Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Pendidikan Surau dan Konsistensi Orang Minangkabau terhadap Eksistensi Budaya

Dibaca : 246

Oleh: Rudi Yudistira, S.S.

 

Agam, Prokabar — Lahirnya tokoh-tokoh Minangkabau hingga menjadi The Founding Fathers (https://prokabar.com/elang-laut-itu-bernama-minangkabau/), berakar kehidupan budaya nan elok. Mereka lahir dari pola didikan yang unik dan berkarakter. Mohammad Hatta, Sutan Sjahril dan Tan Malaka. Disusul Buya Hamka, Rasuna Said, Rohana Kudus dan lainnya. Mereka terlahir dari sejarah nenek moyang berupa Pendidikan Surau.

Tentu zaman tempo dulu itu, hampir tidak mungkin persis diadopsi kecuali melakukan transformasi dengan pola zaman ke kinian. Buya Mas’oed Abidin menjelaskan Pendidikan Surau masih sangat relevan dengan zaman modren saat ini. (https://prokabar.com/surau-masih-relevankah-buat-anak-milenial-ini-jawaban-buya-masoed-abidin/).

“Surau adalah Pusat Pendidikan Formal dan Informal. Ketika kita sudah masuk ke dalam klasikal (klasik) modren, maka terbagilah pendidikan kita formal dan informal,” terangnya. Formal masuk ke bangku sekolah. Informal disuruh dalam halaqah, lanjutnya.

Ia menerangkan, Ini kesalahan pendidikan budaya. Padahal pendidikan surau itu adalah pendidikan kolektif. “Yang diajarkan di sana ilmu, sikap, watak dan pergaulan,” terang Ulama Kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam tersebut.

Dibangku sekolah yang dipelajari hanya pelajaran ilmu. Soal pelajaran berakhlak sangatlah sedikit sekali.

Orang minang ini terlalu naif mencampakan pendidikan komunitasnya. Pendidikan formal menjadi informal, akhirnya lahir orang berilmu tidak berakhlak atau orang berakhlak tidak berilmu. Keduanya salah.

“Itukan saisuak buya? Io, nan saisuaik itu masih bisa dipakai kini,” jelasnya.

Dalam pendidikan surau yang dipakai bahasa-bahasa yang dimengerti oleh orang banyak. Karena itu berada di Minangkabau, maka sub pengantarnya digunakan Bahasa Minangkabau. Akan tetapi mereka bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan Bahasa Belanda. Mereka pandai juga berbahasa holand meski sedikit-sedikit.

Di surau itu ada lapangan tempat bermain Rago. Itulah asal kata Olahraga diserap dari kata “Rago”, sejenis permainan anak nagari seperti sepak takraw melingkar.

“Surau itu juga diajarkan segala sikap. Bagaimana bersikap nan baik dan bagaimana bersikap nan indak baik. Bagaimana anak kecil berbicara dengan orang lebih tua, bagaimana anak kecil berbicara kepada anak yang lebih kecil. Bagaimana kita anak kecil, berbicara kepada guru. Sekarangkan tidak, agak keras guru sedikit bertinju. Tidak dapat ditinju dalam kelas di lua kelas. Itu karena pendidikan komunitas hilang. Ini persoalan kita sekarang,” ungkapnya.

“Bisakah pendidikan komunitas (Surau) ini masuk ke pendidikan sekarang? Bisa!,” tegas Ulama kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam ini. Universitas Negeri Padang sudah memulainnya.

Dari landasan itulah Pemuda Sungai Batang mencoba merintis pergerakannya, mengadosi pendidikan surau. Sekelompok pemuda menamakan dirinya Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) Tanjung Raya, menggagas Program Pendidikan Surau di Masjid Inyiak DR.

Berkat dukungan penuh Camat Tanjung Raya, Handria Asmi dan Jajaran beserta Pemerintahan Nagari Sungai Batang, Walijorong Batung Panjang dan Ketua Nagari Madaninya, program tersebut berjalan sukses sebagai pelopor “Mambangkik Batang Tarandam” pendidikan tersebut.

