Elang Laut Itu Bernama Minangkabau

Penulis -

Sabtu, 7 September 2019 - 22:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Minangkabau adalah elang lautnya Indonesia. Kala terbang dan melayang, indahnya memukau.
Inilah suku bangsa kecil, yang peran putra-putrinya luar biasa besarnya bagi Indonesia merdeka.

Menurut Harry Poetze, sejarawan Belanda penulis Biografi Tan Malaka, sebagaimana dikutip Hasril Chaniago, ada tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Tiga di antara mereka adalah orang Minang: Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka –empat lainnya Soekarno, Sudirman, Amir Sjarifuddin, dan A.H. Nasution. Bahkan, dua di antara Triumvirat di puncak piramid The Founding Fathers (Bapak Bangsa) Indonesia –Soekarno, Hatta, Sjahrir— dua adalah orang Minang.

Ini belum termasuk fasilitator dan penghubung dengan yang menjinakkan Jepang, Dahlan Abdullah. Walikota Jakarta ini, menurut budayawan Ridwan Saidi, peran Dahlan sangat kuat dan besar. Tokoh ini hadir dan berada di pentas saat pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Nama dan fotonya justru tak muncul.

Baca Juga :  Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Di dunia sastra, 9 dari 15 pengarangnya di zaman kemerdekaan, adalah putra Minang.

Demikian juga di dunia perfilaman dan ekonomi. Peran besar itu sampai hari ini jadi kebangaan.

Kini elang laut itu kemana?

Kini, negeri terus berkembang, tokoh Minang hebat, diam dalam hiruk-pikuk nasional. Maka hiruk itu dikuasai oleh tokoh lain. Bahkan belakangan, untuk lagu-lagu nasional saat HUT RI di Istana Negara, sudah tak terdengar lagi lagu, “Ayam Den Lapeh.”

Ini bukan sekali dua, namun setidaknya sudah tiga tahun.

Baca Juga :  Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Selain itu, peran Minang kian melorot dalam persepakbolaan. PSP sudah tenggelam, eks klub Galatama, Semen Padang FC, sekarang sedang berjuang mati-matian di papan bawah klasemen Liga 1.

Elang laut itu kini sedang hinggap di puncak kayu di bukit yang rindang, bersiap-siap terbang, merobek awang-awang di atas teluk yang bergemuruh.
Anak-anak mudanya yang milenial itu, 5 atau 10 tahun dari sekarang, akan muncul di pentas nasional. Mereka dari berbagai bidang.

Kenapa bisa begitu? Karena di secara nasional identitas itu ternyata penting. Kalau bagi dia tak perlu, bagi orang lain justru penting. Masa depan itu telah menunggu. Minangkabau yang sekarang seolah sedang kalah, sesungguhnya justru sudah bersiap-siap di garis start.

Baca Juga :  Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Lengang

Memang sekarang, Sementara itu, Sumatera Barat sepi. Bandara tak ramai lagi. Jauh sebelunya jalan kereta api ditutup dan mobil kian banyak. Akibatnya jarak pendek Padang – Bukittinggi yang 2 jam tempuh, kini naik jadi 3 jam atau lebih.

Kunjungan wisata sepi. Bukittinggi ramai oleh orang Riau saja di akhir pekan. Ini akan membuat Bukittinggi akan semakin penting.

Peran sentral Bukittinggi itu, beringsut secara alamiah.

Maka elang laut itu akan melintasi bukit dan gunung, 5 atau 10 tahun dari sekarang. Ketika itulah, posisi prokabar, media yang Anda baca ini, akan jadi saksi kehebatan itu. (nrs)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh
Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Berita Terbaru