Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Elang Laut Itu Bernama Minangkabau

Dibaca : 699

Minangkabau adalah elang lautnya Indonesia. Kala terbang dan melayang, indahnya memukau.
Inilah suku bangsa kecil, yang peran putra-putrinya luar biasa besarnya bagi Indonesia merdeka.

Menurut Harry Poetze, sejarawan Belanda penulis Biografi Tan Malaka, sebagaimana dikutip Hasril Chaniago, ada tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Tiga di antara mereka adalah orang Minang: Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka –empat lainnya Soekarno, Sudirman, Amir Sjarifuddin, dan A.H. Nasution. Bahkan, dua di antara Triumvirat di puncak piramid The Founding Fathers (Bapak Bangsa) Indonesia –Soekarno, Hatta, Sjahrir— dua adalah orang Minang.

Ini belum termasuk fasilitator dan penghubung dengan yang menjinakkan Jepang, Dahlan Abdullah. Walikota Jakarta ini, menurut budayawan Ridwan Saidi, peran Dahlan sangat kuat dan besar. Tokoh ini hadir dan berada di pentas saat pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Nama dan fotonya justru tak muncul.

Di dunia sastra, 9 dari 15 pengarangnya di zaman kemerdekaan, adalah putra Minang.

Demikian juga di dunia perfilaman dan ekonomi. Peran besar itu sampai hari ini jadi kebangaan.

Kini elang laut itu kemana?

Kini, negeri terus berkembang, tokoh Minang hebat, diam dalam hiruk-pikuk nasional. Maka hiruk itu dikuasai oleh tokoh lain. Bahkan belakangan, untuk lagu-lagu nasional saat HUT RI di Istana Negara, sudah tak terdengar lagi lagu, “Ayam Den Lapeh.”

Ini bukan sekali dua, namun setidaknya sudah tiga tahun.

Selain itu, peran Minang kian melorot dalam persepakbolaan. PSP sudah tenggelam, eks klub Galatama, Semen Padang FC, sekarang sedang berjuang mati-matian di papan bawah klasemen Liga 1.

Elang laut itu kini sedang hinggap di puncak kayu di bukit yang rindang, bersiap-siap terbang, merobek awang-awang di atas teluk yang bergemuruh.
Anak-anak mudanya yang milenial itu, 5 atau 10 tahun dari sekarang, akan muncul di pentas nasional. Mereka dari berbagai bidang.

Kenapa bisa begitu? Karena di secara nasional identitas itu ternyata penting. Kalau bagi dia tak perlu, bagi orang lain justru penting. Masa depan itu telah menunggu. Minangkabau yang sekarang seolah sedang kalah, sesungguhnya justru sudah bersiap-siap di garis start.

Lengang

Memang sekarang, Sementara itu, Sumatera Barat sepi. Bandara tak ramai lagi. Jauh sebelunya jalan kereta api ditutup dan mobil kian banyak. Akibatnya jarak pendek Padang – Bukittinggi yang 2 jam tempuh, kini naik jadi 3 jam atau lebih.

Kunjungan wisata sepi. Bukittinggi ramai oleh orang Riau saja di akhir pekan. Ini akan membuat Bukittinggi akan semakin penting.

Peran sentral Bukittinggi itu, beringsut secara alamiah.

Maka elang laut itu akan melintasi bukit dan gunung, 5 atau 10 tahun dari sekarang. Ketika itulah, posisi prokabar, media yang Anda baca ini, akan jadi saksi kehebatan itu. (nrs)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top