Hebatnya, seluruh masyarakat seperti ibu-ibu (Bundo Kandung) setempat bersemangat membantu dengan membungkuskan nasi sebagai konsumsi kebutuhan setiap kegiatan itu. Menunjukan partisipasi serius dalam semangat gotong royongnya masyarakat Minangkabau.

Mungkin masih terlaksana secara sederhana, terbatas ruang dan waktu. Berhubungan juga dengan pandemi covid-19 yang masih berlangsung. Tahap awal ini dimulai dari 30 orang Pelajar MTsS Muhammadiyah Sungai Batang, kebetulan berada di Kampung Kelahiran Buya Hamka Ini.

Angku Yus Bandaro Bodi dan Sosok Buya Hamka.

Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam memiliki latar belakang sejarah lahirnya para ulama Pembaharuan di Ranah Minang. Di awali sosok Tuanku Piaman kemudian lahir Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai. Generasi berlanjut melahirkan DR. Abdul Karim Amrullah atau lebih dikenal Inyiak Rasul (Inyiak DR). Hingga regenerasi berlanjut dengan kehadiran sosok Buya Hamka.

Di sini juga Angku Yus Bandaro Bodi (Angku Yus Datuak Parpatih Guguak) Budayawan yang terkenal dengan “Pitaruah Ayah”. Berkarya melalui gurindam memberikan nasihat kepada generasi muda melalui media kaset dan video. Memanfatkan media publikasi, agar pembinaan karekter muda dapat tercapai, meski tidak berjumpa langsung dengan Anak muda-mudi.

“Pada 12 Desember 2020 ini, saya sudah bisa menyebutnya hari Kebangkitan Pemuda Sungai Batang. Beragam pergerakan telah dicetus dan membanggakan. Saya kagum dengan pergerakan ini,” Angku Yus Bandaro Bodi).

Dulunya, tepat saya berada di sini. Di depan halaman ini, Komplek Masjid Syekh Muhammad Amrullah ini terdapat Surau dan pemondokan murid-murid Syekh Muhammad Amrullah dan DR. H. Abdul Karim Amrullah.

Terbayangkan, dulunya di sini terdapat sebuah pemukiman atau pemondokan berupa Surau. Namun sangat disayangkan kini, hampir tidak ada lagi jejak sejarah kecuali menyisakan Makam Ulama, Kutubchanah dan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Tikam jejak hanya bisa dikupas dari Buku “Ayahku” karangan Buya Hamka serta beberapa catatan sejarah lainnya, serta sedikit peninggalan manuskrip yang masih tersisa di sana.

Buya Hamka besar di luar sana. Di kampung halamannya sendiri, tidak terlalu aktif karena banyak persoalan dulunya. Sekarang sekelompok pemuda ingin membangkitkan sosok beliau agar dapat menyerap keteladanan yang dimiliki Buya Hamka dan Inyiak Rasul.

Kelompok pemuda itu memulai dari catatan itu, dibantu sejumlah tokoh alim ulama dan ninik mamak yang masih memiliki ingatan tentang adanya Surau beserta Sejarah Ulama Pembaharuan dari Sungai Batang tersebut.

Artinya, masih ada kesempatan untuk kembali memulainya. Membangkitkan nilai kultur budaya yang hampir punah terkikis globalisasi. Generasi saat ini hanya sibuk dengan android dengan beragam dampak negatif. Menjauhkan mereka dari karakter dan jati diri budayanya sendiri.

Kondisi buruk itu akan semakin parah pada 10 tahun mendatang. Seorang Bapak yang sudah banyak tidak memahami Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Termasuk Kato Nan Ampek dan Adat Nan Ampek. Nilai-nilai kesopanan dan etika bermasyarakat, hanya didapat melalui pendidikan Surau sejatinya dipelajari secara stuktur pendidikan non formal.

Pendidikan Surau masih bisa dibangun dengan kesepakatan dan keseriusan Pemerintah Daerah, Pemerintah Nagari duduk semeja dengan Alim Ulama, Ninik Mamak, Bundo Kanduang bersama Pemuda-pemudi yang memiliki inovasi dan kreatifitas berkemajuan berbudaya Minangkabau. (***)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top