluarga dan masyarakatnya. Selalu hadir di setiap kegiatan sosial masyarakat, baik kabar baik seperti acara pernikahan maupun kematian.

Contohnya saja di Nagari Maninjau, sumando sangat berperan aktif dari setiap kegiatan permasyarakatan. Saat kegiatan pernikahan di keluarga istrinya, ia berperan sebagai menyambut dan melayani tamu, mulai dari tamu datang, makan hingga kegiatan selesai.

Faisal Sutan Sinaro salah seorang samando suku Guci, di Jorong Bancah, Nagari Maninjau menyebutkan pada tradisi mandoa (berdoa) usai nikah di rumah mempelai laki-laki bertugas menyambut tamu, meminta orang masuk ke dalam rumah tuan rumah serta meminta orang atau makan dan bertambuh.

“Seorang sumando sangat penting perannya di tengah-tengah masyarakat. Peranannya tersebut seperti menyambut kedatangan dan meminta tamu untuk makan dan minum. Bila ia memiliki kemampuan akademisi serta seorang Ninik Mamak pula dikaumnya, ia akan menjadi suri tauladan, pemberi motivator bahkan pemberi solusi ditengah masyarakat,” ungkap Faisal.

Hingga saat ini lanjutnya, peranan sumando di Maninjau masih terus berlangsung dan berharap akan terus dipertahankan oleh seluruh komponen masyarakat. Ada juga sumando yang minim beradaptasi, kebanyakan disebabkan memiliki pekerjaan di luar daerah. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top