Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur

Penulis -

Minggu, 12 Mei 2019 - 13:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Rasul atau Inyiak Doktor, dipanggil juga Inyiak D-R maupun Haka (Haji Abdul Karim Amrullah) lebih dulu berjumpa K.H. Ahmad Dahlan. Dan menyiarkan Muhammadiyah dengan membuka Kantor Cabang Muhammadiyah pertama di Sumatra dan pertama di luar Jawa tahun 1925. Kantor tersebut kini sudah berubah fungsi menjadi gedung MTSS Muhammadiyah Sungai Batang, berdekatan dengan Khutubcanah miliknya.

Paham ini pun berkembang di Padang Panjang, saat Haka menjadi tenaga pendidik di Diniyah Putri, oleh Rahma El Yunusia. Selanjutnya, perjuangan tersebut dilanjutkan Ahmad Rasyid Sutan Mansur, adik ipar dari Haka.

A.R Sutan Mansur lahir di Maninjau, 15 Desember 1895. Mendapat pendidikan formal seperti Tweede Class School (Sekolah Kelas Dua) tahun 1902 hingga 1909. Melanjutkan pendidikan ke Kweekschool atau sekolah guru di Bukittinggi. Cita-citanya ingin ke melanjutkan pendidikan ke Mesir, diawali belajar kepada HAKA di Padang Panjang.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Saat berhimpun di perkumpulan Sumatra Thawalib, Sutan Mansur dipercaya menjadi guru di Kuala Simpang, Aceh selama dua tahun. Karena cita-cita melanjutkan sekolah ke Mesir gagal, ia pun merantau ke Pekalongan,  pada 1920. Dan pada 1922 berjumpa dengan K.H. Ahmad Dahlan dan tertarik bergabung dengan Muhammadiyah. Hal tersebut karena kepribadian lembut, rendah hati dan bersahajanya pendiri Muhammadiyah dalam menjelaskan persoalan agama.

Rumah Kutubchanah. Foto : RUD/Prokabar

Pada 1923, Sutan Mansur menjadi guru dan mubaliq Muhammadiyah dan mendapat murid bangsawan Jawa seperti R. Ranuwiharto, R. Tjitrosoewarno, R. Oesman Poedjoetomo, keturunan arab dan perantau Minang di Pekalongan. 1925, ia kembali ke kampong halaman sebagai mubaliq Muhammadiyah, melanjutkan perjuangan Haka.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Sebagai Mubaliq Muhammadiyah tingkat Pusat, A.R Sutan Mansur ditugaskan tabliq keliling ke Medan, Aceh, Mentawai, Bengkulu serta Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan dan Kalimantan (Banjarmasin, Amuntai dan Kuala Kapuas). Tahun 1931, Sutan Mansur dipilih menjadi Konsul Muhammadiyah untuk wilayah Sumatra Barat hingga 1944 dan terpilih menjadi imam Muhammadiyah Sumatra.

Makam Haka dan Yusug Amrullah disertai Katalog sejarahnya. Foto : RUD/Prokabar

Pada Kongres Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto tahun 1953, ia terpilih menjadi Ketua Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah dan berlanjut Kongres ke-33 di Yogyakarta kembali terpilih menjadi Ketua PP Muhammadiayah. Pada tahun 1962, kongres ke-35 di Yogyakarta, A.R Sutan Mansur diangkat menjadi Penasehat PP Muhammadiyah hingga 1980. Beliau wafat pada 25 Maret 1985 pada umur 89 tahun di Jakarta.    

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Kondisi Sejarah Yang Terabaikan

Sejarah lahirnya Organisasi Islam terkemuka di NKRI ini di Sungai Batang itu seakan-akan luput dari ingatan dari semua pihak. Terutama dari tokoh pembesar dari Muhammadiyah itu sendiri. Kita lihat saja bagaimana Kantor Cabang Muhammadiyah Pertama di Sumatra itu sendiri tidak berbekas meninggalkan jejak sedikitpun. Sebagian Tokoh masyarakat setempat menyebut, kantor itu sudah digantikan gedung MTsS Muhammadiya, namun kantor tersebut hendaknya meninggalkan bukti sejarah (bukti fisik) bahwa Lahirnya Muhammadiyah di Sumatra itu, berada di Tapian Muaro Pauah, Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Lanjut Halaman 3 >>

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB